Polda Ungkap Kucuran Dana Gelap Internasional di Balik Demo Ricuh Jabar
Polisi mencatat kerusuhan yang berlangsung di Bandung hingga Tasikmalaya bukanlah unjuk rasa damai
TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG – Aksi unjuk rasa yang awalnya diklaim sebagai solidaritas atas tewasnya driver ojek online, Affan Kurniawan, ternyata menyimpan fakta mengejutkan.
Polda Jawa Barat menemukan adanya aliran dana miliaran rupiah dari jaringan internasional yang diduga kuat ikut menyokong kerusuhan di Bandung dan Tasikmalaya pada 29 Agustus–1 September 2025.
Kapolda Jabar, Irjen Rudi Setiawan, menegaskan bukti aliran dana itu terdeteksi melalui transaksi digital.
Dana digunakan untuk operasional massa aksi hingga pemenuhan kebutuhan pribadi sebagian pelaku.
“Kami menemukan bukti dana masuk dan keluar hingga puluhan juta rupiah per transaksi. Totalnya bisa menembus miliaran,” ujarnya, Rabu (17/9/2025).
Baca juga: Komnas HAM: Publik Berhak Tahu Fakta Demo Ricuh Agustus 2025
Jaringan Internasional dan Simpatisan Anarko
Sejumlah tersangka teridentifikasi sebagai simpatisan kelompok anarko yang berjejaring dengan pihak luar negeri.
Mereka menggunakan nama samaran untuk menyamarkan aktivitasnya.
Polisi menyebut inisial AD, RM, GH, dan MN, sementara kelompok lain dipimpin MAK, DD, dan AF.
Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Hendra Rochmawan, mengungkap kedua kelompok itu terhubung dengan jaringan internasional berbeda, namun memiliki pola serupa: harus menunjukkan “aksi nyata” agar mendapat kepercayaan.
“Aksi mereka didokumentasikan, diunggah, lalu disebarkan ke akun-akun anarko internasional sebagai bentuk pembuktian,” jelasnya.
Dari Aksi Demo ke Perusakan
Polisi mencatat kerusuhan yang berlangsung di Bandung hingga Tasikmalaya bukanlah unjuk rasa damai.
Massa membakar pagar Gedung DPRD Jabar, melempar molotov, hingga merusak fasilitas umum.
Dari ratusan orang yang diamankan, 42 orang ditetapkan tersangka dengan tiga klaster pelanggaran hukum berbeda.
“Mereka tidak hanya berorasi atau posting di media sosial. Mereka juga aktor lapangan yang merusak fasilitas negara,” kata Hendra.
Dana yang digelontorkan tak hanya dipakai untuk membeli perlengkapan aksi, tetapi juga masuk ke kantong pribadi.
“Kalau diakumulasikan bisa tembus Rp1 miliar. Ada yang murni untuk demo, ada juga yang dinikmati sendiri,” imbuh Hendra.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/pagar-dprd11111.jpg)