Sabtu, 30 Agustus 2025

5 Fakta Sekolah Elit Bodong di Bekasi: Biaya Rp23 Juta, Guru Diperlakukan bak ART dan Gaji Dipotong

Berikut lima fakta soal sekolah swasta elit di Bekasi dilaporkan orangtua murid karena merasa ditipu. Mantan guru ungkap diperlakukan kepsek bak ART.

Penulis: Isti Prasetya
Editor: Bobby Wiratama
WARTAKOTA/RENDY RUTAMA
SEKOLAH ELIT BODONG - Momen saat orangtua murid datang ke sekolah swasta mewah di Jalan Baru Perjuangan RT 04 RW 11 Marga Mulya, Kecamatan Bekasi Utara, Kota Bekasi, Senin (16/6/2025). Berikut lima fakta soal sekolah swasta elit di Bekasi dilaporkan orangtua murid karena merasa ditipu. Mantan guru ungkap diperlakukan kepsek bak ART. 

TRIBUNNEWS.COM - Sebuah sekolah swasta elit di Kota Bekasi, Jawa Barat, dilaporkan ke Mapolres Metro Bekasi oleh sejumlah orangtua murid yang merasa ditipu, Minggu (15/6/2025). 

Mereka kecewa karena penerapan Kurikulum Cambridge yang dijanjikan saat pendaftaran tak kunjung terealisasi, padahal mereka telah membayar biaya masuk hingga puluhan juta rupiah.

Setelah dilaporkan, sekolah yang berlokasi di Jalan Baru Perjuangan RT 04 RW 11 Marga Mulya, Kecamatan Bekasi Utara itu mendadak berhenti beroperasi pada Senin (16/5/2026).

Tak hanya itu, tenaga pengajar sekolah tersebut juga buka suara terkait tindakan semena-mena yang dilakukan oleh pengelola sekolah.

Lantas, apa saja fakta-fakta sekolah elit di Bekasi yang diduga bodong?

Berikut Tribunnews merangkum lima fakta terkait sekolah elit bodong di Bekasi yang dihimpun dari Tribun Bekasi dan Warta Kota pada Selasa (17/6/2025).

1. Dijanjikan Kurikulum Cambridge

Dugaan penipuan ini bermula saat para wali murid mengendus hal yang janggal kepada pengelola sekolah yang tidak menerapkan beberapa program yang dijanjikan saat proses pendaftaran.

Di antaranya yakni kurikulum Cambridge, Activity Fee, hingga konseling psikolog profesional.

Kecurigaan makin menguat usai para orangtua murid dijadwalkan berkumpul untuk mencari solusi dengan bertemu pihak sekolah pada Sabtu (14/6/2025).

Hanya saja, setelah menunggu enam jam, pihak orangtua justru tidak kunjung mendapat kepastian dan kejelasan.

Baca juga: Iming-iming Kurikulum Cambridge, Wali Murid Laporkan Sekolah Swasta di Bekasi, Biaya Masuk Rp23 Juta

Informasi ini diungkapkan oleh seorang orang tua murid, Silvia Legina (30).

"Jadwalnya itu pertemuan orangtua murid atas keputusan rapat pihak sekolah dan yayasan dan lawyer, tapi dari 14.30 WIB sampai semalam tidak ada titik temu," kata Silvia, Minggu (15/6/2025).

Silvia juga menyampaikan berbagai keluhan dari orangtua murid lainnya terhadap sistem di sekolah yang baru beroperasi 10 tahun itu. 

Salah satunya adalah janji penggunaan Kurikulum Cambridge, yang ternyata hanya sebatas klaim tanpa penerapan nyata. 

Menurut Silvia, materi pembelajaran tidak sesuai standar kurikulum Cambridge seperti yang dijanjikan saat awal pendaftaran.

"Kami dijanjikan dari pihak sekolah kurikulum Cambridge, tapi ternyata bukan berbasis Cambridge. Alasannya kalau ini hanya berbasis Cambridge bukan kurikulum Cambridge, jadi Cambridge itu tidak kami dapatkan atau tidak sesuai dengan materinya," ujarnya.

2. Disdik Diusir 

Sekolah itu bahkan diduga tidak memiliki izin resmi dari Dinas Pendidikan Kota Bekasi untuk menyelenggarakan pendidikan tingkat Playgroup, SD, dan inklusi. 

Silvia menyebutkan, petugas dari Disdik Bekasi sempat tiga kali datang namun ditolak pihak sekolah, sehingga sekolah tersebut belum mengantongi akreditasi yang menjadi syarat untuk menerapkan kurikulum internasional.

"Disdik itu sudah pernah datang ke sini (Sekolah) udah tiga kali tapi diusir oleh pihak sekolah, tapi saya kurang tahu kenapa. Makanya sekolah ini itu tidak pernah dapat akreditasi, dan untuk menerbitkan izin Cambridge itu harus terakreditasi terlebih dahulu," terang Silvia.

DUGAAN SEKOLAH BODONG - Puluhan orangtua siswa saat berkumpul mencari solusi terhadap realisasi janji-janji sekolah swasta di Jalan Baru Perjuangan RT 04 RW 11 Marga Mulya, Kecamatan Bekasi Utara, Kota Bekasi pada Sabtu (14/6/2025).
DUGAAN SEKOLAH BODONG - Puluhan orangtua siswa saat berkumpul mencari solusi terhadap realisasi janji-janji sekolah swasta di Jalan Baru Perjuangan RT 04 RW 11 Marga Mulya, Kecamatan Bekasi Utara, Kota Bekasi pada Sabtu (14/6/2025). (TRIBUN BEKASI/RENDY RUTAMA PUTRA)

3. Mendadak tutup

Kini, setelah gelombang protes terjadi dari pihak orang tua, pihak sekolah justru menutup dan menghentikan kegiatan belajar mengajar secara mendadak.

Pintu sekolah swasta itu tampak terkunci dan digembok pada Senin (16/6/2025).

Hal ini memicu kekecewaan dari pihak orang tua murid sebab siswa diminta datang ke sekolah untuk mengerjakan ujian susulan.

Namun, orang tua siswa bernama Nurhaliza (33) terkejut, lantaran sekolah tiba-tiba libur tanpa pemberitahuan.

"Maksudnya sia-sia waktu saya, kenapa kayak gini, harusnya kan di WhatsApp (WA) sayanya kalau misalnya emang tidak ada progres lagi sekolahnya," katanya saat ditemui di lokasi, Senin (16/6/2025).

Nurhaliza menjelaskan, dirinya hanya mendapatkan informasi agar anaknya datang ke sekolah pada Senin, untuk mengikuti ujian susulan.

Sebab, kata Nurhaliza, anaknya sempat sakit dan kemudian diminta untuk mengikuti ujian susulan.

SEKOLAH ELIT BODONG - Momen saat orangtua murid datang ke sekolah swasta mewah di Jalan Baru Perjuangan RT 04 RW 11 Marga Mulya, Kecamatan Bekasi Utara, Kota Bekasi, Senin (16/6/2025). Ortu siswa kecewa karena sekolah berhenti operasi tiba-tiba tanpa ada pemberitahuan. 
SEKOLAH ELIT BODONG - Momen saat orangtua murid datang ke sekolah swasta mewah di Jalan Baru Perjuangan RT 04 RW 11 Marga Mulya, Kecamatan Bekasi Utara, Kota Bekasi, Senin (16/6/2025). Ortu siswa kecewa karena sekolah berhenti operasi tiba-tiba tanpa ada pemberitahuan.  (WARTAKOTA/RENDY RUTAMA)

Baca juga: Diduga Bodong, Kini Sekolah Swasta Elit di Bekasi Mendadak Digembok, Bikin Siswa Gagal Ujian Susulan

4. Gaji guru dipotong

Tak berhenti di situ, beberapa guru yang bekerja di sekolah tersebut turut angkat bicara.

Salsabila Syafwani, guru di sekolah swasta tersebut, mengatakan, ijazahnya ditahan oleh pihak sekolah hampir lebih kurang satu tahun.

“Masih ada juga ijazah salah satu guru yang masih ditahan sudah hampir satu tahun,” kata Salsabila saat dikonfirmasi, Selasa (17/6/2025).

Tidak hanya itu, Salsabila menuturkan pihak sekolah juga diduga kerap memotong gaji para guru tanpa alasan yang jelas.

Dirinya sempat mengalami pemotongan gaji dengan nominal Rp 700 ribu per bulan.

“Kami digaji tidak pernah full, banyak potongan dan kami tidak pernah ketahui itu potongannya untuk apa, potongan gaji pernah mencapai Rp 700 ribu,” tuturnya.

5. Diperlakukan bak ART

Tenaga pengajar lainnya, Anisa Dwi Zahra mengaku kepala yayasan sekaligus kepala sekolah kerap memberikan tugas di luar dari pekerjaan sebagai guru.

Bahkan, dia menilai tugas itu seperti pekerjaan seorang asisten rumah tangga (ART).

Dia menceritakan pernah diminta membeli ayam goreng untuk diberikan kepada anak pemilik yayasan.

Pembelian ayam goreng juga diminta pihak yayasan di tempat yang memiliki jarak dinilai Anisa cukup jauh dari lokasi sekolah.

"Saya juga pernah disuruh membeli ayam fried chicken jauh-jauh ke Jatiasih sedangkan fried chicken di sekitar sini (Bekasi Utara) kan juga ada, saya sudah komplain, kenapa harus beli jauh-jauh, terus dari pihak yayasan tidak tahu alasannya apa, akhirnya saya jalan," tuturnya pada Senin (16/6/2025).

GURU RESIGN MASSAL - Seluruh guru di sekolah swasta mewah atau sekolah elite yang diduga bodong di Jalan Baru Perjuangan, RT 04 RW 11, Marga Mulya, Kecamatan Bekasi Utara, Kota Bekasi, melakukan resign atau berhenti kerja massal. Seorang guru, Salsabila Syafwani mengatakan, resign yang dilakukan jajaran seprofesinya sudah berlangsung sejak Jumat (13/6/2025).
GURU RESIGN MASSAL - Seluruh guru di sekolah swasta mewah atau sekolah elite yang diduga bodong di Jalan Baru Perjuangan, RT 04 RW 11, Marga Mulya, Kecamatan Bekasi Utara, Kota Bekasi, melakukan resign atau berhenti kerja massal. Seorang guru, Salsabila Syafwani mengatakan, resign yang dilakukan jajaran seprofesinya sudah berlangsung sejak Jumat (13/6/2025). (WARTA KOTA/RENDY RUTAMA)

Sementara tenaga pengajar lainnya, Raihan Tri Wahyudi menegaskan juga serupa mengalami nasib seperti Anisa.

Setiap hari sebelum bekerja, Raihan justru diminta ke kediaman pemilik yayasan terlebih dahulu untuk mengantar sekolah.

"Setiap hari sebelum saya bekerja, harus ke rumah beliau (Pemilik yayasan) untuk mengantar anak-anaknya berangkat sekolah," tegas Raihan.

Raihan mengatakan berat untuk menolak ketika ditugaskan tetapi dirinya mengaku terpaksa melakukannya.

"Untuk biaya tambahan saya cuma dapat gaji selama kerja di kantor sebagai staff education tapi saya bekerja kebanyakan di rumah beliau (pemilik yayasan) yaitu mengantar anak-anaknya ke sekolah, ke les, dan belanja itu saya," pungkas Raihan.

Sebagian artikel ini telah tayang di Tribunbekasi.com dengan judul Guru Sekolah Elit di Bekasi Diduga juga Dipekerjakan sebagai ART oleh Kepala Sekolah.

(Tribunnews.com/Isti Prasetya, TribunBekasi.com dan WartaKotaLive.com/Rendy Rutama)

Sumber: TribunSolo.com
Berita Terkait

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan