Sabtu, 9 Mei 2026

Gempa di Sulut & Malut

Daerah Terdampak Gempa Bitung dan Tsunami, Minahasa Utara Alami Kenaikan Muka Air

Gempa M 7,6 Bitung picu tsunami di Sulut-Malut. Minahasa Utara tertinggi, warga panik, korban jiwa dan kerusakan dilaporkan.

Tayang:
Ringkasan Berita:
  • Gempa magnitudo 7,6 yang berpusat di Bitung memicu tsunami di sejumlah wilayah pesisir Sulawesi Utara dan Maluku Utara.
  • Minahasa Utara menjadi daerah dengan tinggi tsunami tertinggi, sementara Bitung, Belang, Halmahera Barat, Sidangoli, dan Ternate turut terdampak.
  • Selain korban jiwa, kerusakan bangunan dan kepanikan warga juga dilaporkan di beberapa wilayah.

TRIBUNNEWS.COM – Sejumlah wilayah di Sulawesi Utara dan Maluku Utara mulai terpetakan sebagai daerah terdampak usai gempa bumi magnitudo 7,6 yang berpusat di Kota Bitung pada Kamis (2/4/2026) pukul 05.48 WIB, memicu tsunami dengan ketinggian bervariasi di sejumlah titik pesisir.

Wilayah yang terdampak tidak hanya merasakan guncangan kuat, tetapi juga mengalami kenaikan muka air laut serta kerusakan infrastruktur.

Data yang dirilis Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan daerah terdampak tersebar mulai dari Bitung, Minahasa Utara, Belang, Halmahera Barat, Sidangoli, hingga Ternate.

Di antara wilayah terdampak, Minahasa Utara tercatat menjadi daerah dengan tinggi tsunami tertinggi, yakni mencapai 0,75 meter.

Sementara itu, Belang mengalami kenaikan muka air laut 0,68 meter, Sidangoli sebesar 0,35 meter, Halmahera Barat 0,3 meter, dan Bitung sendiri tercatat 0,2 meter.

Meski tinggi gelombang tsunami tercatat di bawah satu meter, kondisi ini tetap memicu kewaspadaan tinggi, terutama di wilayah pesisir yang rawan terdampak limpasan air laut dan gelombang susulan.

Selain terdampak tsunami, sejumlah wilayah juga dilaporkan merasakan guncangan gempa dengan intensitas kuat.

Kota Bitung dan Kota Ternate menjadi dua daerah yang disebut mengalami guncangan sangat kuat dengan durasi sekitar 10 hingga 20 detik.

Guncangan tersebut memicu kepanikan warga yang berhamburan keluar rumah dan bangunan untuk menyelamatkan diri.

Baca juga: Update Gempa Sulawesi Utara: Peringatan Dini Tsunami Dicabut, Terjadi 93 Kali Gempa Susulan

Aparat BPBD bersama dinas terkait di berbagai daerah kini masih melakukan monitoring, asesmen, dan koordinasi penanganan darurat.

Kerusakan dan Korban

Dari laporan awal yang dihimpun hingga pukul 08.00 WIB, dampak kerusakan infrastruktur mulai teridentifikasi di sejumlah wilayah.

Di Kecamatan Pulau Batang Dua, Kota Ternate, tercatat satu unit tempat ibadah mengalami kerusakan.

Sementara di Kelurahan Ganbesi, Kecamatan Ternate Selatan, dilaporkan dua unit rumah warga rusak akibat dampak gempa.

Tak hanya kerusakan bangunan, peristiwa ini juga menimbulkan korban jiwa.

Seorang warga dilaporkan meninggal dunia setelah ditemukan di antara reruntuhan Gedung Koni, Lapangan Olahraga Sario, Kota Manado, Sulawesi Utara. Korban kemudian dievakuasi oleh tim gabungan bersama masyarakat sekitar.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani menguraikan, dari pagi hingga pukul 12.00 WIB, sudah ada 93 kali gempa susulan.

"Dengan magnitudo 2,8 hingga 5,8 dan gempa dirasakan berjumlah 7 gempa," katanya dalam konferensi pers.

"Ini frekuensi yang terus kita pantau. Biasanya setelah satu atau dua hari trennya akan kita pelajari apakah akan berakhir satu minggu atau kadang-kadang dua minggu," lanjutnya.

Teuku Faisal melanjutkan, jenis gempa kali ini adalah gempa dangkal yang merusak akibat aktivitas kerak bumi.

"Dan mekanismenya pergerakan naik atau thrust fault," tegasnya.

BMKG mengingatkan bahwa gelombang pertama tsunami tidak selalu menjadi yang terbesar, sehingga masyarakat di wilayah pesisir tetap diminta waspada meski ketinggian air yang tercatat relatif rendah.

BMKG juga menegaskan bahwa waktu tiba gelombang di tiap wilayah dapat berbeda, sehingga warga di kawasan pantai dan muara sungai diminta tidak terburu-buru kembali ke area berisiko sebelum ada pernyataan resmi aman dari otoritas.

Di sisi lain, aktivitas kegempaan masih terus berlangsung. Hasil monitoring BMKG mencatat hingga pukul 06.50 WIB telah terjadi 11 kali gempa susulan (aftershock), dengan magnitudo terbesar mencapai 5,5.

Dua gempa susulan yang dinilai signifikan terjadi pada pukul 06.07 WIB dengan magnitudo 5,5 dan pukul 06.12 WIB dengan magnitudo 5,2, namun keduanya dinyatakan tidak berpotensi tsunami.

Baca juga: Meski Peringatan Dicabut, Warga Maluku Utara Masih Ketakutan dengan Isu Tsunami Pascagempa M 7,6

BNPB mengimbau masyarakat, khususnya di wilayah pesisir Sulawesi Utara dan Maluku Utara, untuk tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan.

Warga diminta menjauhi pantai, muara sungai, dan area rendah di pesisir, serta segera melakukan evakuasi ke tempat yang lebih tinggi jika merasakan gempa kuat atau menerima peringatan resmi dari otoritas.

Selain itu, masyarakat juga diimbau membantu kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan penyandang disabilitas saat proses evakuasi.

Warga juga diminta menghindari bangunan yang mengalami kerusakan karena berisiko roboh akibat gempa susulan.

Hingga kini, pendataan dampak gempa dan tsunami masih terus dilakukan oleh pemerintah daerah dan instansi terkait.

Informasi mengenai jumlah korban, kerusakan, serta kondisi daerah terdampak diperkirakan masih akan terus berkembang.

(Tribunnews.com/Chrysnha, Endra)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved