Senin, 8 Juni 2026

Delapan Hari Jual Batik Raup Untung 80 Juta

Suasana Atrium Tunjungan Plaza 1, mulai tanggal 2 hingga 15 Mei 2016, terlihat berbeda.

Tayang:
Penulis: Monica Felicitas
Editor: Sugiyarto
SURYA/ monica felicitas
Ika saat melayani pembelinya yang mencari batik tulis khas Yogyakarta di Atrium Tunjungan Plaza 1, Senin (9/5/2016). 

TRIBUNNEWS.COM,  SURABAYA - Suasana Atrium Tunjungan Plaza 1, mulai tanggal 2 hingga 15 Mei 2016, terlihat berbeda.

Hal tersebut karena arena pameran ini disulap menjadi pameran, bertajuk 'Pesona Batik Indonesia', yang terdiri dari puluhan stand memadati arena pameran, menjual kain dan pakaian berbagai motif batik yang ada di Indonesia.

Rima (45) seorang wanita pengusaha pakaian batik bermotif merak terlihat mengamati salah satu stand 'Batik Hadi Poerwanto', bertempat di sisi paling depan pintu masuk pameran, milik Ika Sutransati (40) yang batik tulisnya ini merupakan asli produk Yogyakarta.

Sesaat sampai di stand milik Ika, Rima langsung mengambil kain bermotif batik tulis berwarna hitam, bermotif naga.

"Saya ambil dua ya, jangan mahal-mahal," ujarnya kepada Ika yang langsung mengambilkan papperbag untuk barang belanjaan Rima.

Rima mengaku, ia adalah kolektor batik. Semua pakaiannya didominasi oleh kain batik, dengan menyadur model pakaian dari majalah internasional untuk dijahit sendiri.

Ika menceritakan, Batik Hadi Poerwanto miliknya merupakan spesialis batik tulis, yang memiliki galeri bertempat Jl Kaliurang KM 19 Yogjakarta.

"Kalau di galeri saya, menyediakan Dress, setelan batik tulis,yang modelnya sudah di sesuaikan dengan kemodernan jaman."

"Di Surabaya peminat batik macam-macam, mulai pemilihan motif dan warna, antusiasme disini lebih tinggi daripada di Yogyakarta," pungkasnya.

Dari hal tersebut Ika mengaku sering mengikuti pameran di Surabaya hampir dua minggu sekali.

"Dua minggu di Surabaya, dua minggu di Yogyakarta. Biasanya di Royal Mall dan Pakuwon Trade Center," katanya.

Untuk batik karya industrinya, yang memiliki peminat terbanyak, ada pada batik cap motif Sogan, yang merupakan dominasi warna gelap.

Karena baginya warna yang dihasilkan nantinya semakin tahun semakin matang.

"Karena ini etnik, di Surabaya suka warna nyala dan berani main warna. Batiknya kami bikin sendiri, disini paling banyak peminatnya ada pada pembelian kain batik, dan baju yang modelnya aneh-aneh.Yang paling mahal kami menjual kemeja pria seharga Rp 3.000.000,00 berbahan sutra tulis," terangnya kepada Surya.

Pada galerinya yang mengikuti pameran ini, pakaian yang ditawarkan dibanderol harga mulai Rp 100.000,00 hingga Rp 3.000,000,00 dan untuk kain batik dimulai dari harga Rp 50.000,00.

Sumber: Surya
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved