Erupsi Gunung Agung
Gunung Agung Kembali Erupsi, Letusan Lava Pijar Hingga Keluar Kawah
Gunung Agung kembali memuntahkan material vulkanik pada Senin (2/7/2018) pukul 21.04 WITA.
Editor:
Sugiyarto
Meski mengalami penurunan namun jumlah hembusan masih dikatakan tinggi.
Tremor menerus tidak terekam sejak 29 Juni 2018 pukul 05.00 wita.
Gempa frekuensi tinggi seperti gempa gempa vulkanik dan tektonik lokal, masih terekam sekitar 2 kejadian perhari.
Amplitudo seismik Gunung Agung mengalami peningkatan tajam di 28 Juni 2018 mulai pukul 09.00 wita.
Amplitudo seismik menurun tajam pada 29 Juni 2018 pukul 05.00 wita.
Setelah itu, pola amplitudo seismik cenderung berfluktuasi dan belum menunjukkan pola peningkatan yang jelas.
Sebelum mengalami erupsi 28 - 29 Juni 2018, pemodelan deformasi mengindikasikan terjadinya pengembungan (inflasi) di tubuh Gunung secara cepat dengan uplift mencapai 1 sentimeter.
Pasca erupsi 29 Juni 1 Juli 2018, gunung sedikit alami pengempisan.
"Walaupun mengalami pengempisan (dedlasi) namun sistem vulkanik belum sepenuhnya mengalami relaksasi. Pengukuran deformasi masih mengindikasikan adanya pembangunan tekanan magma di kedalaman gunung agung," tambah Kasbani.
Hasil analisis PVMBG, kata Kasbani, Gunung Agung masih berada di dalam fase erupsi.
Saat ini, erupsi yang terjadi pada umum bersifat efusif, brupa aliran lava yang mengisi kawah dan eksplosif berupa lontaran lava pijar sekitar kawah serta erupsi abu.
Kemungkinan untuk terpenuhinya kawah oleh material lava dalam waku singkat masih rendah, karena laju efusi lava masih lambat.
Aktivitas Gunung masih dalam kondisi yang berkembang dan belum stabil.
Kemungkinan untuk terjadinya erupsi masih tinggi.
Potensi bahaya, bahaya primer yang paling mungkin trjadi yaitu berupa lontaran batu, lava pijar, dan pasir abu lebat dalam maupun keluar kawah.