Minggu, 17 Mei 2026

Bripka Arya Gugur Ditembak Saat Bertugas, Istri Kenang Sikapnya yang Mendadak Romantis

Di hari-hari terakhir hidupnya, Arya juga disebut berubah menjadi lebih romantis. Ia sering mengajak istrinya makan bersama, naik motor berdua

Tayang:
Editor: Eko Sutriyanto
Tribunnews.com/Tribun Lampung
POLISI TEWAS DITEMBAK - Yovita Tri Gusti, istri Bripka (Anumerta) Arya Supena, (kiri) saat diwawancarai Tribunlampung.co.id dalam program Saksi Kata, di kediamannya pada Sabtu (16/5/2026). Almarhum Arya mendadak romantis terhadap istrinya, beberapa hari menjelang kepergiannya. 
Ringkasan Berita:
  • Yovita Tri Gusti, istri Bripka (Anumerta) Arya Supena, mengenang suaminya sebagai sosok polisi sederhana dan penyayang keluarga sebelum gugur ditembak saat menggagalkan aksi curanmor di Bandar Lampung 
  • Ia mengaku sempat merasakan firasat aneh hingga perubahan sikap Arya yang mendadak lebih romantis
  • Keluarga berharap kasus penembakan tersebut diusut tuntas dan masa depan kedua anak korban mendapat perhatian
 

 

TRIBUNNEWS.COM, LAMPUNG -  Tangis dan rasa kehilangan masih menyelimuti rumah keluarga Bripka (Anumerta) Arya Supena di Bandar Lampung. Di tengah duka mendalam, sang istri, Yovita Tri Gusti, mengaku sedikit lega setelah satu pelaku penembakan ditangkap dan satu lainnya tewas.

Bagi Yovita, harapan yang sejak awal ia ucapkan perlahan terjawab. Meski demikian, kepergian suaminya tetap meninggalkan luka yang sulit dipulihkan.

“Nyawa harus dibayar dengan nyawa, cuma tetap walaupun pelaku meninggal dunia tak bisa mengembalikan suami saya lagi,” ujar Yovita saat ditemui di rumahnya di Jalan Mata Intan, Kecamatan Tanjungkarang Barat, Sabtu (16/5/2026).

Yovita masih mengingat detik-detik saat menerima kabar duka. Awalnya, ia mendapat telepon dari nomor tak dikenal yang menyebut suaminya mengalami kecelakaan lalu lintas dan diminta segera menuju RS Bhayangkara.

Tak lama kemudian, pesan WhatsApp dari teman dan sahabat berdatangan meminta dirinya bersabar. Saat itulah firasat buruk mulai muncul.

“Bilang kalau suami saya kecelakaan hingga menyuruh saya ke RS Bhayangkara. Tak lama teman hingga sahabat saya chat WhatsApp bilang yang sabar,” katanya.

Baca juga: Situasi Wamena Mulai Kondusif setelah Insiden Penembakan Polisi yang Dilakukan OPM

Ungkap Firasat

Sebelum tragedi itu terjadi, Yovita mengaku sempat merasakan sejumlah kejanggalan. Anak pertamanya tiba-tiba berkata sang ayah tidak akan pulang lagi ke rumah. Sementara anak keduanya menangis histeris setelah tangannya terjepit pintu, padahal biasanya dikenal kuat meski terluka.

Di hari-hari terakhir hidupnya, Arya juga disebut berubah menjadi lebih romantis. Ia sering mengajak istrinya makan bersama, naik motor berdua, hingga menghabiskan waktu lebih banyak bersama keluarga.

“Saya bilang sama sahabat dan saudara, kok suami saya romantis sekali, selalu ingin berduaan terus,” ujar Yovita lirih.

Momen-momen kecil itu kini menjadi kenangan terakhir yang terus membekas di ingatannya.

Yovita mengenang Arya sebagai sosok polisi sederhana yang suka membantu warga tanpa memandang siapa pun. Bahkan di rumah, Arya kerap membantu pekerjaan kecil seperti mengupas bawang dan menemani anak belajar.

“Banyak yang ditolong, tapi tak tahu dia polisi. Suami saya ini tidak sombong,” katanya.

Salah satu impian yang belum sempat terwujud adalah berangkat umrah bersama keluarga. Keinginan itu beberapa kali diucapkan Arya sebelum meninggal dunia. Kini, Yovita bersyukur mendapat kesempatan umrah dari Wali Kota Bandar Lampung Eva Dwiana.

Di tengah kesedihan, Yovita juga mengaku sempat memimpikan sang suami saat berada di RS Bhayangkara. Dalam mimpi itu, ia melihat Arya tersenyum kepadanya dari dalam mobil saat keduanya berpapasan di jalan.

“Sampai sekarang anak-anak masih sering menangis dan mengigau ingin dipeluk ayahnya,” ucapnya.

Kini, aroma baju dinas Arya yang belum dicuci masih disimpan untuk mengobati kerinduan anak-anak mereka.

“Bajunya dicium anak-anak karena masih ada bau ayahnya,” kata Yovita.

Meski satu pelaku telah ditangkap dan satu lainnya tewas, Yovita berharap kasus penembakan suaminya tetap diusut hingga tuntas agar tidak ada lagi korban serupa.

“Kami minta tolong agar peristiwa ini diusut sampai ke akarnya. Cukup suami saya saja yang jadi korban,” ujarnya.

