Dirut RSHS Bandung Buka Suara Soal Bayi Nyaris Tertukar, Sebut Petugas Tak Sengaja
Dirut RSHS ungkap bayi nyaris tertukar akibat distraksi petugas, bukan praktik ilegal. Polisi masih lakukan penyelidikan.
Ringkasan Berita:
- Dirut RSHS Rachim Dinata Marsidi menyebut insiden bayi nyaris tertukar yang dialami Nina Saleha terjadi akibat distraksi petugas saat penyerahan bayi.
- Pihak RS membantah adanya praktik ilegal.
- Bayi sempat diserahkan ke pasien lain namun segera dikembalikan.
- Polisi masih menyelidiki dugaan pelanggaran SOP.
TRIBUNNEWS.COM - Direktur Utama RSHS, Rachim Dinata Marsidi akhirnya menyampaikan pernyataan resmi terkait peristiwa bayi nyaris tertukar yang menimpa Nina Saleha.
Pernyataan resmi disampaikan melalui video, setelah Nina Saleha melalui kuasa hukumnya melayangkan somasi ke pihak RSHS.
Rachim mengatakan, kejadian tersebut dipicu faktor distraksi petugas saat proses penyerahan bayi pada 8 April 2026, bukan karena praktik ilegal seperti yang beredar di media sosial.
Rachim menjelaskan, bayi Nina Saleha sebelumnya masuk ke IGD RSHS pada 5 April 2026 dengan kondisi kuning pada tubuh.
Bayi tersebut kemudian mendapatkan perawatan di ruang NHCU selama tiga hari hingga kondisinya membaik dan direkomendasikan pulang pada 8 April 2026.
Pada hari kepulangan, RSHS telah menghubungi Nina Saleha dan melakukan edukasi serta identifikasi ulang sebelum bayi diserahkan. Namun, saat proses penyerahan berlangsung di ruang NICU, Nina Saleha disebut tidak berada di tempat.
“Pada saat itu terdapat dua bayi yang dijadwalkan pulang dan berada di ruangan yang sama. Ketika petugas hendak menyerahkan bayi, yang bersangkutan tidak berada di tempat,” ujar Rachim, dalam video resminya, Kamis (16/4/2026).
Petugas sempat mendapat informasi dari keluarga pasien lain bahwa Nina Saleha sedang keluar ruangan. Di saat bersamaan, petugas juga tengah melayani pertanyaan dari keluarga pasien lain, yang kemudian menyebabkan distraksi.
Akibat kondisi tersebut, bayi Nina Saleha sempat diserahkan kepada ibu dari pasien lain. Namun, kesalahan itu segera disadari dan bayi langsung diambil kembali sebelum diserahkan kepada orang tua yang benar.
“Petugas kami segera mengambil kembali bayi tersebut sebelum sampai ke ruang susu, sehingga bayi kembali dalam penguasaan petugas dan diserahkan kepada ibu yang tepat,” katanya.
Rachim menyebut, permasalahan tersebut telah diselesaikan di lokasi melalui penjelasan petugas dan permintaan maaf kepada pihak Nina Saleha.
Sehari setelah kejadian, tepatnya 9 April 2026, pihak rumah sakit juga melakukan klarifikasi langsung dengan Nina Saleha menyusul viralnya video keluhan di media sosial.
Dalam pertemuan itu, menurutnya, pihak pasien menyampaikan terima kasih atas pelayanan yang diberikan.
“Karena tidak ada hal lain yang disampaikan, kami memandang persoalan ini telah selesai secara kekeluargaan,” ucapnya.
Rachim membantah adanya dugaan praktik ilegal dalam insiden tersebut. RSHS, kata dia, telah membentuk tim internal, melaporkan kejadian ke Kementerian Kesehatan, serta membuka diri terhadap evaluasi.
Sebagai tindak lanjut, petugas yang terlibat dalam insiden tersebut telah dinonaktifkan.
"Dalam kaitannya dengan petugas kami, kami telah menonaktifkan yang bersangkutan," katanya.
Baca juga: Ramai Kasus Bayi Nyaris Tertukar di RSHS Bandung, Kemenkes Pastikan Tak Ada Unsur Kejahatan
Rachim menegaskan, pihaknya menjadikan kejadian ini sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan agar lebih aman dan profesional.
"Demikian tanggapan resmi dari RSHS atas kejadian yang tidak diharapkan ini. Terima kasih," ucapnya.
Sementara itu, Kasatreskrim Polrestabes Bandung, AKBP Anton, menegaskan pihaknya sedang menyelidiki guna memastikan kebenaran peristiwa yang ramai soal bayi di RSHS Bandung terindikasi ada unsur pidana atau kesalahan administrasi (SOP).
"Kami mohon waktu. Tim kami saat ini masih dalam tahap penyelidikan. Kami sudah berkoordinasi dengan pihak terkait. Nanti hasil penyelidikan akan kami sampaikan," katanya, Selasa (14/4/2026) di Mapolrestabes Bandung.
Anton juga menegaskan pihaknya sedang meneliti kemungkinan peristiwa ini ada kesengajaan atau lainnya. Namun ia masih butuh bukti melalui penyelidikan yang sedang dilakukan saat ini.
"Jika memang soal label (gelang) itu digunting tanpa sesuai SOP berarti kan ada indikasi perbuatan lain, nanti akan kami tentukan atau mungkin apakah nanti ada oknum dari rumah sakit yang memang dengan sengaja melepas label untuk arah ke perbuatan lainnya, jadi kami mohon waktu untuk penyelidikan lebih lanjut," katanya.
Anton menyebut korban belum melapor, namun sudah berkoordinasi dengan kepolisian, terlebih korban sudah menunjuk kuasa hukumnya yang akan berkomunikasi selanjutnya dengan pihak kepolisian.
"Kami akan dalami keterangan-keterangan baik sisi orangtua korban, atau orangtua yang mengadu maupun dari rumah sakit. Nanti hasil investigasinya akan kami beritahukan," ucap Anton.
Sebelumnya, Nina Saleha melayangkan somasi terhadap manajemen RSHS karena dinilai telah membuat pernyataan sepihak soal perdamaian perkara tersebut.
"Kita minta tadi surat (somasi) segera dibalas, supaya ada titik temu antara pihak rumah sakit dengan pihak kami. Tapi kalau surat kita tidak dibalas dan tidak ada titik temu untuk mengungkap peristiwa ini, kita akan lanjutkan ini ke ranah (pidana)," ujar Krisna.
Ia juga meminta agar perawat yang terlibat dipecat, bukan hanya dinonaktifkan.
“Jangan hanya sekedar nonaktif, kita minta pemecatan, karena kenapa mencoba mengalihkan bayi. Kita bilang minta CCTV nya dibuka, kita ingin tahu siapa orang ini,” ucapnya.
Peristiwa bayi nyaris tertukar ini bermula pada 8 April 2026 ketika Nina Saleha hendak menjemput bayinya yang dirawat karena sakit kuning.
Saat itu, Nina sempat keluar rumah sakit bersama suaminya untuk makan, sebelum akhirnya merasa tidak tenang dan kembali ke ruang NICU.
Setibanya di lokasi, ia melihat seorang ibu lain menggendong bayi dengan ciri yang sangat mirip dengan anaknya.
Setelah memastikan bayinya tidak ada di inkubator, Nina langsung mengonfrontasi ibu tersebut dan memastikan bayi itu adalah anaknya.
Bayi tersebut kemudian berhasil diamankan kembali. Namun, Nina mengaku kecewa karena gelang identitas bayinya disebut telah dilepas tanpa prosedur resmi, sehingga bayi sempat berpindah tangan.
Ia menilai jika terlambat sedikit saja, bayinya berpotensi terbawa oleh orang lain.
Artikel ini telah tayang di TribunJabar.id
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.