Filosofi Legiun dalam Piring: Menikmati 'Daging Tapal Kuda' di Jamuan Royal Dinner Mangkunegaran
Sebuah malam penuh kehangatan dan makna tersaji di Pendopo Mangkunegaran, Surakarta, akhir pekan lalu.
TRIBUNNEWS.COM, SOLO – Sebuah malam penuh kehangatan dan makna tersaji di Pendopo Mangkunegaran, Surakarta, akhir pekan lalu.
Royal Dinner dalam rangka Adeging Mangkunegaran ke-269 menghadirkan sekitar 150 tamu undangan dari berbagai kalangan, menjadikannya salah satu momen istimewa dalam rangkaian perayaan tahun ini.
Sejumlah tokoh hadir, di antaranya KGPAA Mangkunegaran X, GRAJ Ancillasura Marina Sudjiwo, Respati Ardianto, Meliza M. Rusli, Nico Tahir, Aditya Bayunanda, hingga Agus Martowardojo.
Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegaran X atau Gusti Bhre menegaskan bahwa Royal Dinner bukan sekadar jamuan, melainkan perayaan kebersamaan dan rasa syukur.
“Terima kasih atas kerja keras dan dukungan semua pihak. Mari kita nikmati makan malam ini sebagai wujud kebahagiaan bersama,” ujarnya.
Lebih dari sekadar hidangan, Royal Dinner Mangkunegaran selalu menyimpan filosofi mendalam.
Gusti Raden Ajeng Ancillasura Marina Sudjiwo atau Gusti Sura menjelaskan bahwa Adeging Mangkunegaran tahun ini bertepatan dengan Tahun Dal dalam siklus Windu Jawa, yang dimaknai sebagai fase penuh tantangan.
“Tema keprajuritan diwujudkan melalui ikon kuda, simbol ketangkasan dan disiplin,” ungkapnya.
Baca juga: Mangkunegaran Run 2026 Digelar di Solo pada 3 Mei, Kantongi Sertifikat Internasional
Filosofi itu tercermin dalam tujuh rangkaian hidangan yang disajikan.
Dimulai dengan Sosis Solo Deconstructed, canape savory yang melambangkan langkah awal kavaleri dengan ketegasan arah.
Dilanjutkan dengan Dendeng Age Buntel, menyerupai tapal kuda besi, sebagai simbol disiplin dan batasan prajurit.
Puncak narasi hadir dalam hidangan utama, Slow Cooked Beef Sauce Kluwek.
Daging iga yang dimasak sous-vide selama 48 jam menjadi metafora penempaan diri: keras yang berubah lembut berkat waktu dan konsistensi, layaknya langkah kuda menuju tujuan.
Saus kluwek yang pekat melambangkan fase keras namun sarat makna.
Sebagai penutup, Mousse Tape Singkong hadir dengan kesederhanaan bahan rakyat yang naik kelas.
Teksturnya yang ringan berpadu dengan meringue jahe dan coulis nangka, melambangkan kerendahan hati seorang ksatria sekaligus ruang refleksi atas ketekunan yang telah ditempuh.
Royal Dinner Mangkunegaran bukan sekadar jamuan rasa, melainkan penghormatan terhadap sejarah, disiplin, dan filosofi hidup yang tak lekang oleh waktu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Royal-Dinner-dalam-rangka-Adeging-Mangkunegaran-ke-269.jpg)