Jumat, 5 Juni 2026

Lari Dulu, Sate Kambing Kemudian: Antara Balas Dendam Kalori dan Identitas Solo

Habis lari berkilo-kilometer, sarapan sate kambing. Antara sehat dan "balas dendam" kalori, Solo punya ceritanya sendiri.

Tayang:
Tribunnews.com/Muhammad Renald Shiftanto
SATE PAK MARDI - Proses pemanggangan sate di Warung Sate Pak Mardi yang terletak di Jl Yosodipuro No.22, Ketelan, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta, Jawa Tengah, Jumat (13/2/2026) 

TRIBUNNEWS.COM - Matahari mulai meninggi, Jumat (13/2/2026) lalu.

Nafi bersama rekan-rekannya dari Surabaya, Jawa Timur, baru saja menuntaskan larinya di kawasan Stadion Manahan Solo, Jawa Tengah.

Keringatnya masih belum kering, napasnya masih terengah, Nafi dan teman-temannya langsung menuju warung sate kambing.

Nafi dan lima temannya sengaja datang jauh-jauh dari Surabaya ke Solo untuk agenda kuliner.

Ia mengaku olahraga terlebih dahulu sebelum menyantap aneka olahan daging kambing supaya tidak merasa bersalah.

"Memang pengen sarapan sate, makanya olahraga dulu biar nggak merasa bersalah," kata Nafi.

Makanan yang ringan biasanya disantap oleh sebagian orang setelah olahraga.

Tapi bagi Nafi, olahraga justru menjadi pembuka jalan menuju tengkleng, sate buntel, sate kambing, hingga jeroan.

"Balas dendam," ujar Nafi sambil tertawa.

"Jadi pas makan nggak merasa bersalah," lanjutnya.

sate kambing pak mardi sdfawsefawef
SATE PAK MARDI - Pelanggan warung Sate Kambing Pak Mardi saat makan dan menunggu pesanan datang, Jumat (13/2/2026). Warung Sate Pak Mardi terletak di barat Pura Mangkunegaran, tepatnya di Jl Yosodipuro No.22, Ketelan, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta, Jawa Tengah.

Dari Ritual ke Warung Pagi hari

Seorang profesor filologi Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Bani Sudardi, mengatakan kuliner kambing ternyata sudah dikenal di Nusantara sejak abad ke-7, bahkan tergambar pada relief Candi Borobudur.

Namun, dalam tradisi Jawa lama, kambing bukanlah makanan harian.

"Daging dulu adalah keistimewaan. Biasanya untuk pesta, upacara, atau perayaan tertentu," jelasnya.

Aneka masakan kambing baru berkembang sekitar abad ke-19 hingga abad ke-20, dengan pusat awal di wilayah Boyolali dan sekitarnya.

Ia menceritakan awalnya olahan daging kambing dijual dengan dipikul keliling.

Sesuai Minatmu
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved