Mudik Lebaran 2026
Macet Parah di Gilimanuk hingga 20 Km, Pemudik Terjebak Belasan Jam
antrean kendaraan pada 16 Maret masih didominasi mobil pribadi dan sempat mengular hingga Desa Tukadaya
Ringkasan Berita:
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Macet horor terjadi di jalur mudik menuju Pelabuhan Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Bali.
Antrean kendaraan pada 16 Maret masih didominasi mobil pribadi dan sempat mengular hingga Desa Tukadaya, Kecamatan Melaya, sekitar 20 kilometer dari pelabuhan.
Total penumpang yang menyeberang dari Bali ke Jawa dari Pelabuhan Gilimanuk mulai H-10 sampai H-7 tercatat 152.224 orang atau turun 11,7 persen dibandingkan realisasi periode sama tahun lalu sebanyak 172.419 orang.
Menurut informasi terakhir yang diperoleh Tribun Bali, antrean kendaraan sempat menyentuh di Kecamatan Negara pada dini hari. Namun kemarin, antrean masih di Desa Tukadaya, Kecamatan Melaya atau berjarak sekitar 20 kilometer dari Pelabuhan Gilimanuk.
Artinya arus mudik masih terus meningkat sejak kemarin hingga saat ini.
Sementara pantauan di lapangan, jalur khusus untuk sepeda motor justru masih tampak lengang.
Namun begitu, suasana di jalur utama masuk ke Terminal Kargo Gilimanuk dan gang pemukiman warga masih penuh.
“Saya berangkat jam 12 malam kemarin. Tiba di sini (Terminal Kargo Gilimanuk) jam 17.00 WITA,” ucap seorang sopir travel, Ipung (50) saat ditemui Tribun Bali, kemarin.
Dia mengakui, tahun ini merupakan kondisi macet paling parah dibandingkan tahun sebelumnya.
Sebab, jika sebelumnya kemacetan hanya sampai di Hutan Cekik atau berjarak sekitar 5-7 kilometer.
“Kami harap ke depannya tak seperti ini lagi,” harapnya.
Pemudik lain Dewi (56) mengakui berangkat dari rumahnya di Jembrana pukul 09.00 WITA. Namun dia serta keluarganya justru terjebak macet panjang.
Baca juga: Penyebab Kemacetan Parah di Pelabuhan Gilimanuk Bali: Pemudik Ingin Hindari Penutupan saat Nyepi
Parahnya, sekitar pukul 05.00 pagi, dirinya baru masuk ke kawasan Terminal Manuver Pelabuhan Gilimanuk.
“Dari pagi ketemu dini hari baru masuk pelabuhan. Macetnya parah,” ucapnya.
Dewi mengakui, arus mudik kali ini sangat melatih kesabaran pikiran dan mental. Mengingat, kondisi kemacetan yang begitu parah dan terjebak belasan jam dalam antrean kendaraan.
Ia menyebut tahun ini mungkin jadi antrean kendaraan terpanjang sepanjang sejarah arus mudik menuju Pelabuhan Gilimanuk.
“Semoga ini jadi pelajaran bersama dan pihak berwenang bisa mencari solusi agar di tahun ke depan tidak seperti ini lagi,” harapnya.
Sementara itu, penyebab kemacetan diduga karena adanya banyak kendaraan yang menyerobot antrean lain sehingga benturan dengan kendaraan di jalur lawan.
Selain itu, peningkatan volume kendaraan dan juga masih banyaknya truk besar yang melintas di jalur nasional Jalan Raya Denpasar-Gilimanuk.
Berdasarkan data Posko Gilimanuk selama 24 jam (periode 14 Maret 2026 pukul 00.00 hingga pukul 23.59 WIB) atau H-7, tercatat jumlah trip di Pelabuhan Gilimanuk sebanyak 234 trip.
Adapun realisasi total penumpang yang menyeberang dari Bali ke Jawa melalui Pelabuhan Gilimanuk pada H-7 mencapai 54.652 orang atau naik 8,1 persen dibandingkan realisasi periode yang sama tahun lalu sebanyak 50.545 orang.
Tercatat realisasi kendaraan roda dua yang telah menyeberang pada H-7 mencapai 10.733 unit atau naik 37,5 persen dibandingkan realisasi tahun lalu yaitu 7.808 unit.
Kendaraan roda empat mencapai 4.610 unit atau naik 0,7 persen dibandingkan realisasi periode yang sama tahun lalu sebanyak 4.577 unit.
Baca juga: Macet Horor di Pelabuhan Gilimanuk 18 Km, Polisi Atur Titik Kepadatan Kendaraan
Kemudian, total truk yang menyeberang mencapai 1.986 unit atau naik 2,3 persen dibandingkan realisasi periode yang sama tahun lalu sebanyak 1.941 unit.
Sedangkan, total bus yang menyeberang mencapai 503 unit atau turun 22,9 persen dibandingkan realisasi periode yang sama tahun lalu sebanyak 652 unit.
Total seluruh kendaraan tercatat 17.832 unit yang telah menyeberang dari Bali ke Jawa dari Pelabuhan Gilimanuk pada H-7 atau naik 19,1 persen dibandingkan realisasi periode dengan tahun lalu sebanyak 14.978 unit.
Sedangkan total penumpang yang menyeberang dari Bali ke Jawa dari Pelabuhan Gilimanuk mulai dari H-10 sampai H-7 tercatat 152.224 orang atau turun 11,7 persen dibandingkan realisasi periode sama tahun lalu sebanyak 172.419 orang.
Untuk total kendaraan yang telah menyeberang tercatat 48.877 unit atau turun 5,6 persen dibandingkan realisasi periode sama tahun lalu sebanyak 51.770 unit.
Patuhi SKB
Kapolres Jembrana, AKBP Kadek Citra Dewi Suparwati berharap, seluruh truk yang masih beroperasi mematuhi Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang Pengaturan Lalu Lintas Lebaran 2026 terkait pembahasan truk sumbu tiga ke atas dan kendaraan non logistik sebagai antisipasi kemacetan semakin parah.
“Yang dikecualikan adalah kendaraan mengangkut bahan pokok penting (bapokting), BBM, gas, dan lainnya strategis. Kami imbau untuk tetap mengikuti aturan dan arahan dari petugas,” ungkapnya.
AKBP Citra juga mengakui bakal melakukan langkah-langkah situasional terkait pengaturan kendaraan agar tidak menumpuk di jalur nasional.
“Kita lihat situasinya, jika truk sudah berkurang tentunya kantong parkir itu akan kita manfaatkan menampung kendaraan kecil agar tidak menumpuk di jalur nasional,” kata dia.
Selain itu, aksi “ngeblong” atau menyerobot jalur yang dilakukan oknum pengendara di tengah kepadatan menjadi faktor utama yang mengunci pergerakan arus lalu lintas dan memicu ketegangan antar-pengguna jalan.
Guna meredam kekacauan tersebut, Polda Bali mengerahkan personel secara masif untuk melakukan rekayasa lalu lintas di titik-titik krusial.
Polisi secara tegas menghalau kendaraan yang mencoba keluar dari barisan antrean untuk menyerobot jalur kanan.
Selain pengaturan di lapangan, penyekatan kendaraan bersumbu tiga ke atas juga dilakukan mulai dari wilayah Denpasar, Badung, hingga Tabanan.
Kendaraan besar ini diarahkan menuju buffer zone untuk menerapkan delay system agar volume kendaraan tidak tumpah secara bersamaan di area pelabuhan.
Petugas kepolisian yang berpatroli dengan kendaraan roda dua harus menyisir barisan antrean untuk membangunkan para sopir yang tertidur di balik kemudi.
Hal ini dilakukan guna memastikan tidak ada celah kosong dalam antrean yang berpotensi dimanfaatkan oleh penyerobot jalur atau menghambat laju kendaraan.
Karo Ops Polda Bali, Kombes Pol. Soelistijono menyatakan, pihaknya tengah berupaya keras mengimbangi volume kendaraan dengan kelancaran proses bongkar muat.
Salah satunya melalui penerapan pola Tiba–Bongkar–Berangkat (TBB) di Pelabuhan Ketapang untuk mempercepat rotasi kapal.
“Polda Bali bersama seluruh pemangku kepentingan terus berupaya mengurai kepadatan kendaraan menuju Pelabuhan Gilimanuk melalui berbagai langkah, mulai dari pengaturan dan rekayasa lalu lintas hingga penerapan sistem penundaan kendaraan,” ujar Kombes Pol. Soelistijono, Senin 16 Maret 2026.
Pihak kepolisian juga memberikan peringatan keras bagi para pengemudi yang mencoba mengambil keuntungan dengan memotong jalur antrean. Menurutnya, ketidaksabaran satu pengemudi dapat berdampak pada kemacetan panjang bagi ribuan orang lainnya.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tertib, mengikuti arahan petugas di lapangan, serta menjaga keselamatan selama perjalanan. Jangan ada yang menyerobot antrean karena itu hanya akan memperparah situasi dan memicu konflik di lapangan,” paparnya.
Kendaraan Membeludak Lebih Awal
Gubernur Bali, Wayan Koster menanggapi kemacetan horor yang terjadi di jalur Denpasar-Gilimanuk saat Mudik Lebaran 2026.
Usai Rapat Koordinasi Penanganan Konflik Sosial di Gedung Wiswa Sabha Utama, Kantor Gubernur Bali, Senin 16 Maret 2026, Koster mengungkapkan kemacetan di jalur Gilimanuk dipicu oleh lonjakan signifikan wisatawan domestik yang masuk ke Bali melalui jalur darat.
“Terdapat kenaikan wisatawan nusantara sebesar 19 persen dibandingkan periode yang sama pada Maret 2025 lalu. Sementara itu, kunjungan wisatawan mancanegara juga mengalami peningkatan sebesar 6 persen. Wisatawan domestik yang datang ke Bali meningkat besar sekali, ditambah lagi banyaknya angkutan logistik yang terjebak macet,” jelas Koster.
Lebih lanjut Koster mengatakan, untuk mengantisipasi kemacetan yang berkepanjangan, Koster telah menginstruksikan Dinas Perhubungan dan Dirlantas untuk melakukan langkah cepat dalam mengurai arus lalu lintas.
Ia mengakui kepadatan ini di luar prediksi, di mana arus kendaraan sudah membeludak pada 14-15 Maret, lebih awal dari prediksi puncak arus yang diperkirakan pada 17-18 Maret.
Selain faktor volume kendaraan, Koster menyoroti kondisi infrastruktur jalan Denpasar-Gilimanuk yang sudah tidak memadai untuk menampung beban kendaraan saat ini.
“Kita tidak menyangka akan seramai itu, tapi memang kondisi jalan kita sudah tidak memadai. Dari Gilimanuk menuju Denpasar dan Badung itu padat sekali,” katanya.
Saat disinggung mengenai penambahan armada kapal oleh ASDP, mantan anggota DPR RI ini menyebutkan pihak ASDP sebenarnya sudah menambah jumlah kapal.
Namun, persoalan utama terletak pada akses darat setelah keluar dari pelabuhan.
Menurutnya, pembenahan infrastruktur jalan sangat mendesak karena kendaraan logistik sering kali menjadi pemicu antrean panjang.
“Jalur Gilimanuk-Denpasar itu banyak tikungan dan tanjakan. Kalau kendaraan logistik sudah lewat, jalannya lambat sekali. Di belakangnya ada bus lagi, jadinya antrean panjang,” imbuhnya.
Sebagai solusi jangka pendek, Koster tengah mempertimbangkan kebijakan baru berupa Surat Edaran (SE) untuk mengatur pergerakan kendaraan logistik.
“Saya sedang mempertimbangkan untuk membuat kebijakan melalui surat edaran guna mengatur pergerakan kendaraan logistik, baik yang masuk maupun yang beroperasi di dalam Bali,” kata dia.
Artikel ini telah tayang di Tribun-Bali.com dengan judul 152.224 Penumpang Menyeberang dari Bali, Arus Mudik Masih Mengular hingga Puluhan Kilometer
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/MACET-PARAH-GILIMANUK.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.