Kamis, 23 April 2026

SDN 207 dan 208 Kertapati Palembang Puluhan Tahun Tak Kenal Upacara Bendera

SDN 207 Palembang berada di tengah rawa dan memang tidak mendukung bisa dilaksanakannya upacara bendera yang memerlukan area atau lapangan.

Editor: Dewi Agustina
Sriwijaya Post
Sekolah Dasar Negeri 207 & 208 Kertapati Palembang yang puluhan tahun tak kenal upacara bendera. 

Salah satunya dirasakan Sahri (13), tamatan SD Negeri 207 yang kini melanjutkan ke sekolah tingkat SMP.

Sahri pun mengakui terkejut saat masuk SMP ada upacara bendera.

"Dari sekolah SD aku tidak pernah upacara bendera, tapi masuk SMP ini ada upacara bendera. Memang terkejut, tapi aku tetap mengikuti upacara bendera," ujar Sahri sembari tersenyum ketika ditanyai apakah kepingin menjadi petugas pengibar bendera.

Maryati (58), guru paling senior di SDN 207 Palembang mengakui sekolah tempatnya mengajar tak pernah menggelar upacara bendera.

Ia yang mengajar pelajaran agama ini mengakui, SD Negeri 207 berdiri sejak tahun 1983 dan ia mulai mengajar ada tahun 1984.

"Belum pernah sama sekali melaksanakan upacara bendera, untuk olahraga saja siswa terpaksa di ruangan kelas," ujar Maryati.

Diakui Maryati, kondisi bangunan sekolah baru beberapa tahun ini terlihat bagus.

Dulunya bangunan sekolah sangat memprihatinkan yang berada di tengah rawa-rawa. Bahkan sebelumnya ada bangunan sekolah yang ambruk.

"Dulu mau mengajar saja, guru pakai sepatu boot. Jangan untuk upacara bendera, akses sekolah saja susah sekali. Menutupi tidak adanya upacara bendera, siswa kami berikan kegiatan pramuka, agar sikap nasionalisme siswa tetap ada dan cinta dengan negara," ujar Maryati.

Sementara itu Kepala Sekolah SDN 207 Palembang Yulianis S.Pd SD yang baru terhitung enam bulan menjabat, mengakui sedikit terkejut.

Melihat kondisi area sekolah yang dikelilingi rawa, memang tidak memungkinkan bisa menggelar upacara bendera.

"Bagaimana mau upacara, lihat saja halaman sekolah rawa-rawa. Memang upacara itu wajib untuk di sekolah, tapi kondisi sekolah seperti ini. Saya saja yang dulunya sering jadi pembina upacara, kini tidak pernah lagi," ujarnya.

Sebagai solusi agar siswa tetap ada sikap cinta tanah air meskiun tidak upacara bendera, Yulianis mengatakan, para siswa tetap diberikan pemahaman tentang sikap cinta tanah air.

Salah satunya diisi kegiatan pramuka. Bahkan dulunya tiang bendera dari batang bambu, kini sudah dibuatkan dengan tiang besi dan bendera merah putih yang berkibar tiap harinya.

"Pastinya bendera merah putih tetap berkibar dan sengaja posisinya diletakkan di jalan masuk ke area sekolah. Penjaga sekolah ditugaskan secara khusus untuk menaikkan dan menurunkan bendera," ujarnya.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved