Rabu, 8 April 2026

Banjir Besar di Kongo, 410 Orang Dipastikan Tewas

Bencana tidak hanya menghancurkan bangunan, namun juga merusak ladang tanaman dan ternak, hingga menyebabkan ribuan orang kehilangan tempat tinggal

Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Eko Sutriyanto
GUERCHOM NDEBO / AFP
Relawan Palang Merah Kongo mengeluarkan jenazah seseorang yang meninggal saat banjir besar di Bushushu di bagian timur Republik Demokratik Kongo, pada 8 Mei 2023. 

Laporan Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari

TRIBUNNEWS.COM, KINSHASA - Setidaknya 410 orang dipastikan tewas dan lebih dari 5.000 lainnya masih belum ditemukan setelah banjir dan tanah longsor melanda provinsi Kivu Selatan, Republik Demokratik Kongo pada pekan lalu.

Banjir melanda negara itu setelah hujan deras turun sejak 4 hingga 5 Mei lalu dan dilaporkan membuat desa tepi sungai Nyamukubi dan Bushushu terdampak.

Bencana tersebut tidak hanya menghancurkan bangunan, namun juga merusak ladang tanaman dan ternak, hingga menyebabkan ribuan orang kehilangan tempat tinggal.

Dikutip dari laman Russia Today, Kamis (11/5/2023), Koordinator Darurat untuk Médecins Sans Frontières (MSF) di Kivu Selatan, Ulrich Crepin Namfeibona menggambarkan situasinya sebagai hal yang 'mengerikan' dan mengatakan bahwa beberapa area pun berubah menjadi tidak dapat dikenali.

"Di Nyamukubi, hampir separuh desa hancur karena kerusakan yang disebabkan banjir, jalan utama antara Nyamukubi dan Kalehe tidak bisa lagi digunakan sehingga menghambat masuknya bantuan kemanusiaan," kata Namfeibona.

Baca juga: Banjir Bandang Terjang Kecamatan Bua Kabupaten Luwu Sulsel, Seorang Warga Dilaporkan Hilang

Pihak berwenang setempat mengatakan pada Selasa lalu bahwa jumlah korban tewas masih terus meningkat karena upaya untuk menyelamatkan warga dan menemukan jenazah saat ini terus berlanjut.

"Kami tidak dapat menangani korban sebanyak ini secepat yang dibutuhkan. Kami sedang mencari jenazah menggunakan sekop atau tangan," kata Juru bicara Palang Merah di Provinsi Kivu Selatan, John Kashinzwe Kibekenge.

Menurut AFP, pemerintah negara itu telah mengirimkan peti mati kepada masyarakat yang terdampak setelah laporan menyebutkan banyak orang mati telah dikubur di kuburan massal.

"Peti mati ini datang terlambat. Kami ingin mereka tiba tepat waktu, itu penting karena kami sudah mengubur orang seperti mengubur babi, menempatkan tiga, lima, sepuluh, 40 orang di lubang yang sama," kata warga Nyamukubi, Roger Nabusike, 

MSF mengatakan akan 'terus memantau situasi dalam beberapa hari mendatang untuk menilai kebutuhan medis dan kemanusiaan'.

Lembaga itu juga meningkatkan kekhawatiran tentang wabah penyakit di wilayah yang terkena dampak kolera.

Tempat berlindung, makanan dan barang-barang pokok lainnya sangat dibutuhkan bagi komunitas yang telah kehilangan segalanya akibat banjir ini.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved