Jumat, 10 April 2026

Petani Tembakau di Bantul Sambut Kenaikan Harga Cukai Tembakau

Sejumlah petani tembakau di kawasan Desa Selopamioro, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul menyambut baik rencana pemerintah menaikkan cukai tembAKAU

Editor: Sugiyarto
Istimewa
ILUSTRASI 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Agung Ismiyanto

TRIBUNNEWS.COM, BANTUL - Sejumlah petani tembakau di kawasan Desa Selopamioro, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul menyambut baik rencana pemerintah untuk menaikkan cukai tembakau.

Mereka menyebut jika ada kenaikan cukai tembakau ini justru akan mendongkrak harga tembakau lokal bernama Siluk.

Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia, Kabupaten Bantul, Sukro Nur Harjono menjelaskan, dengan naiknya harga rokok pabrikan, maka konsumen nantinya akan memilih tembakau lintingan atau linting dewe (tingwe).

Hal inilah yang disebut Sukro bisa mendongkrat penjualan tembakau lokal Bantul.

“Kami justru diuntungkan dengan rencana ini,” ujarnya di sela-sela acara pemberian sertifikat tanah lahan tembakau di Balai Desa Selopamioro, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Kamis (22/9/2016).

Dia menyebutkan, harga tembakau siluk rajangan lembut pun saat ini meningkat tajam dari Rp 50 ribu menjadi Rp 100 ribu per kilogramnya. Tembakau rajangan lembut inilah yang biasanya kerap dipergunakan untuk membuat rokok tingwe.

Kenaikan harga ini terjadi pada bulan Agustus silam. Dia menyebutkan, kenaikan harga rajangan halus ini bisa diasumsikan dengan meningkatnya harga tembakau untuk tingwe.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dispertanhut) Pemkab Bantul, Pulung Haryadi mengatakan pihaknya cukup berharap dengan rencana kenaikan harga cukai oleh pemerintah berdampak positif bagi petani tembakau di Kabupaten Bantul ini. Utamanya untuk mendongkrak harga tembakau Siluk.

“Kami harap memang dengan kenaikan harga cukai tembakau akan mendongkrak harga tembakau. Saat ini saja, harga tembakau rajang kering cukup tinggi, yakni mencapai Rp 80 ribu dari Rp 50 ribu,” ulasnya.

Dia juga menambahkan, saat ini memang terjadi penurunan drastis luasan lahan tembakau di Bantul dari 1200 an hektar menjadi sekitar 300 an hektar lahan tembakau. Pasalnya, banyak petani yang beralih menanam tanaman palawija agar tidak merugi. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved