Jumat, 10 April 2026

Observasi Serangga Malam, Wadah Edukasi Berbasis Alam Jadi Alternatif Pembelajaran 

Edukasi berbasis pengalaman langsung dinilai penting menumbuhkan kepedulian anak dan keluarga terhadap alam, terutama di tengah dominasi pembelajaran

Penulis: Eko Sutriyanto
Editor: Erik S
HO/IST/IST/dok pribadi
EDUKASI DI ALAM - Tomy Tri Ivananto yang akrab dipanggil Joyobadik.  Ia mengatakan, edukasi berbasis pengalaman langsung dinilai penting untuk menumbuhkan kepedulian anak dan keluarga terhadap alam, terutama di tengah dominasi pembelajaran berbasis gawai 
Ringkasan Berita:
  • Edukasi berbasis pengalaman langsung dinilai penting untuk menumbuhkan kepedulian anak dan keluarga terhadap alam, salah satunya melalui observasi serangga malam 
  • Kegiatan Jelajah Serangga Nocturnal digelar selama Ramadan sebagai ruang belajar terbuka yang memadukan sains, kebersamaan, dan nilai religi
  • Antusiasme tinggi menunjukkan kebutuhan masyarakat akan alternatif pembelajaran berbasis alam yang mudah diakses.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA —  Edukasi berbasis pengalaman langsung dinilai penting untuk menumbuhkan kepedulian anak dan keluarga terhadap alam, terutama di tengah dominasi pembelajaran berbasis gawai.

Pemilik agroeduwisata Nara Kupu Jogja, Rayhan Christian Siego, menilai pengenalan alam sejak usia dini perlu dilakukan melalui interaksi nyata, salah satunya lewat observasi serangga malam.

“Dengan observasi serangga malam, anak-anak diajak belajar secara langsung, bukan hanya lewat buku atau layar gawai,” ujar Rayhan dalam keterangannya, Selasa (3/2/2026).

Ia menjelaskan, serangga kerap dianggap makhluk kecil yang sepele, padahal memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.

Melalui pendekatan berbasis pengalaman, anak-anak dapat memahami fungsi tersebut secara lebih utuh sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan.

Berangkat dari gagasan itu, digelar kegiatan Jelajah Serangga Nocturnal selama bulan Ramadan 2026.

Baca juga: Bhabinkamtibmas Lowokwaru Ajak Siswa SD Belajar Karakter Melalui Pengenalan Alam

Kegiatan dirancang sebagai ruang belajar terbuka agar peserta tidak hanya menerima pengetahuan secara teoritis, tetapi juga mengalami proses belajar langsung di alam.

Program ini terbuka untuk semua usia dan dikemas ramah keluarga, dengan memadukan edukasi sains, kebersamaan, serta nuansa religi khas Ramadan.

"Selain pengenalan serangga juga membawa pesan kampanye Cintai Alam, Cintai Lingkungan Beserta Habitatnya, dengan menekankan peran serangga dalam penyerbukan, rantai makanan, dan keberlangsungan kehidupan manusia,' katanya.

Manager sekaligus Event Manager kegiatan, Joyobadik mengatakan, peserta diajak mengenal kehidupan serangga nocturnal menggunakan metode Light Trapping, yakni membentangkan kain putih yang disorot lampu untuk menarik serangga malam.

Metode ini memungkinkan peserta mengamati langsung berbagai jenis serangga, mengenali bentuk tubuh, perilaku, serta peran ekologisnya secara sederhana.

Tanpa proses pendaftaran yang rumit, kegiatan ini mendapat respons tinggi dari masyarakat. Dalam tiga hari sejak dibuka, lebih dari 350 orang tercatat mendaftar. Antusiasme tersebut mencerminkan kebutuhan masyarakat akan alternatif ruang belajar yang sehat dan berbasis alam.

Joyobadik menegaskan, kegiatan ini diarahkan untuk menghadirkan edukasi yang inklusif dan mudah diakses, sehingga anak-anak, remaja, hingga orang tua dapat belajar dengan cara menyenangkan melalui pengalaman langsung.

"Untuk memperkuat materi edukasi, kegiatan ini melibatkan pendidik dan relawan dari Agenda Sekolah Alam, KSE Biologi UGM, dan KSH Biologi UGM, yang mendampingi peserta selama observasi serta berbagi pengetahuan praktis seputar dunia serangga,' katanya.

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved