Kamis, 4 Juni 2026

Jembatan Mahakam Sering Ditabrak Kapal, Akademisi Soroti Lemahnya Pengawasan Sungai

Jembatan Mahakam ditabrak 20 kali setahun! Akademisi Unmul kritik pengawasan, Pelindo siap tindak tegas SDM lalai. Simak ulasan lengkapnya.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: willy Widianto
TRIBUNKALTIM.CO
JEMBATAN MAHAKAM — Jembatan Mahakam I di Samarinda, Kalimantan Timur, yang kerap ditabrak kapal. Seringnya insiden pada infrastruktur logistik utama Kalimantan Timur ini memicu audit operasional besar-besaran oleh Pelindo dan desakan evaluasi total tata kelola sungai dari akademisi. 

Ringkasan Berita:
  • Evaluasi Total: Akademisi Unmul sebut tabrakan berulang bukti tata kelola sungai belum sebanding aktivitas pelayaran.
  • Dampak Ekonomi: Penutupan jembatan pasca-insiden picu antrean logistik panjang yang rugikan distribusi barang pokok masyarakat.
  • Sanksi Tegas: Pelindo investigasi internal dan siapkan tindakan tegas jika ditemukan kelalaian SDM operasional.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Berulangnya insiden kapal menabrak pilar Jembatan Mahakam I di Samarinda, Kalimantan Timur, menunjukkan bahwa pengawasan alur sungai saat ini belum sebanding dengan pesatnya aktivitas pelayaran. 

Akademisi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulawarman (Unmul), Chairul Anwar, menilai rentetan kejadian ini bukan semata kecelakaan transportasi, melainkan bukti lemahnya tata kelola infrastruktur vital.

Menurutnya, meski lalu lintas sungai semakin padat, aspek pengawasan di lapangan tidak ikut diperkuat secara proporsional.

"Kalau dulu jembatan ditabrak itu jarang sekali, tapi sekarang semakin sering. Lalu lintasnya makin padat, tapi pengawasannya tidak ikut diperkuat," kata Chairul dalam keterangannya, dikutip Kamis (12/3/2026).

Ia menyoroti pola penanganan otoritas yang selama ini cenderung hanya berkutat pada perbaikan kerusakan fisik dan nilai ganti rugi, tanpa memperhitungkan dampak ekonomi sistemik.

Chairul menegaskan bahwa setiap kali jembatan ditutup atau diperiksa pasca-tabrakan, terjadi antrean truk logistik dan keterlambatan distribusi barang pokok yang merugikan masyarakat luas secara materiil.

Ia juga menyoroti adanya ketimpangan manfaat ekonomi.

Menurut analisisnya, daerah nyaris tidak menerima keuntungan signifikan begitu muatan batu bara berpindah ke kapal di sungai, sementara risiko kecelakaan hingga potensi pencemaran minyak sepenuhnya ditanggung oleh masyarakat Kalimantan Timur.

Ia memandang sudah saatnya otoritas pusat seperti Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP), Pelindo, dan Balai Wilayah Sungai (BWS) menurunkan ego sektoral dengan melibatkan pemerintah daerah secara aktif guna menciptakan sistem pengawasan yang lebih responsif.

Bagi Chairul Anwar, evaluasi mendalam terhadap pengelolaan Sungai Mahakam sangat krusial agar aktivitas ekonomi di jalur perairan tersebut tidak terus memberikan dampak negatif bagi keamanan publik.

Ia berharap ada langkah nyata yang melampaui sekadar perbaikan fisik jembatan.

"Yang lebih besar adalah bagaimana pengelolaan Sungai Mahakam berdampak pada kehidupan rakyat Kaltim. Kita tidak boleh terus-menerus hanya menanggung kerugiannya," pungkasnya.

Baca juga: Viral Land Rover Pelat Merah Dipakai Wali Kota Samarinda, Biaya Sewanya Rp160 Juta per Bulan

Respons Pelindo

Secara terpisah, Manajemen Pelindo Regional IV telah menyampaikan permohonan maaf atas peristiwa terbaru yang melibatkan kapal jenis Self Propelled Oil Barge (SPOB) atau kapal tanker pengangkut BBM pada 8 Maret 2026.

General Manager Pelindo Regional IV, Suparman, menyatakan pihaknya menaruh perhatian serius dan sedang melakukan investigasi internal menyeluruh.

Meski proses pemanduan kapal diklaim telah melibatkan assist tug (kapal bantu) dan escort (kapal pengawal) sesuai prosedur, hantaman pada fender atau pilar pelindung tetap tidak terhindarkan.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved