Mengenal Pecel Semanggi Khas Surabaya, Hadir di Banaran Trail Run 2025
Perempuan asal Ridjah Kulon, Surabaya, itu mengaku mendapat pinjaman lunak pertama dari PTPN I pada 2021 sebesar Rp10 juta.
Lalu disiram bumbu pecel khas semanggi berwarna coklat sedikit gelap terdiri dari kacang, ubi, atau ketela yang direbus bersama gula jawa dan cabai -untuk menambah rasa pedas.
Menikmati pecel semanggi tak afdol jika tidak ditambah krupuk puli yang terbuat beras. Bentuknya persegi panjang dan berwarna kuning cerah. Rasanya kriuk renyah saat dikunyah.
Kudapan ini lebih mudah ditemui di pagi hari. Bahkan, hanya ada di beberapa titik saja di Kota Surabaya.
Penjualnya pun mayoritas ibu-ibu lansia yang berjalan kaki sambil menggendong keranjang berbahan anyaman rotan. Akademisi Universitas Negeri Surabaya, Prof. Rindawati sempat mengkaji pecel semanggi dalam perspektif antropologi sosial.
Baca juga: Nasi Pecel Tumpang Sor Asem, Kuliner Legendaris di Belakang Pasar Triwindu Solo Sejak 1945
Bukan sekadar makanan, pecel semanggi mewakili hubungan budaya, individu, dan kolektif. Sayangnya, Rindawati juga mengakui, di zaman sekarang banyak generasi muda yang tidak doyan dengan pecel semanggi.
“Kayaknya khusus anak muda sekarang banyak yang belum kenal. Zamannya sekarang sudah lebih modern, dan dengan cara dagang seperti itu mungkin nampaknya anak muda nggak mau sengsara,” kata Rinda dikutip dari Kompas.com.
Saking ikoniknya, pecel semanggi telah menjelma dalam berbagai karya seni. Misalnya musik keroncong berjudul “Semanggi Suroboyo” yang diciptakan oleh S. Padimin pada tahun 1950-an.
Pecel semanggi juga kerap dijadikan sebagai latar cerita pedagang pecel sehari-hari dalam kesenian ludruk. Lalu, demi mempertahankan semanggi di era sekarang, Pemerintah Kota Surabaya menamai layanan transportasi umumnya, Trans Semanggi Suroboyo. Badan busnya pun berhias gambar daun semanggi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/pecel122222.jpg)