Sabtu, 11 April 2026

20 Tahun Reformasi di Bandung, Kaos Jadi Media Propaganda

Reformasi jadi hot issue dan bisa dimanfaatkannya dalam media kaos dan semua ikut pesta reformasi

Editor: Eko Sutriyanto

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Mega Nugraha Sukarna

TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG - Mei tahun ini genap 20 tahun reformasi. Kisah perjuangan menumbangkan rezim orde baru menyisakan banyak cerita.

Di Kota Bandung, memori reformasi menyisakan kisah tersendiri dan tak lazim di zamannya.

Kala itu, ‎produsen kaos C59 memproduksi secara massal kaos dengan beragam design bertemakan reformasi maupun sindiran-sindiran pada penguasa orde baru yang baru saja tumbang.

Media kaos jadi ajang propaganda.‎ Mengusung tema-tema propaganda, 20 tahun lalu di masa transisi, jadi hal yang tidak lazim apalagi, sampai membawa jargon-jargon si Bung, atau Bung Karno.

Salah satu designnya dari kaos yang populer di zamannya itu, salah satunya kaos bertuliskan "Bukan Mahasiswa Sejati Kalau Tidak Ikut Demonstrasi", dengan gambar foto gedung DPR-MPR. Ada juga kaos bertuliskan kutipan Presiden RI Soekarno‎, "Indonesia Jangan dijajah Bangsa Sendiri".

Pemilik C59 Bandung, Marius Widyarto atau akrab disebut Wiwied mengisahkan saat itu, semua orang di Indonesia mendukung reformsi dan meminta Presiden Soeharto turun tahta dan akhirnya terlaksana. Momen itu jadi krusial.

Baca: Bomber Naturalisasi Baru Persija Jakarta Sempat Tolak Persib Bandung Karena Alasan Ini

"Saya mengeksplor lewat kaos soal reformasi. Reformasi jadi hot issue dan saya memanfaatkannya dalam media kaos. Semua ikut pesta reformasi. Semua orang merasa keren, karena merasa jadi bagian mensukseskan dan jadi bagian reformasi," ujar Wiwied di kawasan Cigadung, Kamis (24/5).

Ia membaca situasi saat itu, semua orang merasa bangga terlibat reformasi dan memuncak saat Soeharto menyatakan diri mundur dari tahta.

Mendokumentasikan suasana saat itu dalam media kaos, ia menyediakan hingga 50 design dan memproduksi lebih dari 1000 kaos dengan harga paling tinggi Rp 30 ribu.

‎Tidak ia pungkiri, selain mendokumentasikan momen lewat media kaos, ada aspek ekonomi.

"Kaosnya sold out dalam waktu enam bulan, karena semua orang berpesta, ingin merasakan euforia reformasi. Kaus jadi media propaganda untuk menyebarkan euforia reformasi," kata Wiwied.

Produksi kaos dengan propaganda pesan-pesan reformasi yang dibuat Wiwied tidak mendapat rintangan dari aparat keamanan, meskipun saat itu, tidak asing lagi saat pemerintah mensensor segala kritikan.

Bahkan, menjadikan kaos sebagai media propaganda terbilang hal yang baru saat itu.

"Rasanya enggak karena saat itu jadi momentum bagus banget, karena orang dulunya takut mengemukakan pendapat ‎sekarang waktunya untuk mengemukakan pendapat dengan media kaos. Kaos jadi tren propaganda," ujar Wiwied. (Mega Nugraha)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved