Minggu, 10 Mei 2026

Kasus Pencabulan di Pati

Ashari Jadi Tersangka Pencabulan di Ponpes Pati, PWNU Jateng: Dia Bukan Kiai, tapi Dukun!

PWNU Jateng menegaskan Ashari bukanlah kiai tapi dukun. Sementara ponpes yang didirikannya awal mulanya adalah rumah yatim piatu.

Tayang:
Ringkasan Berita:
  • PWNU Jateng menegaskan bahwa Ashari bukanlah seorang kiai tetapi berstatus sebagai tabib atau dukun. 
  • Ashari dikenal bisa melakukan penyembuhan sehingga banyak didatangi orang. Bahkan ada dugaan bahwa salah satu kliennya adalah aparat.
  • Selain itu, Ponpes Ndholo Kumolo awalnya adalah rumah yatim piatu. PWNU Jateng pun mempertanyakan langkah Kemenag terkait mekanisme pemberian izinnya.

TRIBUNNEWS.COM - Sosok Ashari, tersangka pencabulan di Pondok Pesantren (Ponpes) Ndholo Kusumo di Pati, Jawa Tengah, masih menjadi sorotan.

Dirinya menjadi sorotan publik setelah diduga melakukan pencabulan terhadap puluhan santriwati.

Dia sempat berstatus buron dan berhasil diamankan oleh polisi di sebuah petilasan di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, pada Kamis (7/5/2026) lalu.

Namun, ada fakta baru yang terungkap pasca penangkapan Ashari di mana dirinya bukanlah seorang kiai atau berstatus sebagai pengasuh pesantren.

Hal itu disampaikan oleh Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, Abdul Ghaffar Rozin.

Rozin menyatakan Ashari merupakan tabib atau dukun yang membuka praktik ritual penyembuhan.

Melalui kemampuan yang dimilikinya tersebut Ashari lantas mendirikan lembaga pendidikan.

"Dia itu sebetulnya bukan kiai. Dia tabib, dukun. Ini yang perlu kita klarifikasi sebetulnya yang di mana-mana itu disampaikan sebagai kiai," kata Rozin, Jumat (8/5/2026), dikutip dari Kompas.com.

Baca juga: Kesaksian Warga Wonogiri saat Ashari Ditangkap, Ngaku Peziarah dan Sempat Menginap

Tak sampai di situ, Rozin juga menyebut bahwa banyak masyarakat yang datang ke Ashari untuk didoakan hingga menjalani ritual pengobatan.

Hal ini membuat Ashari memiliki relasi yang luas karena banyaknya klien yang datang kepadanya.

Bahkan, Rozin menduga ada aparat yang turut datang kepada Ashari.

“Kliennya bermacam-macam, mungkin juga ada dari aparat. Hal ini yang mungkin membuat yang bersangkutan percaya diri untuk tidak tersentuh hukum,” tuturnya.

Dengan fakta tersebut, Rozin menegaskan Ponpes Ndolo Kusumo yang didirikan dan dimiliki oleh Ashari bukanlah bagian dari Rabithah Ma'ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU).

Adapun RMI NU merupakan lembaga PBNU yang bertugas untuk mengembangkan pondok pesantren dan pendidikan keagamaan.

Lembaga ini telah didirikan sejak tahun 1954 dan telah menaungi sekitar 23.000 pesantren NU di seluruh Indonesia.

Khusus di Jawa Tengah, total ada 4.000 pesantren yang berada di bawah naungan RMI NU.

“Pesantren itu (Ndholo Kusumo) bukan anggota RMI NU. Ini penting agar publik tidak menggeneralisasi seluruh pesantren akibat kasus individu ini,” kata Rozin.

Baca juga: Kabur ke Wonogiri Menyamar Jadi Peziarah, Warga Tak Ada yang Kenal dengan Kiai Cabul Ashari

Awalnya Rumah Yatim Piatu Lalu Jadi Sekolah

DITUTUP - Kondisi Pondok Pesantren Ndholo Kusumo, Desa Tlogosari, Kecamatan Tlogowungu, Pati, yang ditutup, Minggu (3/5/2025). Terpasang juga pengumuman bahwa pondok pesantren menutup penerimaan santri baru. Hal ini merupakan imbas kasus kekerasan seksual yang menjerat pendiri Ponpes, Ashari.
DITUTUP - Kondisi Pondok Pesantren Ndholo Kusumo, Desa Tlogosari, Kecamatan Tlogowungu, Pati, yang ditutup, Minggu (3/5/2025). Terpasang juga pengumuman bahwa pondok pesantren menutup penerimaan santri baru. Hal ini merupakan imbas kasus kekerasan seksual yang menjerat pendiri Ponpes, Ashari. (Tribunnews.com/TRIBUN JATENG/Dok. Warga)

Rozin mengungkapkan bahwa Ponpes Ndholo Kusumo awalnya adalah rumah yatim piatu dan kini berubah menjadi sekolah.

Ia pun mempertanyakan mekanisme pemberian izin dari Kementerian Agama (Kemenag) terkait perubahan status tersebut.

“Saya sendiri tidak tahu bagaimana ceritanya rumah yatim ini mendapatkan izin pesantren. Mungkin Kemenag bisa menjawab hal ini,” ujarnya.

Lebih lanjut, Rozin turut menyoroti lambatnya proses hukum oleh Polresta Pati terkait kasus pencabulan oleh Anshari ini.

Padahal pelaporan sudah dilakukan sejak tahun 2024 dengan pendampingan LBH Ansor. Namun, kasus ini baru viral dan pelaku berhasil ditangkap setelah viral di tahun ini.

“Saya harap pelaku dihukum seberat-beratnya dan dalam proses hukum dia harus mengakui kalau dia bukan kiai,” pungkas Rozin.

Kronologi Penangkapan Ashari: Sempat Kabur hingga Jakarta, Kerap Pergi ke Petilasan

Ashari berhasil ditangkap di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, pada Kamis dini hari sekira pukul 04.00 WIB.

Dikutip dari Tribun Jateng, dirinya terdeteksi sempat berpindah-pindah lokasi kabur dari Kudus, Bogor, Jakarta, hingga terakhir Wonogiri.

Namun, ada fakta menarik yang melingkupi kaburnya Ashari yakni dirinya kerap mengunjungi tempat-tempat keramat yang bernuansa spiritual seperti petilasan hingga pemakaman.

Justru, jejak di lokasi inilah yang menjadi petunjuk polisi untuk mempersempit gerak tersangka.

"Setiap tempat yang didatangi, kami selalu mendapatkan petunjuk terkait ciri-ciri tersangka. Sampai akhirnya kami mendapat informasi bahwa yang bersangkutan sempat bertemu dan mengobrol dengan seseorang," kata Kasat Reskrim Polresta Pati, Kompol Dika Hadiyan Widya Wiratama.

Baca juga: Pelarian Senyap Ashari Kiai Cabul Selama di Wonogiri: Sembunyi di Makam Keramat, Ngaku Puasa 3 Tahun

Berdasarkan pemeriksaan yang telah dilakukan, rute kabur Ashari terbilang tidak terjadwal secara rapi.

Pasalnya, ia kerap bertanya kepada warga setempat mengenai lokasi makam yang bisa diziarahi. 

Tercatat, dirinya sempat bolak-balik di wilayah Sentul, Bogor, Jawa Barat. Lalu, ia juga  sempat berada di Gunung Muria, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.

Di sisi lain, Dika menyebut pihaknya juga masih mendalami adanya keterlibatan pihak lain yang diduga membantu pelarian Ashari.

Sosok yang dimaksud yakni adalah seorang pria bernama Kuswandi. Dia sempat viral di media sosial setelah sempat diamankan oleh kepolisian di sebuah lobi hotel.

"Kami masih mempelajari apakah ada motif tertentu atau keterlibatan orang lain atas pelarian Ashari ini," ujarnya.

Modus Ashari Lakukan Pencabulan

Salah seorang ayah yang anaknya menjadi korban kebiadaban Ashari, H, membeberkan modus yang digunakan tersangka untuk memperdaya para korban.

Dia mengatakan Ashari mendoktrin para korban agar tidak melawan diperintah apapun, termasuk ketika mau dicabuli olehnya.

Ia mengungkapkan hal itu diketahuinya setelah memperoleh dcerita dari anaknya dan sejumlah santriwati lain.

“Katanya apa yang dilakukan kiai itu harus dituruti. Kalau melawan guru berarti melawan Tuhan. Anak-anak jadi takut,” tuturnya pada Jumat (8/5/2026).

Baca juga: Makam Keramat jadi Petunjuk Penangkapan Ashari, Pakai Identitas Palsu Selama Buron

Selain itu, sambung H, para santri juga ditakut-takuti bahwa ilmunya tidak akan berkah ketika tidak mematuhi Ashari.

“Secara normal anak-anak pasti berontak. Tapi karena sudah takut dan didoktrin terus, akhirnya nurut,” jelasnya.

Dia mengatakan doktrin semacam itu membuat anaknya dan santri serta santriwati lain ketakutan selama bertahun-tahun.

H menyebut anaknya sudah menjadi korban pencabulan Ashari pada tahun 2020-2024 saat masih duduk di bangku SMP.

Ia mengungkapkan anaknya baru mau menceritakan apa yang dialaminya tersebut setelah lulus.

"Baru setelah lulus, dia cerita ke ibunya, kemudian ibunya cerita ke saya,” katanya.

(Tribunnews.com/Yohanes Liestyo Poerwoto)(Tribun Jateng/Mazka Hauzan Naufal/Rezanda Akbar)(Kompas.com/Titis Anis Fauziyah)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved