Senin, 20 April 2026

Dari Kandang ke Program MBG: Kebangkitan Susu Boyolali Menggerakkan Ekonomi Daerah

Serapan susu naik lewat MBG, Boyolali kian kokoh jadi tulang punggung Jateng dan ekonomi peternak pun bergerak.

Tribunnews.com/Alfin Wahyu Yulianto
Pengurus Koperasi Usaha Dagang (KUD) Mojosongo, Sriyono, saat ditemui di Kantor KUD Susu Mojosongo, Kecamatan Boyolali, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Senin (23/2/2026) siang. KUD Mojosongo menampung ribuan liter susu dari peternak lokal setiap hari sebelum disalurkan ke industri pengolahan, seiring meningkatnya kebutuhan pasokan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). 

TRIBUNNEWS.COM  - Susu merupakan salah satu sumber protein dan nutrisi penting bagi masyarakat. Namun, tingkat konsumsi susu di Indonesia masih tergolong rendah, yakni sekitar 16,3 kilogram per kapita per tahun. 

Angka ini tertinggal dibandingkan Thailand, Malaysia, dan Vietnam yang konsumsinya 50–100 persen lebih tinggi.

Selain faktor daya beli dan pola konsumsi, tantangan distribusi di negara kepulauan menjadi penyebab utama. 

Sebagai produk bernutrisi yang mudah rusak, susu membutuhkan sistem distribusi yang mampu menjaga kualitas dan keamanannya sejak dari kandang hingga sampai ke tangan konsumen. 

Keterbatasan infrastruktur rantai dingin di berbagai wilayah meningkatkan risiko penurunan mutu dan membatasi akses masyarakat terhadap susu yang aman.

Situasi ini menjadi semakin relevan dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah. Dalam program tersebut, susu menjadi salah satu komponen utama pemenuhan gizi.

Serapan Meningkat Sejak MBG

Pengurus Koperasi Usaha Dagang (KUD) Mojosongo, Sriyono, mengatakan sebelum MBG berjalan pada 2024, sempat terjadi pembatasan penyerapan susu lokal oleh industri. 

Kondisi itu membuat peternak khawatir karena produksi tidak sepenuhnya terserap.

“Sekarang kebutuhan susu nasional meningkat. Industri banyak yang mengolah susu UHT menggunakan bahan baku susu lokal. Artinya, saat ini penyerapan memang bagus, jadi tidak ada kendala bagi peternak memasarkan susu,”  kata Sriyono di Kantor KUD Susu Mojosongo, Kecamatan Boyolali, Kabupaten Boyolali, Senin (23/2/2026) siang.

Ia menjelaskan, sejak MBG berjalan, permintaan dari industri meningkat signifikan. Jika sebelumnya KUD mengirim sekitar 30 ton, kini permintaan bisa mencapai 40 ton untuk memenuhi kebutuhan program tersebut.

Kebijakan itu sejalan dengan instruksi Presiden kepada industri pengolahan susu agar menyerap produksi peternak dalam negeri. 

Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, sebelumnya menyebut Indonesia masih mengimpor sekitar 80 persen kebutuhan susu nasional, sehingga penguatan produksi lokal menjadi prioritas.

Proses Pengumpulan dan Pendinginan

KUD Mojosongo menaungi sekitar 500 hingga ribuan peternak di wilayah Boyolali dan menjadi salah satu penyuplai terbesar di Jawa Tengah.

Sriyono menjelaskan, proses dimulai dari peternak yang mengumpulkan susu di titik-titik penampungan. 

Pegawai KUD Susu Mojosongo menuangkan susu segar dari peternak ke dalam jeriken penampungan di pos pengumpulan Dusun Logerit, Desa Butuh, Mojosongo, Boyolali, Jawa Tengah, Senin (23/2/2026). Susu yang terkumpul selanjutnya didinginkan sebelum dikirim ke industri pengolahan.
Pegawai KUD Susu Mojosongo menuangkan susu segar dari peternak ke dalam jeriken penampungan di pos pengumpulan Dusun Logerit, Desa Butuh, Mojosongo, Boyolali, Jawa Tengah, Senin (23/2/2026). Susu yang terkumpul selanjutnya didinginkan sebelum dikirim ke industri pengolahan. (Tribunnews.com/Alfin Wahyu Yulianto)

Petugas koperasi kemudian berkeliling mengambil susu tersebut untuk dibawa ke unit pendingin (cooling unit).

“Setelah diambil dari peternak, susu dibawa ke cooling unit untuk didinginkan. Dalam sehari kemampuan kami menampung sekitar 17 ribu liter. 

Susu didinginkan di suhu 2 derajat Celsius. Kalau sudah terkumpul 16 ton, baru kami kirim ke industri,” jelasnya.

Proses pendinginan ini penting untuk menjaga kualitas dan keamanan susu sebelum diolah lebih lanjut oleh industri, termasuk untuk kebutuhan MBG.

Tantangan Kualitas dan SDM

Meski permintaan meningkat, tantangan utama tetap pada kualitas nutrisi susu. Menurut Sriyono, kualitas sangat ditentukan oleh manajemen peternakan dan pakan ternak.

“Kami perlu meningkatkan SDM peternak bagaimana mengelola peternakannya dengan benar, supaya memberikan pakan yang bagus pada sapinya. Nutrisi susu erat kaitannya dengan pakan yang dikonsumsi sapi,” ujarnya.

Untuk itu, KUD Mojosongo tidak hanya membeli susu, tetapi juga memberikan edukasi dan pendampingan. 

Peternak didorong memperbaiki kualitas pakan, menggunakan mesin perah, serta menerapkan sistem penyediaan air minum otomatis dan menjaga kebersihan kandang.

“Kami tidak sekadar menjalankan bisnis atau membeli susu mereka, tapi membangun ekosistem antara peternak, koperasi, dan industri supaya ada keberlanjutan,” kata Sriyono.

Boyolali, Tulang Punggung Produksi Jateng

Secara regional, peran Boyolali sangat dominan. Dari total produksi susu Jawa Tengah sekitar 170 ton per hari, sekitar 130 ton berasal dari Boyolali

Hal ini menjadikan daerah tersebut sebagai tulang punggung pasokan susu di provinsi itu.

Peningkatan permintaan akibat MBG berdampak langsung pada perputaran ekonomi daerah.

Peternak kini memiliki kepastian pasar, sementara koperasi meningkatkan kapasitas dan kualitas pengelolaan.

Distribusi dan Pengemasan

Tantangan distribusi tetap menjadi perhatian utama, terutama dalam memastikan susu yang dikirim ke berbagai wilayah tetap aman dan bergizi. 

Tanpa sistem distribusi dan pengemasan yang memadai, risiko penurunan mutu akan meningkat.

Teknologi pengemasan aseptik menjadi salah satu solusi karena memungkinkan susu didistribusikan tanpa ketergantungan penuh pada rantai dingin, sekaligus menjaga keamanan dan kualitas nutrisi. 

Sejak 2024, kapasitas produksi kemasan aseptik dalam negeri mulai berjalan, memperkuat efisiensi rantai pasok dan mendukung kemandirian industri nasional.

Menjelang Ramadan, isu ini semakin relevan. Saat sahur, susu menjadi pilihan sumber nutrisi untuk membantu menjaga energi sepanjang hari. 

Ketersediaan produk yang aman dan berkualitas menjadi faktor penting dalam memastikan manfaat gizi dapat dirasakan secara optimal.

Dalam konteks tersebut, Program MBG tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi, tetapi juga mendorong penguatan ekosistem pangan lokal. 

Di Boyolali, peningkatan serapan susu menunjukkan bagaimana kebijakan nasional dapat berdampak langsung pada stabilitas ekonomi peternak dan ketahanan pangan daerah.(Tribunnews/Alfin Wahyu Yulianto)

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved