Jepang Kembali Hadapi Risiko Ketergantungan Minyak Timur Tengah, Lirik Indonesia
Jepang saat ini masih sangat bergantung pada minyak mentah dari Timur Tengah
Ringkasan Berita:
- Jepang masih bergantung lebih dari 90 persen pada impor minyak mentah dari Timur Tengah meski pernah mencoba diversifikasi sejak krisis minyak 1973
- Minyak Timur Tengah dinilai paling cocok untuk kilang Jepang serta lebih efisien dari sisi harga dan pasokan. Namun ketergantungan ini berisiko tinggi jika terjadi konflik atau gangguan jalur energi global seperti di Selat Hormuz.
Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Jepang saat ini masih sangat bergantung pada minyak mentah dari Timur Tengah. Bahkan, lebih dari 90 persen impor minyak mentah Jepang berasal dari kawasan tersebut.
"Ketergantungan tinggi ini kembali menjadi perhatian di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global dan risiko gangguan jalur pelayaran internasional," ungkap seorang pejabat pemerintah Jepang kepada Tribunnews.com Jumat (15/5/2026).
Sementara seorang pengamat energi menjelaskan bahwa sebenarnya Jepang pernah mencoba melakukan diversifikasi sumber impor minyak setelah krisis minyak dunia tahun 1973 atau yang dikenal sebagai “Oil Shock”.
“Pada saat Oil Shock tahun 1973, Jepang memperluas negara pemasok minyak seperti Malaysia, Indonesia, hingga Brasil. Namun pada akhirnya minyak dari Timur Tengah dianggap paling mudah digunakan, sehingga sekarang kembali lebih dari 90 persen bergantung pada Timur Tengah,” ujarnya.
Menurutnya, komposisi minyak mentah berbeda-beda tergantung negara asal produksi. Perbedaan kualitas dan karakteristik minyak mentah itu memengaruhi proses pengolahan di kilang minyak Jepang.
Baca juga: Wavi Zihan Ceritakan Perjuangan Lakoni Adegan Kesurupan Jaran Kepang dalam Film Pabrik Gula
Minyak dari Timur Tengah selama ini dinilai paling sesuai dengan fasilitas kilang Jepang yang telah dibangun selama puluhan tahun.
Faktor harga, kestabilan pasokan dalam jangka panjang, serta efisiensi pengolahan juga menjadi alasan utama perusahaan Jepang terus mengandalkan kawasan tersebut.
Namun kondisi ini sekaligus menjadi risiko besar bagi Jepang.
Apabila terjadi konflik di Timur Tengah atau gangguan di Selat Hormuz yang menjadi jalur utama pengiriman energi dunia, maka pasokan energi Jepang dapat langsung terdampak.
"Karena itu pemerintah Jepang beberapa tahun terakhir mulai kembali mendorong diversifikasi energi, termasuk memperbesar penggunaan energi terbarukan, hidrogen, LNG, serta memperluas kerja sama energi dengan negara-negara Asia Tenggara seperti Indonesia dan Malaysia," ungkap pejabat itu lagi.
Indonesia sendiri selama bertahun-tahun menjadi salah satu mitra energi penting Jepang, baik melalui ekspor LNG maupun kerja sama pengembangan energi baru dan transisi menuju dekarbonisasi.
Diskusi beasiswa dan loker di Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/MINYAKJEPANG11111.jpg)