Kamis, 30 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Dampak Perang AS dan Iran Terasa hingga Jabar, Petani Tertekan Meski Harga Gabah Naik

Dampak perang Amerika Serikat–Iran picu inflasi, petani di Jawa Barat tertekan biaya produksi naik

Tayang:
Editor: Glery Lazuardi
Ringkasan Berita:
  • Konflik Amerika Serikat–Iran berdampak hingga Jawa Barat
  • Petani mengaku biaya produksi naik akibat inflasi, meski harga gabah membaik. 
  • Kenaikan harga pupuk dan energi membuat kesejahteraan sulit meningkat di tengah ketidakpastian global

TRIBUNNEWS.COM - Ketegangan konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang belum menunjukkan tanda mereda mulai berdampak hingga ke daerah, termasuk di Jawa Barat.

Para petani mengaku kenaikan harga akibat inflasi dan gejolak perang membuat kesejahteraan mereka tertahan.

Perang yang dimulai sejak 28 Februari 2026, ketika Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan ke Teheran, memicu gangguan global pada pasokan energi dan pupuk.

Dampaknya merambat hingga ke sektor pertanian di Indonesia.

Salah satu yang merasakan dampaknya adalah Fachrudin, petani di Desa Panyingkiran, Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka.

Ia menyebut konflik global secara tidak langsung memicu kenaikan biaya produksi pertanian.

“Ada inflasi,” ujarnya, Rabu (29/4/2026).

Meski demikian, Fachrudin mengakui kondisi petani dalam setahun terakhir sebenarnya menunjukkan perbaikan.

Hal itu terlihat dari kenaikan harga gabah yang cukup signifikan.

Baca juga: Krisis Hantam Jutaan Warga Iran! PHK Massal dan Kemiskinan Melonjak akibat Perang

Menurutnya, harga gabah basah setelah panen berada di kisaran Rp660.000 hingga Rp680.000 per kuintal.

Sementara gabah kering bisa mencapai Rp700.000 hingga Rp800.000 per kuintal.

Selain itu, distribusi pupuk subsidi juga dinilai lebih lancar dan mudah diakses.

Petani tidak lagi harus antre panjang seperti sebelumnya, sehingga proses tanam berjalan lebih stabil.

Namun, situasi tersebut berubah sejak konflik global memanas.

Kenaikan harga pupuk, energi, dan logistik membuat biaya produksi meningkat, sementara keuntungan petani tidak bertambah signifikan.

“Kalau seandainya tidak ada perang, pasti banyak petani yang bisa membangun atau memperbaiki rumah di kampung,” kata Fachrudin.

Fenomena Serupa di AS

Fenomena serupa juga terjadi di luar negeri. Petani kedelai di kawasan Midwest, Amerika Serikat, juga menghadapi tekanan berat akibat kenaikan biaya produksi dan harga komoditas yang belum pulih.

Mengutip laporan Kyodo News, kondisi ini diperparah oleh perang dagang antara AS dan China, serta konflik Iran yang mengganggu distribusi energi global.

Petani seperti Doug Bartek di Nebraska mengeluhkan lonjakan biaya pupuk, benih, hingga bahan bakar. Hal ini membuat margin keuntungan semakin tipis.

Bahkan menurut American Soybean Association, petani masih mengalami kerugian signifikan pada musim panen terakhir.

Kondisi ini menunjukkan bahwa konflik geopolitik global tidak hanya berdampak pada negara yang terlibat langsung, tetapi juga merembet hingga ke sektor pertanian di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

Bagi petani di Jawa Barat, harapan kini bergantung pada stabilitas harga dan meredanya konflik global agar kesejahteraan mereka bisa kembali meningkat.

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved