Kisah Berliku Azis Hingga Sukses Raih Pesanan Kapal Nelayan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan
Ketekunan dan keuletan merupakan salah satu syarat yang harus dimiliki oleh seseorang untuk meraih kesuksesan dalam hidup.
Editor:
Sugiyarto
TRIBUNNEWS.COM, SUMENEP - Ketekunan dan keuletan merupakan salah satu syarat yang harus dimiliki oleh seseorang untuk meraih kesuksesan dalam hidup.
Jika semua usaha itu telah dilakukan, tentu takkan pernah ada kata putus asa, tetap bekerja dan bekerja, hingga sukses dapat diraih dan kesuksesan yang impikan akhirnya terwujud.
Itulah mungkin yang mendasari Azis Syalim Syabibie, seorang putra kepulauan yang berkutat dengan usaha pembuatan perahu.
Mulai dari perahu kayu kecil untuk memancing, perahu besar untuk nelayan, perahu angkutan antara pulau, hingga sukses membuat kapal nelayan dari fiber pesanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI.
"Sudah banyak jalan hidup yang saya lalui. Mulai saya pernah menjadi TKI, jadi pembuat perahu klotok atau perahu jukong, lalu bisa buat kapal kayu, hingga akhirnya saya mencoba membuat kapal dengan fiber," kata Azis, asal Pulau Kangean, Sumenep ini kepada Surya (TRIBUNnews.com Network).
Diceritakan, sekitar tahun 2000-an, Azis baru saja pulang dari menjadi TKI di Malaysia. Lalu kemudian mengumpulkan nelayan di daerah tempat tinggalnya di Pulau Kangean, membuat perahu kayu untuk kebutuhan mereka melaut mencari ikan.
Karena selama ini warga setempat membeli dan memesan perahu dari daerah lain, seperti dari Sulawesi Selatan.
"Sukses membuat perahu kecil atau yang dikenal dengan perahu jukong, lalu kami bersama teman-teman sesama mantan TKI yang pernah bekerja di Malaysia, membuat perahu yang lebih besar ukuran 10 sampai 20 Gt," kisah Azis yang saat ini masih berumur 41 tahun kepada Surya (TRIBUNnews.com Network).
Dari karya-karya perahu kayu yang mulai laris terjual sejak tahun 2000an itu, lalu pada tahun 2005, pria beranak 5 ini sudah banyak terima pesanan pembuatan kapal kayu untuk kebutuhan pelayaran antar pulau di Sumenep.
Azis pun banyak mempekerjakan nelayan dan tukang pembuat kapal daerah berbagai daerah.
"Yang banyak kami rekrut berasal dari Pulau Bajo Sulawesi Selatan tetapi ada beberapa pula diambilkan tenaga kerga daerah kerabat dan tetangga sekitar di Pulau Kangean," lanjutnya.
Tidak selamanya sukses membuat perahu dan kapal kayu berbuat sukses. Tetapi kerapkali juga nyaris gulung tikar ketika apa yang dirintis saat itu, sepi peminat.
Karena masuknya kapal-kapal buatan daerah lain atau bahkan kapal dari luar negeri, seperti dari Hongkong dan Jepang dijual relatif lebih murah daripada perahu miliknya.
"Pernah saya meninggalkan profesi membuat perahu dan kapal, lalu pindah dan banting setir membuka toko stationery, dan membuka kedai makan. Namun itupun tak berlangsung lama, dan kembali gulung tikar,"kisahnya.
Hingga tahun 2008 lalu, ia pun kembali terusik pikirannya untuk membuka kembali galangan pembuat perahu dan kapal yang telah lama ia tinggalkan.
Kembali membuat kapal kayu kembali dengan design yang lebih modern dan kapasitasnya lebih besar, yakni ukuran 40 sampai 50 Gt.
Bahkan pada pertengahan tahun 2011 lalu, ia mencoba membuat kapal dengan menggunakan fiber, bekerjasama dengan beberapa ahli pembuat kapal dari fiber asal Sulawesi, Surabaya dan Banyuwangi.
"Hasilnya lumayan bagus, dan harga jualnya pun cukup menjanjikan. Alhamdulillah, antara modal dan hasil produksi dan nilai jualnya cukup menguntungkan," tambah Azis.
Galangan pembuat kapal dar fiber tidak lagi ditempatkan di kepulauan Kangean, tapi pindah ke daratan Sumenep tepatnya di Jalan dr Cipto Pojok, Desa Kolor, Kecamatan Kota Sumenep.
"Tidak mungkin ditempatkan di pulau karena pekerjanya kan dari kota-kota di Surabaya dan di beberapa kabupaten di Jawa Timur," jelasnya.
Buahnya kerja tekunnya selama sekitar 15 tahun lalu itu, akhirnya pada awal tahun 2016 ini, mendapat pengakuan dan kepercayaan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan ( KKP ) mendapat tender membuat kapal dari fiber untuk nelayan.
Tidak tanggung-tanggung, PT Madura Bangun Raya mendapat kepercayaan membuat 15 kapal fiber jenis U ukuran panjang 13,5 meter, lebar 2,8 meter dan tinggi 1,45 meter.
"Di Madura ini, PT Madura Bangun Raya ini satu-satunya yang mendapat tender dari KKP membuat kapal. Dan dari 3000 kapal dari KKP yang akan diserahkan ke nelayan se Indonesia, Alhamdulillah, KKP pesan ke kami, awalnya 15 unit," pungkas Azis Syabibie.
Pihaknya berharap, pada tahun-tahun berikutnya, galangan pembuat kapalnya juga terus dipercaya oleh Pemerintan Indonesia, untuk membuat berbagai jenis kapal yang dibutuhkan.
Baik untuk kepentingan nelayan maupun kapal untuk kebutuhan lain dari program pemerintah.