Siswa SD di NTT Meninggal
Beda Reaksi Bupati Ngada dan Gubernur Terkait Kematian Murid SD di NTT, Melki Laka Lena Merasa Malu
Gubernur NTT Melki Laka Lena mengatakan kasus bunuh diri murid SD berinisial YBR (10) di Kabupaten Ngada adalah cerminan pemerintah gagal
Ringkasan Berita:
- Gubernur NTT Melki Laka Lena menyebut kematian murid SD YBR di Ngada sebagai bukti kegagalan pemerintah dan sistem sosial melindungi warga miskin.
- Ia menilai YBR diduga meninggal karena kemiskinan yang membuatnya terkendala buku dan alat tulis, serta mengecam lambannya respons pemerintah daerah.
- Sementara itu, Bupati Ngada Raymundus Bena menilai penyebab kematian YBR belum bisa disimpulkan dan bisa dipengaruhi faktor lain yang lebih kompleks.
TRIBUNNEWS.COM, NGADA - Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena (49) mengatakan kasus bunuh diri murid SD berinisial YBR (10) di Kabupaten Ngada adalah cerminan pemerintahan gagal.
YBR diduga mengakhiri hidup karena terkendala buku dan alat tulis di sekolah sementara orangtuanya tidak mampu membiayai.
Pernyataan tegas itu disampaikan Gubernur Melki saat sambutan pada acara peluncuran dan peresmian Fakultas Kedokteran Universitas Citra Bangsa (UCB) Kupang, Rabu (4/2/2026).
"Tadi malam saya cek terakhir, belum ada perwakilan Pemda Ngada yang turun ke rumah duka. Ini gila namanya. Dalam situasi seperti ini, kita gagal sebagai pemerintah," tegas Gubernur Melki.
Ia menyatakan rasa malu sebagai kepala daerah atas peristiwa tersebut. Menurutnya, negara dan pemerintah daerah telah lalai dalam melindungi warganya, terlebih anak-anak.
"Malu saya sebagai gubernur. Masa ada warga negara yang mati karena hal seperti ini. Kalau ini terjadi, berarti kita gagal mengurus warga kita sendiri," katanya dengan nada keras.
Baca juga: Bocah SD yang Akhiri Hidup di Ngada Dikenal Pintar dan Jujur, Nyambi Jualan Sayuran dan Kayu Bakar
Mantan anggota DPR RI itu menegaskan, korban meninggal bukan karena persoalan sepele, melainkan karena kemiskinan yang tidak tertangani oleh sistem pemerintahan dan sosial.
"Di saat kita duduk dengan nyaman, ada seorang warga Indonesia asal NTT, khususnya di Kabupaten Ngada, yang mati karena dia miskin," ujarnya.
Untuk memastikan informasi tersebut, gubernur mengaku telah menghubungi langsung pimpinan daerah setempat. Namun hingga beberapa waktu, tidak mendapat respons.
"Saya kirim pesan WhatsApp ke pimpinan daerahnya, tapi lama sekali responnya. Karena itu saya perintahkan orangsaya untuk turun langsung mengecek ke lapangan," ungkapnya.
Melki menilai peristiwa ini sebagai kegagalan menyeluruh, tidak hanya pemerintah, tetapi juga pranata sosial dan keagamaan.
"Pranata agama gagal, pranata sosial gagal, pemerintahan juga gagal, sampai orang bisa mati karena miskin seperti ini," tegasnya.
Ia menekankan agar kejadian serupa tidak boleh terulang kembali di wilayah NTT dan meminta seluruh kepala daerah lebih peka serta hadir secara nyata di tengah masyarakat.
"Kejadian seperti di Ngada ini harus menjadi yang pertama dan terakhir," kata Gubernur Melki.
Politikus Partai Golkar itu meminta agar semua perangkat sosial diaktifkan guna meminimalisir kejadian serupa terulang. Ia menyebut, ada cukup anggaran untuk mengurai masalah seperti ini.