Longsor di Bandung Barat
Didominasi Hidrometeorologi, Bencana Longsor Kembali Telan Korban Jiwa
BNPB mencatat 3.233 bencana sepanjang 2025 dengan 99 persen didominasi hidrometeorologi.
Ringkasan Berita:
- BNPB mencatat 3.233 bencana sepanjang 2025 dengan 99 persen didominasi hidrometeorologi.
- Longsor di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, menewaskan setidaknya delapan orang dan puluhan warga masih belum ditemukan.
- BMKG menyebut hujan ekstrem menjadi pemicu utama longsor yang membuat tanah jenuh air.
TRIBUNNEWS.COM – Bencana hidrometeorologi mendominasi kejadian bencana alam di Indonesia sepanjang 2025.
Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), periode 1 Januari hingga 31 Desember 2025 mencatat total 3.233 kejadian bencana.
Bencana hidrometeorologi mendominasi dengan porsi 99,04 persen, sedangkan bencana geologi hanya 0,96 persen.
Kejadian tertinggi terkonsentrasi di Pulau Jawa, terutama Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, disusul sebagian wilayah Sumatra dan Sulawesi.
Bencana hidrometeorologi merupakan bencana yang dipengaruhi kondisi cuaca dan iklim, terutama yang berkaitan dengan air (hidro) dan atmosfer (meteorologi). Fenomena ini umumnya dipicu dinamika atmosfer yang berdampak pada perubahan iklim.
Jenisnya antara lain banjir, tanah longsor, angin kencang, siklon tropis, hingga banjir pesisir atau rob.
Masih mengutip data BNPB per 31 Desember 2025, tercatat 1.623 orang meninggal dunia, 220 orang hilang, 5.713 orang luka-luka, serta 10.092.416 orang terdampak atau mengungsi akibat bencana sepanjang tahun tersebut.
Banjir menjadi bencana paling sering terjadi dengan 1.652 kasus, disusul cuaca ekstrem 714 kejadian, serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebanyak 546 kasus.
Selain itu, tercatat 233 kejadian tanah longsor di Indonesia.
Baca juga: Penanganan Korban Longsor di Cisarua: 65 Personel Polda Jabar Dikerahkan, Operasi SAR Gunakan Drone
Angka tersebut belum termasuk longsor yang terjadi di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Sabtu (24/1/2026).
Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail, menyebut ada 113 warga dari 34 kepala keluarga yang menjadi korban longsor.
Sejauh ini, delapan korban meninggal dunia telah ditemukan petugas.
"Yang selamat ada 23 orang. Yang ditemukan meninggal ada 7, barusan bertambah jadi 8. Jadi, yang belum ditemukan sekitar 82," ungkapnya, dilansir TribunJabar.id.
Penyebab Longsor di Cisarua: Hujan Intensitas Tinggi
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut hujan berintensitas tinggi yang mengguyur Jawa Barat dalam beberapa hari terakhir menjadi pemicu utama terjadinya longsor.
BMKG menegaskan kondisi cuaca saat ini masih berpotensi memicu kejadian serupa, terutama di wilayah bertopografi perbukitan dengan kondisi tanah labil.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/i-Desa-Pasirlangu-Kecamatan-Cisarua-sdd.jpg)