Kecelakaan Maut di Musi Rawas Utara
Jalur Lintas Sumatera Karang Jaya Muratara Ternyata ‘Jalur Lurus Penipu’, Warga: Rawan Kecelakaan
Jalinsum Karang Jaya kembali telan korban jiwa, 16 orang tewas dalam kecelakaan Bus ALS dan truk tangki yang diduga akibat lubang jalan
Ringkasan Berita:
- Jalinsum Karang Jaya, Muratara, Sumsel dikenal warga sebagai jalur rawan kecelakaan yang “menipu mata” karena tampak lurus namun penuh lubang dan minim penerangan
- Kecelakaan maut Bus ALS dan truk tangki menewaskan 16 orang diduga dipicu upaya menghindari lubang hingga kendaraan masuk jalur berlawanan dan terbakar
TRIBUNNEWS.COM, MURATARA – Bagi warga Kelurahan Karang Jaya, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatra Selatan, Jalan Lintas Sumatra (Jalinsum) bukan sekadar jalur penghubung antarprovinsi.
Sejak lama, ruas jalan ini disebut sebagai jalan yang 'menipu mata' — terlihat lurus dan aman, namun menyimpan potensi bahaya di permukaan aspalnya.
Di jalur inilah kecelakaan maut antara Bus Antar Lintas Sumatra (ALS) dan truk tangki minyak kembali terjadi, Rabu (6/5/2026).
Peristiwa tersebut kembali menambah daftar panjang insiden di titik yang sama.
Warga sekitar mengaku tidak terlalu terkejut. Mereka menyebut kecelakaan memang kerap terjadi di kawasan tersebut.
“Memang jalur ini rawan kecelakaan,” ujar seorang warga Karang Jaya saat ditemui, Kamis (7/5/2026).
Baca juga: 3 dari 16 Korban Tewas Kecelakaan Bus ALS adalah Pasutri & Bayinya Berusia 18 Bulan Asal Lampung
Menurut warga, kondisi jalan yang lurus panjang sering membuat pengendara terlena.
Banyak kendaraan melaju dengan kecepatan tinggi karena menganggap jalan relatif aman tanpa tikungan tajam maupun tanjakan berarti.
Namun di balik kesan itu, Jalinsum Karang Jaya menyimpan persoalan lama yang belum terselesaikan: lubang jalan di sejumlah titik.
Lubang-lubang tersebut kerap tidak terlihat jelas, terutama saat hujan. Genangan air membuat permukaan jalan tampak rata, padahal di bawahnya terdapat kerusakan yang berbahaya.
“Kalau hujan, lubangnya tidak kelihatan. Tiba-tiba sudah masuk saja,” kata warga lainnya.
Situasi semakin berisiko karena minimnya penerangan jalan di sepanjang ruas tersebut. Saat malam hari, pengendara hanya mengandalkan lampu kendaraan, sementara bayangan lubang sering baru terlihat saat jarak sudah terlalu dekat.
Kombinasi jalan lurus, lubang yang sulit terlihat, dan minim lampu penerangan membuat jalur ini kerap disebut warga sebagai “jebakan kecepatan”.
“Jadi orang sering ngebut karena jalan lurus, padahal banyak lubang,” ujar warga itu lagi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/lakasumselqwwww.jpg)