Jumat, 17 April 2026

Tak Hanya Punya 'Gajah Oleng', Banyuwangi Ternyata Kaya Bahan Alami Batik

Banyak yang belum menyadari, jika batik buatan mereka bisa mahal harganya.

Editor: Wahid Nurdin
SURYA/HAORAHMAN
Ibu-ibu rumah tangga di Desa Singolatren, Kecamatan Singojuruh, Kabupaten Banyuwangi, mendapat pelatihan menulis batik dengan bahan-bahan pewarna alami. 

TRIBUNNEWS.COM, BANYUWANGI - Batik tulis Banyuwangi memiliki potensi pasar yang menarik. Batik bermotif Gajah Oleng itu kini mulai banyak diminati. Banyak ibu-ibu rumah tangga yang mulai tertarik untuk membatik.

Seperti Ibu-ibu rumah tangga di Desa Singolatren, Kecamatan Singojuruh, Kabupaten Banyuwangi, mendapat pelatihan menulis batik dengan bahan-bahan pewarna alami.

Banyak yang belum menyadari, jika batik buatan mereka bisa mahal harganya.

"Saya bisa menaksir, batik tulis di sini harganya minimal Rp 1,7 juta jika dipasarkan di kelas nasional," kata Gamal Biya, Intstruktur dari Kementerian Perindustrian, yang memberikan pelatihan, selama satu minggu, sejak 21 hingga 28 April.

Gamal mengatakan, di Banyuwangi memiliki potensi bahan-bahan pewarna alami yang mudah didapat. Namun banyak yang belum mengetahui.

"Saya tadi sempat keliling di desa ini, banyak tumbuhan-tumbuhan yang bisa dijadikan zat pewarna alami batik. Jadi tidak butuh modal besar," kata pria yang juga Anggota Balai Besar Kerajinan dan Batik Yogyakarta itu.

Seperti getah pohon indigo mirip pohon perdu, jalawe, tegeran, jambal yang bisa dijadikan zat berwarna, banyak tumbuh liar di sekitar rumah warga.

Apabila dibudidayakan, bisa menjadi komoditas ekonomi tersendiri.

Bahkan warna biru dari pohon indigo merupakan warna yang paling banyak diminati di pasar nasional dan internasional.

Getah pohon indigo direduksi dulu. Setelah itu ranting dan daun direndam selama 48 jam.

Buang rantingnya, residunya diolah lagi dengan dicampur gamping hinga terjadi endapan.

Buang airnya, sedangkan kristalnya diambil jadi pasta indigo. Direduksi lagi pakai gula jawa ditambah air dan diendapkan selama empat hari.

Gama mengatakan, saat ini untuk produksi batik disarankan menggunakan zat pewarna alami, bukan lagi sintetis. Ini agar batik-batik itu bisa diterima di dunia internasional.

"Sekarang banyak negara, seperti Eropa dan Amerika, tidak menerima pakaian yang berbahan sintesis. Padahal sebenarnya bahan-bahan sintesis itu dari mereka. Di Indonesia diolah menjadi pakaian, tapi mereka tidak mau menerima," kata Gama.‎

Karena itu, menurut Gama, batik Indonesia harus back to nature. Apalagi, Indonesia memiliki banyak sumber daya alam itu. Bahkan tidak jauh dari rumah.

Sumber: Surya
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved