Kasus 'Perawat Suntik Mayat' di RS Sidoarjo Berlanjut, Polda Jatim Langsung Datangi Rumah Sakit
Pascaberedarnya video berdurasi 03.11 menit bernada marah yang diduga keluarga pasien yang disuntik dalam keadaan meninggal dunia langsung direspons
Setelah video ini viral, pihak keluarga akhirnya angkat bicara.
Daud Hamzah (41), anak pasien, warga Desa Ketegan, Taman mengatakan ibunya (Supariyah, 67) meninggal di RS tersebut pada 21 Desember 2017 lalu pukul 21.00 WIB.
"Meninggal karena saya menduga ibu saya diterlantar dan kemungkinan juga ada dugaan malapraktik terhadap ibu saya," kata Hamzah saat ditemui di rumahnya.
Hamzah menuturkan pada 20 Desember ibunya mengeluhkan pusing dan mual. Kemudian Hamzah membawa ibunya ke RS tersebut.
Saat tiba di RS, petugas resepsionis mengatakan ke Hamzah tak ada kamar kosong.
Kemudian Hamzah menanggapi petugas tersebut ingin memasukan ibunya sebagai pasien umum, bukan pasien JKN (BPJS).
"Petugasnya langsung mengatakan ada satu kamar kosong. Akhirnya ibu saya masuk pukul 11.30 WIB," sambungnya.
Mendapatkan ruang perawatan tak berarti mendiang Supariyah ditangani secara medis.
Hamzah mengaku ibunya dijanjikan akan ditangani dua dokter spesialis dalam dan syaraf.
Namun hingga keesokan harinya, ibunya sama sekali tak ditangani secara medis.
"Hingga malam hari keesokan harinya sampai keadaan ibu saya kritis juga belum ditangani. Saat itu pukul 20.00 WIB," ujarnya.
Hamzah yang sudah emosi meminta perawat untuk segera memanggil dokter spesialis yang dijanjikan itu.
Pada pukul 21.00 WIB belum juga datang, namun seorang perawat menyuntikkan sesuatu ke ibunya tanpa mengecek kondisi mendiang Supariyah.
Namun, Hamzah curiga, ketika perawat menyuntik, keadaan ibunya dalam keadaan tak sadar, tak bergerak, dan tak merespon, sama sekali.
Hamzah mengecek nadi ibunya, ternyata tak ada denyut. Ternyata Supariyah sudah meninggal.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/video-viral-keluarga-pasien-yang-meprotes-rs-siti-khodijah_20180130_192931.jpg)