Oknum Perwira Polisi Disebut Tembak Pemuda hingga Tewas di Makassar, Ini Pengakuan Saksi
Kepala Advokasi Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Makassar Muhammad Ansar mengatakan tembakan tersebut dilepaskan oknum perwira.
Setelah masuk ke daerah Toddopuli Raya, insiden tabrakan terjadi di sekitar lokasi tersebut.
Namun ia menegaskan, tabrakan itu terjadi sesama pihak yang disebutnya sebagai kelompok penyerang.
“Eh di situ mulai kejadian situ tabrakan, tabrakan sesama yang menyerang. Iya (tabrakan) tapi sesamanya ji yang menyerang. Terus anak-anak tembaki dia, tembak mainan,” ungkapnya.
DN menjelaskan mendengar suara dari pihak lawan yang sedang mengokang sejata.
“Pas tidak lama itu, katanya ini lawan, katanya makkokang (mengokang senjata). Terus kata ini korban, dia bilang ‘saya dikena, dipukul’ sama itu yang lawan. Sudah itu, langsung korban ini langsung mi dia juga pukul dia, pukul lawan. Iya berkelahi dia,” jelasnya.
Tak lama setelah perkelahian berlangsung, polisi disebut datang dari arah Hertasning menggunakan mobil biasa.
“Tidak lama itu, ada datang polisi dari Hertasning. Pakai mobil biasa. Terus tidak lama itu, dia turun, angkat senjata tembak mi satu kali, terus saya lari masuk,” ungkapnya.
Ia mengaku langsung menyelamatkan diri saat mendengar letusan tersebut.
Dari dalam tempat ia berlindung, DN melihat korban sudah diangkat.
“Pas saya di dalam, melihat ke luar, ini korban sudah diangkat. Eh, saya juga tidak tahu (terkapar atau tidak) itu karena saya di dalam. Kan saya jauh, jadi saya tidak bisa lihat itu darah. Tapi keterangan yang lain dia bilang ada darah,” kata dia.
Kesedihan Sang Ibu
Desi Manuhutu, mengaku tidak sanggup melihat video penembakan putranya itu. Desi mengaku berada di Jakarta saat anaknya meninggal dunia.
Ia menerima informasi meninggalnya Bertrand Eka Prasetyo sekitar pukul 11.00 Wita.
Anaknya diduga ditembak sekitar pukul 07.00 Wita.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ilustrasi-penembakan-652020.jpg)