Jumat, 8 Mei 2026

Kisah Arifin, Kepala Desa Bantilang Berpenghasilan Rp 1,4 Miliar Per Tahun

Kepala Desa Bantilang, Kecamatan Towuti, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Arifin berpenghasilan Rp 1,4 miliar per tahun.

Tayang:
Editor: Dewi Agustina
Tribun Timur/Ivan Ismar
Kepala Desa Bantilang, Kecamatan Towuti, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Arifin berpenghasilan Rp 1,4 miliar per tahun. 

Menuju lima desa ini, warga harus menyeberang menggunakan kapal motor jenis rap dari dermaga Desa Timampu Kecamatan Towuti menuju dermaga Desa Bantilang dengan waktu tempuh selama 1,5 jam.

Lima desa ini mampu menyerap tenaga kerja setiap tahun dari luar Sulawesi Selatan, di antaranya warga dari Kendari, Kupang, Palu, untuk lokalan berasal dari Kabupaten Luwu dan Luwu Utara.

Pekerja laki-laki dan wanita digaji perhari Rp 70.000 untuk memetik merica saat panen berlangsung atau bertugas merawat dan memupuk pohon merica.

Khusus di Desa Bantilang, ada 405 Kepala Keluarga yang memiliki kebun merica. Beberapa KK di antaranya menyerap tenaga kerja 30 sampai 40 orang.

Selain itu, mahasiswa-mahasiswi asal lima desa sebagian kecil hanya diberikan karung berisi merica ketika akan berangkat kuliah di Kota Palopo atau Makassar.

Hal tersebut dibenarkan Kepala Desa Bantilang, Arifin.

"Betul itu, cuma bawa karung berisi merica ke daerah tempat kuliah, bahkan ada orang tua menyuruh anaknya jual merica di Makassar," kata Arifin.

"Hasil jualan merica kemudian disimpan di rekening anaknya, bahkan ada mahasiswa isi rekeningnya Rp 1 M lebih," ujarnya.

Arifin mengetahui hal tersebut ketika mengobrol dengan salah seorang warga yang anaknya kuliah di Kota Palopo, orangtua mahasiswa menceritakan hal tersebut.

Bahkan beberapa orang tua mahasiswa tidak tahu anak mereka kuliah dimana, karena pengaruh fokus terhadap bertani merica.

"Iya, ada orang tua tidak tahu anaknya dimana kuliah, padahal ada kuliah di Universitas Indonesia (UI), di Surabaya, ada juga sekolah di Solo," papar Arifin.

Namun, warga lima desa ini resah dengan pasokan listrik PLN. Setiap hari, hanya menikmati pasokan listrik PLN kurang dari 12 Jam, secara bergiliran.

Listrik mengaliri rumah warga dimulai pukul 17.00 Wita hingga 05.30 Wita. Diluar dari waktu itu, listrik sudah dipadamkan oleh petugas PLN.

Salah seorang warga Desa Bantilang, Aliyas mengaku resah dengan listrik PLN, apalagi pegawai PLN datang menagih hanya menggunakan kwitansi pembayaran tanpa disertai struk pemakaian listrik selama sebulan.

Dia mengaku pernah membayar Rp 600 ribu perbulan tanpa tanpa puas menikmati listrik.

"Hanya kwitansi saja pak, tidak ada data pemakaian perbulan. Terpaksa kami bayar saja," kata Aliyas.

Ada empat mesin Pembangkit Listrik Tenaga Diesel di Desa Loeha, hanya tiga yang masih beroperasi untuk mengaliri listrik bagi warga di lima desa ini.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved