Gus Ipul Janji Beri Nelayan di Cumpat Surabaya Mesin Pengolah Limbah Kerang

Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf berjanji akan memberikan mesin pengolah limbah kerang bagi nelayan di Kampung Cumpat dan Nambangan

Surabaya.tribunnews.com/Sugiharto
Wagub Jatim, Saifullah Yusuf bersama Dubes Kanada, H E Peter MacArthur mengamati hasil tangkapan nelayan di Kelurahan Kedung Cowek, Kecamatan Bulak, Surabaya, Jumat (10/2/2017). Kunjungan ini dilakukan disela-sela Dialog Publik bertema Membangun Ketangguhan Nelayan Menghadapi Dampak Perubahan Iklim. 

TRIBUNNEWS.COM, SURABAYA - Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf berjanji akan memberikan mesin pengolah limbah kerang bagi nelayan di Kampung Cumpat dan Nambangan, Kecamatan Bulak Kota Surabaya.

Ini lantaran nelayan di sana kesulitan memanfaatkan limbah kerang hasil tangkapan mereka. Padahal, jumlah limbahnya sangat banyak.

"Yang saya dengar dari Pak Camat, limbah kerang di sini dalam sangat banyak. Dalam satu minggu limbah kerangnya bisa sampai empat truk," kata pria yang akrab disapa Gus Ipul ini.

Jika ditimbang, dalam seminggu, limbah kerang yang terkumpul bisa mencapai 24 ton.

Dari jumlah itu, hanya sepuluh persennya saja dari yang dimanfaatkan warga. Di antaranya untuk membuat handycraft atau hiasan meja. Sedangkan sisanya dibuang begitu saja.

"Ini yang akan coba kami bantu. Dalam waktu dekat kami akan bantu mesin penghancur kerang. Kalau kulit kerang itu sudah hancur bisa dimanfaatkan lagi," kata Gus Ipul.

Salah satunya untuk bahan campuran bangunan pengganti semen. Pembuatannya ini akan dilakukan bersama UINSA (Universitas Islam Negeri Sunan Ampel).

Tidak hanya itu kulit kerang yang sudah dihancurkan itu juga bisa digunakan untuk bahan membuat batu bata dan beton.

"Dalam waktu dekat lah. Ini akan kita hitung dulu kebutuhannya berapa. Kalau sudah dalam waktu dua bulan sudah bisa diberikan," imbuhnya.

Selain membantu mesin penghancur kerang, pemerintah provinsi juga akan menganalisa kebutuhan cold storage atau mesin pendingin bagi nelayan.

Jika memang jumlahnya banyak dan dibutuhkan pendingin, maka pemprov tak segan untuk membantu.

"Tapi saya lebih ingin agar ikan itu diolah dulu sebelun dijual. Bayangkan tangkapan udang basah mereka perkilo hanya Rp 5 ribu. Padahal kalau diolah sedikit saja akan meningkat pendapatannya," Kata Gus Ipul.

Misalnya dengan cara digoreng, disarden, dijadikan rempeyek, atau dioleh menjadi abon. Pihaknya ingin dengan adanya bantuan pemprov nantinya bisa turut meningkatkan kesejahteran masyarakat kawasan pesisir.

Editor: Sugiyarto
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved