Peringatan Amarah di UMI Makassar Ricuh, Bentrokan Mahasiswa dan Ojol, Polisi Amankan Sajam
Pagar kampus UMI di sisi timur dilaporkan rusak akibat dorongan massa dalam insiden tersebut
Dalam orasi, mahasiswa menegaskan bahwa peristiwa tersebut merupakan bagian dari sejarah kelam pembungkaman demokrasi di lingkungan kampus.
“Amarah adalah tragedi pembungkam demokrasi yang terjadi di UMI 30 tahun lalu,” ujar salah satu orator melalui pengeras suara.
Para mahasiswa juga menyampaikan bahwa peringatan ini bukan sekadar seremonial, melainkan bentuk pengingat atas peristiwa yang disebut sebagai pelanggaran hak asasi manusia terhadap sivitas akademika.
Mereka juga menyampaikan permohonan maaf kepada pengguna jalan atas terganggunya aktivitas lalu lintas selama aksi berlangsung.
Diketahui, dalam tragedi 24 April 1996 tersebut, tiga mahasiswa UMI yakni Andi Sultan Iskandar, Muh Tasrif, dan Syaiful Bya meninggal dunia dalam insiden penyerbuan aparat ke dalam kampus.
Nama ketiganya hingga kini terus dikenang sebagai simbol perlawanan mahasiswa Makassar.
Tragedi Amarah sendiri berawal dari gelombang protes mahasiswa terhadap kenaikan tarif angkutan kota di Makassar pada April 1996. Kebijakan yang menaikkan tarif dari Rp300 menjadi Rp500 berdasarkan Surat Keputusan Wali Kota Makassar saat itu memicu penolakan luas dari berbagai kampus.
Puncaknya terjadi pada 24 April 1996, ketika demonstrasi berujung bentrokan antara mahasiswa dan aparat keamanan yang kemudian masuk ke area kampus UMI dan memicu korban jiwa.
(Tribun Timur/Muslimin Emba)
Artikel ini telah tayang di Tribun-Timur.com dengan judul Macet Akibat Jalan Ditutup, Driver Ojol Bubarkan Demo Tiga Dekade Amarah di Depan UMI
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/bentrok-mahasiswa1111.jpg)