Fakta Kebakaran Truk Pengangkut Gas di Sukabumi, Sopir Selamat hingga Ada Warga Terdampak
Inilah kumpulan sejumlah fakta dari peristiwa terbakarnya truk pengangkut gas LPG 3 kilogram di Sukabumi, Jawa Barat, Kamis (27/3/2026).
"Dari arah Palabuhanratu sampai ke Batusapi, tapi cuman sebentar, karena memang petugas melakukan rekayasa arus dari arah Palabuhanratu menuju Sukabumi melalui Cikidang," ujar Hari.
3. Kronologi Kejadian
Kabid Pemadam Damkar Kabupaten Sukabumi, Erwin Adam Ridwan, mengatakan pihaknya mendapat laporan adanya kebakaran pada pukul 17.11 WIB.
"Tadi kita dapat laporan jam 17.11 WIB. Kita langsung meluncur ke TKP sekitar 10 menit kemudian," ujarnya.
Petugas pemadam kebakaran pun langsung melakukan pemadaman dengan menggunakan metode khusus karena yang terbakar adalah gas.
"Kita mencoba untuk memadamkan api, ternyata memang kami pakai liquid sejenis bom karena memang yang terbakar adalah gas mengandung minyak," ucap Erwin.
4. Warung Penjual Nasi Goreng Rusak
Peristiwa ini pun berdampak kepada warga sekitar.
Seorang penjual nasi goreng bernama Hendra tak bisa berjualan arena gerobaknya yang jadi satu-satunya sumber penghasilannya rusak akibat kebakaran truk yang mengangkut tabung LPG 3 kilogram.
Tenda tempatnya berjualan hangus terbakar, kaca pecah, dan roda gerobaknya rusak membuatnya tak bisa berjualan saat pembeli sedang ramai menjelang malam hari.
Kepada TribunJabar.id, kerugian yang dialaminya mencapai Rp4 juta.
"Mungkin roda hampir hancur semua, roda tempat jualan, jadi gak bisa jualan sama sekali,"
Baca juga: 3 Insiden Wisatawan Tewas Tenggelam saat Libur Lebaran, di Pantai Sukabumi, Kebumen dan Tasikmalaya
"Pecah semua kaca, kalau kerugian mungkin masalah roda antara 3-4 (juta), ya kesana gak bisa jualan lagi, lagi rame-ramenya,"
"Materi roda sama peralatan (3-4 juta)," ujar Hendra di lokasi.
Di tengah kepiluan, ada harapan datang setelah pihak pemilik pangkalan gas menyatakan kesediaannya untuk bertanggung jawab mengganti kerusakan yang terjadi.
"Udah, udah komunikasi sama pihak sana (pemilik gas), katanya nunggu kelar dulu ini, iya (tanggung jawab)," kata Hendra.
Potret ini menjadi gambaran nyata rapuhnya penghidupan pelaku usaha mikro di Indonesia ketika berhadapan dengan risiko di ruang publik.