Baca juga: Benda Diduga Bom Meledak saat Evakuasi Jenazah Korban Penembakan di Papua, 7 Relawan Terluka

Sosok Berdedikasi 

Sementara itu, ayah kandung korban, Sukadi, mengenang Arya sebagai sosok polisi yang sangat berdedikasi. Menurutnya, Arya menjadi anggota polisi melalui perjuangan panjang, mulai dari mengikuti bimbingan belajar hingga latihan fisik yang keras tanpa kenal lelah.

“Anak saya itu polisi yang lurus. Saya selalu berpesan, ‘Nak, jadilah polisi yang baik, cari rezeki yang halal’. Dan dia membuktikannya sampai titik darah penghabisan,” kenang Sukadi.

Bahkan setelah selesai piket, Arya tetap menunjukkan naluri melindungi masyarakat. Ia tidak membiarkan tindak kriminal terjadi di depan matanya meski harus mempertaruhkan nyawa.

Kini, perhatian Sukadi tertuju pada dua cucunya yang masih berusia 6 dan 3 tahun. Ia berharap perhatian pimpinan Polri tidak berhenti pada pengungkapan kasus saja, tetapi juga masa depan anak-anak almarhum.

Sukadi juga berharap tindakan tegas diberikan kepada para pelaku agar tidak ada lagi anggota polisi maupun warga sipil yang menjadi korban kejahatan curanmor di Lampung.

“Cita-cita Arya adalah memberikan yang terbaik untuk keluarganya. Sekarang dia sudah tidak ada. Kami berharap Bapak Kapolri dan Bapak Kapolda bisa memberikan perhatian khusus bagi masa depan kedua anak almarhum yang masih balita ini,” harapnya. 

Diterjang Timah Panas

Kepolisian Daerah Lampung menembak pelaku Bahroni (23) selaku eksekutor penembak Bripka Arya Supena anggota Kamneg Ditintelkam Polda Lampung karena melakukan perlawanan saat polisi menangkapnya di Teluk Hantu, Desa Pagar Jaya, Kecamatan Punduh Pidada, Kabupaten Pesawaran, Jumat (15/5/2026) pukul 05.15 WIB. 

"Pelaku Bahroni sebagai eksekutor yang akan mengambil motor korban atau penembak Bripka Arya Supena. Pelaku Bahroni ditembak polisi karena melawan saat hendak ditangkap," kata Kapolda Lampung, Irjen Pol Helfi Assegaf saat menggelar konferensi pers di Siger Lounge Mapolda Lampung, Jumat (15/5/2026). 

Tim gabungan yang dipimipin oleh Kasubdit Jatanras dan Kanit Resmob Polda Lampung, bersama dengan Intel Polda Lampung, Intel Brimob Polda Lampung, Tekab Polres Lampung Timur, Tekab Polres Pesawaran dan Polsek Padang Cermin.

penembakan dilampung1
Hamli, salah satu tersangka pelaku penembakan polisi di Lampung 

"Kami mendapatkan informasi dari masyarakat terkait keberadaan tersangka Bahroni hingga tim langsung ke Teluk Hantu," kata ujar Helfi. 

Tim gabungan pun melakukan pendalaman keberadaan tersangka dan didapati tersangka Bahroni. 

 Tersangka Bahroni saat akan dilakukan penangkapan melakukan perlawanan secara aktif yang membahayakan tim gabungan.

Bahroni menggunakan senjata api rakitan jenis revolver kepada petugas, tim melakukan tindakan tegas dan terukur. 

"Tersangka Bahroni meninggal dunia di tempat di Teluk Hantu," ucap Helfi. 

Kemudian tim langsung mengamankan barang bukti berupa satu pucuk senjata api rakitan jenis revolver. 

Lalu satu bilah pisau yang berada pinggang tersangka.

Tim mengevakuasi jenazah tersangka untuk dibawa ke RS Bhayangkara.

Polisi mengetahui keberadaan tersangka lainnya yakni Hamli sebagai joki yang menunggu di atas motor. 

"Polisi menangkap dulu Hamli pada 11 Mei 2026 pukul 13.30 WIB mendapatkan informasi terkait  keberadaan tersangka Hamli di Kecamatan Jabung, Kabupaten Lampung Timur," kata Helfi.

Tim gabungan pun langsung melakukan mapping untuk mengetahui keberadaan Hamli berada di persembunyiannya. 

Tim melakukan penangkapan terhadap tersangka Hamli dan saat dilakukan upaya paksa yang bersangkutan melakukan perlawaan aktif terhadap jiwa anggota. 

Polisi melakukan tindakan tegas dan terukur.

Tim berhasil mengamakan barang bukti dari Hamli, 1 unit helm biru yang dibuang dan ditemukan di Kecamatan Padang Cermin, Kabupaten Pesawaran. 

Ada 1 unit Honda Beat biru diamankan di Desa Teluk Pandan, Kecamatan Hanura, Kabupaten Pesawaran. 

Kemudian 1 unit Handphone merk VIVO yang di simpan di kebun milik warga dan berhasil diamankan daerah Kecamatan Jabung, Lampung Timur. 

Kemudian 1 Senjata Api HS-9 milik almarhum yang disimpan di pinggir Sungai Desa Teluk pandan, Kecamatan Hanura, Pesawaran. (Tribunlampung.co.id/Dominius Desmantri Barus/Fajar Ihwani Sidiq /Bayu Saputra)

 

 

 

Sumber: Tribun Lampung
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved