Kreativitas Dayak Meratus

Produk yang dihasilkan antara lain gelang simpai, anyaman bakul, lanjung dan butah (tas punggung dari anyaman rotan), mandau, kumpang, dan pakaian.

Laporan Wartawan Banjarmasin Post, Hanani

TRIBUNNEWS.COM, BARABAI - Warga Dayak Meratus dikenal kreatif mengolah hasil alam menjadi aneka produk kerajinan etnik tradisional.

Produk yang dihasilkan antara lain gelang simpai, anyaman bakul, lanjung dan butah (tas punggung dari anyaman rotan), mandau, kumpang (sarung mandau atau parang), serta pakaian dan topi berbahan kulit kayu.

Suhaidi (25), merupakan satu di antara beberapa perajin yang ada. Sudah lima tahun, pria yang tinggal di lereng Meratus, Desa Patikalain, Hantakan, Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan ini, menjadi perajin mandau serta produk berbahan kulit kayu.

Ditemui BPost di pondoknya, Selasa (14/2/2017), Suhaidi sedang menganyam tali dari kulit kayu untuk dibuat sarung mandau.

“Ini pesanan orang. Biasanya tiga hari selesai. Tapi kalau membuat mandaunya, sampai dua minggu,”tutur Suhaidi.

Tak hanya menerima pesanan sarungnya mandau, Suhaidi juga menerima pesanan membuat tas dari anyaman rotan dan bambu, serta kulit kayu.

Kulit kayu yang digunakan adalah dari pohon upas, sehingga disebut kayu upas. Jenis kayu gunung yang serat kulitnya tak mudah robek.

Serat kayu itu oleh Suhaidi dibuat topi dan baju rompi, yang di kalangan warga Dayak Meratus dipakai untuk berburu binatang. Fungsinya sebagai pelindung tubuh dari masuk angin.

Untuk mendapatkan bahan-bahan kulit kayu, rotan, dan bambu, Suhaidi mencari sendiri ke dalam hutan Meratus.

Halaman
12
Editor: Willem Jonata
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved