Transformasi Sungai Kuantan Riau: Dari Tambang Ilegal ke Arena Pacu Jalur
Sungai Kuantan kembali jernih usai operasi PETI. Pacu Jalur hidup lagi, budaya Melayu dan ekosistem sungai mulai pulih.
Editor:
Glery Lazuardi
TRIBUNNEWS.COM - Transformasi Sungai Kuantan, Riau bukan sekadar perubahan warna air.
Di balik kejernihan yang kini memantul di tepian Narosa, tersimpan jejak panjang tambang ilegal, operasi besar-besaran, dan harapan yang kembali mengalir.
Aktivitas tambang emas ilegal atau PETI (Penambangan Tanpa Izin) di Sungai Batang Kuantan, Riau, telah lama menjadi ancaman serius bagi lingkungan dan budaya masyarakat Kuantan Singingi (Kuansing).
Sungai yang menjadi urat nadi kehidupan dan simbol budaya Melayu ini sempat tercemar berat akibat praktik tambang liar yang menggunakan alat dompeng dan bahan kimia berbahaya.
Tambang ilegal di Sungai Kuantan mengakibatkan air sungai menjadi keruh, ikan-ikan hilang, dan bebatuan tertutup lumpur, Tradisi Pacu Jalur terganggu karena sungai tidak lagi layak digunakan.
Potensi pencemaran merkuri dan kerusakan lingkungan berdampak pada kehidupan sehari-hari.
Upaya penertiban PETI dilakukan. 234 unit dompeng dimusnahkan dari 52 titik lokasi PETI di sepanjang aliran Sungai Kuantan.
16 tersangka ditetapkan dari 7 laporan polisi yang diproses. Operasi ini digelar menjelang Festival Pacu Jalur 2025, sebagai bentuk komitmen menjaga sungai tetap steril dari tambang ilegal
Polda Riau mencatat sebanyak 234 unit dompeng telah dimusnahkan dari 52 titik lokasi PETI di sepanjang aliran Sungai Kuantan.
Dari tujuh laporan polisi yang diproses, 16 orang telah ditetapkan sebagai tersangka. Operasi ini juga difokuskan di Kuansing menjelang Festival Pacu Jalur, untuk memastikan sungai benar-benar steril dari tambang ilegal.
Selain penindakan, Polda Riau juga menyiapkan langkah edukatif dengan memberikan pelatihan alternatif mata pencaharian, seperti pertanian dan peternakan, agar masyarakat tidak lagi bergantung pada aktivitas PETI.
Sungai Batang Kuantan di kawasan Tepian Narosa, Kabupaten Kuantan Singingi, kini kembali jernih setelah lama tercemar akibat aktivitas penambangan emas tanpa izin (PETI).
Perubahan kondisi ini disambut antusias masyarakat yang setiap sore ramai memanfaatkan tepian sungai untuk berenang, bermain, hingga menikmati panorama matahari terbenam.
Sungai kini memperlihatkan kejernihan air dan ikan-ikan kecil yang kembali muncul di antara bebatuan, menandakan ekosistem mulai pulih. Kawasan budaya Pacu Jalur yang selama dua dekade terakhir terganggu kini tampak hidup kembali.
Ketua Umum Dewan Pimpinan Harian (DPH) Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR), Datuk Seri Taufik Ikram Jamil, menyampaikan apresiasi besar kepada Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan dan jajaran atas keberhasilan operasi pemberantasan PETI.
Pelindo dan Rukindo Keruk Alur Pelayaran Pelabuhan Dumai Riau |
![]() |
---|
Festival Pacu Jalur Tradisional 2025 Tarik Puluhan Ribu Penonton, Perputaran Ekonomi Rp100 Miliar |
![]() |
---|
BMKG Keluarkan Peringatan Potensi Kebakaran Hutan di Riau, Kapan Puncaknya? |
![]() |
---|
VIDEO Berantas Tambang Ilegal, PT Timah Perkuat Kemitraan dan Pengawasan |
![]() |
---|
Prakiraan Cuaca Pekanbaru Selasa, 26 Agustus 2025: Pagi Hujan Ringan, Malam Cerah |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.