Siswa SD di Tulungagung Terpapar Kelompok Teroris dari Game Online, Dapat Penanganan dari UPT PPA
Radikalisme kini menyasar anak lewat game online dan media sosial. Siswa SD di Tulungagung sempat direkrut kelompok teroris.
Ringkasan Berita:
- Paparan radikal menyebar lewat media sosial dan game online seperti Mobile Legends, Free Fire, dan Roblox.
- Siswa kelas 6 SD di Tulungagung direkrut kelompok radikal melalui grup Telegram.
- Anak tersebut berhasil diselamatkan dan menjalani program deradikalisasi sejak Desember 2025.
- Pendampingan psikolog mengarahkan bakat anak di game online ke jalur positif lewat organisasi e-sport.
TRIBUNNEWS.COM - Paparan paham radikal dari kelompok teroris kini telah menyasar anak di bawah umur.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen Pol (Purn) Eddy Hartono mengungkap, sepanjang tahun 2025, ada 112 anak yang terpapar paham radikalisme dari rentang usia 10 hingga 17 tahun.
Anak-anak penerus bangsa ini terpapar melalui media sosial maupun game online dan tersebar di 26 provinsi.
"Sepanjang tahun 2025, ya, aparat penegak hukum, Densus 88 sudah menangkap beberapa jaringan terorisme maupun simpatisan Ansharut Daulah yang berkiblat kepada ISIS, dan juga 112 anak yang teradikalisasi di sosial media," kata Eddy, Selasa (30/12/2025) lalu.
Seperti yang dialami oleh siswa kelas 6 SD di Tulungagung, Jawa TImur.
Siswa tersebut terpapar paham radikal dari kelompok teroris dari pintu game online.
Bahkan, ia direkrut oleh kelompok radikal dengan dimasukkan ke dalam grup Telegram yang berisikan doktrin untuk melakukan aksi terorisme.
Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kabupaten Tulungagung, Dwi Yanuarti mengatakan, anak tersebut berada di tahap awal doktrin terorisme.
"Dia ketahuannya saat masih tahap awal. Tapi kalau diteruskan, masuknya doktrin terorisme," ujarnya dikutip dari TribunJatim.com.
Keberadaan siswa tersebut terbongkar setelah BNPT melakukan pemantauan.
Setelah itu, siswa SD tersebut diselamatkan dan sejak Desember 2025 telah dilakukan deradikalisasi.
Baca juga: 112 Anak Broken Home Hingga Patah Hati Terpapar Radikalisme dari Medsos dan Game Online pada 2025
Beberapa bulan jalani deradikalisasi, sikap bocah malang tersebut pun mengalami kenaikan.
Dari yang awalnya tertutup dengan orang lain, kini sudah terbuka dan bisa berkomunikasi dengan ceria layaknya anak-anak di usianya.
"Dulu kalau ketemu orang pasti menunduk, tidak mau melihat wajah. Sekarang dia sudah ceria, berkomunikasi dengan siapa saja," sambung Dwi.
UPT PPA juga tetap melakukan pendampingan dan berkomunikasi dengan orang tua untuk pengawasan dan pengarahan ke hal positif.