Jejak Wallacea Ajak Masyarakat Menjaga Keragaman Hayati di Kawasan Pesisir
Di wilayah ini terdapat berbagai ekosistem laut seperti terumbu karang, hutan mangrove, dan padang lamun, yang menjadi rumah bagi ribuan spesies laut
Ringkasan Berita:
- Kawasan pesisir di wilayah di Indonesia Tengah memiliki keberagaman ekosistem laut seperti terumbu karang, hutan mangrove, dan padang lamun bagi ribuan spesies laut penting dan endemis.
- Keanekaragaman hayati di wilayah ini menghadapi berbagai ancaman, terutama pada sektor perikanan skala kecil, seperti praktik penangkapan ikan yang merusak hingga bom ikan.
- Masyarakat pesisir diajak kompak menjaga kekayaan ekosistem laut di Wallacea melalui edukasi film dokumenter.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kawasan Wallacea selama ini dikenal sebagai kawasan biogeografi di Indonesia bagian tengah yang mencakup Pulau Sulawesi, Kepulauan Nusa Tenggara (Lombok, Sumbawa, Flores, Sumba, Timor), serta Kepulauan Maluku.
Wilayah ini terletak di antara Paparan Sunda (barat) dan Paparan Sahul (timur), dipisahkan oleh Garis Wallace dan Garis Lydekker dan memiliki keberagaman hayati laut yang sangat kuat dan beragam.
Di wilayah ini terdapat berbagai ekosistem laut seperti terumbu karang, hutan mangrove, dan padang lamun, yang menjadi rumah bagi ribuan spesies laut penting dan endemis.
Namun belakangan, keanekaragaman hayati di wilayah ini menghadapi berbagai ancaman, terutama pada sektor perikanan skala kecil yang menjadi sumber penghidupan utama masyarakat, seperti praktik penangkapan ikan yang merusak hingga bom ikan.
Selain itu, aktivitas penangkapan ikan masih dilakukan di zona inti kawasan konservasi laut, baik yang berstatus perlindungan formal maupun berbasis komunitas.
Ancaman terhadap keberlangsungan hidup satwa pesisir-laut dan habitatnya juga masih terjadi.
Melalui Program Kemitraan Wallacea II, Arise! Indonesia dan Burung Indonesia mengkampanyekan upaya konservasi kawasan pesisir ini melalui pelibatan masyarakat lokal.
Melalui dukungan Critical Ecosystem Partnership Fund (CEPF) mereka membuat film dokumenter untuk menyosialisasikan pentingnya kesadaran menjaga keberagaman biota laut kawasan pesisir.
Wahyu Teguh Prawira, Marine Specialist di Burung Indonesia sekaligus Team Leader pada Program Kemitraan Wallacea II mengatakan, Program Kemitraan Wallacea II adalah kelanjutan dari Program Kemitraan Wallacea I.
Menurut dia, program ini merupakan hibah bagi organisasi masyarakat sipil di Wallacea.
"Program ini berfokus pada pengelolaan sumber daya pesisir secara berkelanjutan di tujuh koridor laut prioritas di Wallacea, yaitu Togean-Banggai, Pangkajene Kepulauan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Solor Alor, dan Bentang Laut Buru," ujarnya di acara pemutaran film dokumenter Jejak Wallacea di Jakarta, Rabu, 6 Mei 2026.
Baca juga: Pariwisata dan Ekonomi Kawasan Pesisir Bakal Terdongkrak Imbas Pembangunan Jembatan Kabanaran
Dia menjelaskan, Jejak Wallacea menceritakan berbagai upaya masyarakat pesisir di Wallacea menyelamatkan ekosistem pesisir dari praktik penangkapan ikan yang merusak lingkungan, seperti menangkap ikan dengan bom dan racun, menangkap penyu dilindungi, dan lain-lain.
"Masyarakat pesisir tidak mengenal teori keberlanjutan yang rumit. Dengan menggunakan kearifan lokal dan penerapan hukum adat, mereka berharap bisa menjaga laut agar terus memberikan penghidupan," bebernya.
SAM August Himmawan, selaku produser dan sutradara film JEJAK WALLACEA menyampaikan, film ini dikerjakan hanya oleh 5 orang personel dan beberapa kru lapangan dengan merekam langsung upaya masyarakat pesisir di empat provinsi di Indonesia Timur,
Proses pengambilan gambarnya berlangsung selama 22 hari.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/film-dokumenter-Jejak-Wallacea.jpg)