Ketua BEM UGM Diteror
Ketua BEM UGM Diteror oleh Nomor dari Inggris Raya, Pesan Teror: Agen Asing, Culik Mau?
Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto mengatakan teror pesan singkat yang diterimanya berbahasa Indonesia tapi nomornya dari Inggris Raya.
“Ada satu ironi yang luar biasa yang mendorong teman-teman BEM UGM untuk mengirimkan surat kepada UNICEF. Ini adalah ikhtiar sekaligus wajah paling nyata, bahwa di republik ini tidak ada lagi yang bisa diharapkan,” katanya saat ditemui di Bundaran UGM, Jumat (13/2/2026).
“Rasanya pak presiden ini tidak sadar bahwa beliau punya ketidaktahuan terhadap realitas ini. Ketidaktahuan itu kita ambil sebagai diksi stupid. Karena dalam KBBI, bodoh itu artinya tidak tahu. Maka kita ingin supaya ada pihak luar yang didengar oleh Presiden, ketimbang publiknya sendiri,” sambungnya.
Ajak Dunia Menegur Indonesia
Melalui surat itu, ia ingin mengajak dunia untuk ikut menegur pemerintah Indonesia. Pemerintah Indonesia salah meletakkan prioritas.
Mestinya prioritas pemerintah Indonesia adalah peningkatan pendidikan dan kesehatan.
Pascapengiriman surat, ia telah dihubungi oleh pensiunan UNICEF dan akan membantu menyampaikan langsung ke Direktur Eksekutif UNICEF, Chaterine Russell.
Ia menilai teror yang diterima merupakan bahasa kekuasaan. Menurut dia, apapun ekspresi rakyat yang cinta pada bangsanya harus dilindungi.
“Tidak boleh dianggap sebagai ancaman. Ketika orang yang peduli pada bangsa yang dianggap ancaman, maka orang-orang yang akan bertahan adalah mereka yang cenderung menjajah negaranya dengan cara memperbaiki mulutnya supaya Bapak senang, supaya Bapak Presiden senang,” lanjutnya.
Tak Gentar, Semakin Melawan
Meski banyak teror yang menimpanya, ia tidak gentar menyuarakan kegelisahannya. Ia memegang prinsip ‘something doesn’t kill you will make you stronger’.
Pun sikap BEM UGM tidak akan berubah meski teror menimpanya.
“Kami (BEM UGM) punya slogan yang sering diucapkan setiap ketemu di jalan ‘semakin ditekan, semakin melawan’. Jadi justru para peneror harus tahu, semakin meneror kita, itu justru semakin bahaya bagi mereka. Saya yakin negara, pemerintah nggak akan bunuh saya. Karena kalau bunuh saya, bahayanya akan lebih besar ketimbang keuntungannya,” ungkapnya.
Baca juga: Sosok Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto, Diteror hingga Dikuntit Dua Orang Berbadan Tegap
Ia berharap teror yang ia terima adalah yang terakhir.
Teror yang ia terima merupakan alarm yang menunjukkan demokrasi Indonesia tidak baik-baik saja.
“Saya harap ini terakhir kalinya, tidak hanya BEM UGM. Tidak boleh lagi ada peristiwa teror, penguntitan kepada orang lain atau lembaga lain. Karena di dalam negara demokrasi, kebebasan bukan diberikan oleh negara, tapi ada dalam sendirinya sebagai warga negara,” imbuhnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Tiyo-Ardianto-Ketua-BEM-UGM.jpg)