Jumat, 15 Mei 2026

Pesawat ATR Indonesia Air Jatuh

Evakuasi Korban Pertama Pesawat ATR 42-500 Hadapi Medan Ekstrem, Basarnas Kerahkan Opsi Berlapis

Inilah proses evakuasi korban kecelakaan pesawat ATR 42-500. Ditarik dari tebing dengan kemiringan hampir 90 derajat

Tayang:
HO/IST
KECELAKAAN PESAWAT ATR – Tim SAR gabungan mengevakuasi kantong jenazah korban pertama kecelakaan pesawat ATR 42-500 di lereng Gunung Bulusaraung, Pangkep, Sulawesi Selatan, Selasa (20/1/2026). Evakuasi berlangsung 30 jam di tengah hujan deras, kabut, suhu dingin, dan ancaman longsor. 

Ringkasan Berita:
  • Proses evakuasi korban pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung terkendala medan terjal dan cuaca ekstrem.
  • Tim SAR sempat kesulitan mengevakuasi korban dari tebing hampir 90 derajat sebelum akhirnya menggunakan jalur alternatif menuju Dusun Lampeso.
  • Korban pertama yang berhasil diidentifikasi adalah Deden Maulana, pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan, yang kemudian diberangkatkan ke Jakarta untuk prosesi penghormatan terakhir.


TRIBUNNEWS.COM
- Upaya evakuasi korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 yang jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan bukan hal yang mudah.

Kondisi medan yang berat hingga cuaca ekstrem kerap memperlambat proses evakuasi korban.

Sama seperti saat korban pertama yang ditemukan di jurang sedalam sekitar 250 meter pada hari kedua pencarian, Minggu (18/1/2026).

Direktur Operasi Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo, menjelaskan bahwa tim SAR awalnya berupaya mengevakuasi korban ke arah puncak gunung.

Namun opsi tersebut dinilai sangat berisiko karena kondisi tebing yang hampir tegak lurus.

Ketika itu kita berusaha mengangkat ke atas karena jaraknya cuma 250 meter, ternyata lebih kesulitan karena kemiringan dinding tebing hampir 90 derajat, kita Tarik pakai tali, sempat tali retas sehingga membahayakan," ujar Yudhi saat memberikan keterangan di Biddokkes Polda Sulawesi Selatan, Makassar, Rabu (21/1/2026).

Mengutip Tribun-Timur.com, akhirnya tim SAR mengubah strategi dengan menggunakan jalur alternatif.

Korban diturunkan terlebih dahulu kemudian digeser secara bertahap hingga mencapai jalur darat di Dusun Lampeso, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan pada Selasa (20/1/2026) sore.

"Kami cari alternatif lain diturunkan dan bergeser sampailah dengan jalur darat kemarin siang pukul 15.00 wita korban satu ini sampai di Dusun Lampeso," sambungnya.

Setelah berhasil dibawa, evakuasi dilanjut pada Rabu pagi menggunakan helikopter AS 365 N3+ Dauphin milik Basarnas Makassar setelah kondisi cuaca dinyatakan mendukung.

Jenazah Tersebut Bernama Deden Maulana

Setelah berhasil diidentifikasi oleh Disaster Victim Identification (DVI) Polri dan Polda Sulsel, identitas korban pertama yang ditemukan tersebut bernama Deden Maulana, pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Mengutip Tribun-Timur.com, Jenazah Didin diberangkatkan ke Jakarta dari Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar, Rabu (21/1/2026) malam.

Setibanya di Jakarta, Deden rencananya akan dibawa ke Politeknik Ahli Usaha Perikanan (AUP) Pasar Minggu untuk prosesi pelepasan dan penghormatan terakhir.

“Mau dibawa ke AUP Pasar Minggu untuk acara pelepasan,” ujar Levi, salah satu kerabat korban.

Dilaporkan sebelumnya, kecelakaan pesawat ATR 42-500 terjadi pada 17 Januari 2026 di Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan, saat pesawat milik Indonesia Air Transport (IAT) dengan registrasi PK-THT jatuh dalam penerbangan dari Yogyakarta menuju Makassar.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved