Sabtu, 23 Mei 2026

Paulus Waterpauw: Membangun Papua Perlu Dialog dengan Hati dan Pendekatan Humanis

Kemiskinan ekstrem menjadi akar persoalan Papua sehingga pembangunan harus bersifat bottom up dan berpihak kepada rakyat.

Tayang:
Penulis: Wahyu Aji
HO/IST
PEMBANGUNAN PAPUA - Anggota Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua, Paulus Waterpauw, menyampaikan pembangunan di Papua tidak boleh hanya berorientasi pada fisik. 

Ringkasan Berita:
  • Paulus Waterpauw menegaskan pembangunan Papua harus berpusat pada manusia dan kesejahteraan orang asli Papua, bukan sekadar proyek fisik dan investasi.
  • Menurutnya, dialog humanis dan pelibatan masyarakat adat penting dalam PSN pangan dan energi di Papua agar pembangunan berjalan tanpa konflik.
  • Kemiskinan ekstrem menjadi akar persoalan Papua sehingga pembangunan harus bersifat bottom up dan berpihak kepada rakyat.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anggota Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua, Paulus Waterpauw, menyampaikan pembangunan di Papua tidak boleh hanya berorientasi pada fisik semata.

Menurutnya harus menempatkan manusia, khususnya orang asli Papua sebagai pusat pembangunan. 

Baca juga: Papua Tak Bisa Dilihat dari Satu Film Dokumenter

Keberhasilan tidak semata diukur dari besarnya investasi, infrastruktur, maupun proyek nasional yang dibangun, tetapi juga sejauh mana masyarakat Papua merasakan manfaat nyata dalam kehidupannya.

Terkait Proyek Strategi Nasional (PSN) ketahanan pangan dan energi yang tengah berjalan dengan membuka jutaan hektare kawasan hutan alam di wilayah Asmat, Mappi, Merauke, dan Boven Digoel, Paulus menilai pendekatan dialog menjadi langkah yang sangat penting untuk keberlanjutan pembangunan. 

Baca juga: Amnesty International Soroti Pelarangan Film Pesta Babi, Nilai Bungkam Suara Kritis Tentang Papua

Menurutnya, setiap persoalan, polemik, maupun hambatan yang muncul dalam pembangunan harus diselesaikan dengan duduk bersama dan mencari solusi terbaik yang tetap mengedepankan kepentingan masyarakat.

Sebagai orang asli Papua, Paulus percaya bahwa masyarakat Papua pada dasarnya dapat diajak berdialog secara baik. 

Komunikasi yang dilakukan dengan pendekatan manusiawi akan membuka ruang pemahaman dan kepercayaan. Hindari pendekatan yang mengedepankan pemaksaan ataupun keputusan sepihak tanpa melibatkan masyarakat yang terdampak secara langsung.

Purnawirawan jenderal polisi bintang tiga yang lahir di Fakfak ini, menyampaikan filosofi sederhana tapi mendalam mengenai pentingnya komunikasi berulang dengan penuh kesabaran, empati, dan penghormatan terhadap nilai-nilai sosial masyarakat. 

“Jika satu kali berbicara belum berhasil, berbicara lagi. Jika dua kali belum berhasil, maka dilakukan ketiga kalinya. Dialog yang dilakukan terus menerus dengan hati yang tulus pada akhirnya akan menemukan titik temu,” kata Paulus kepada wartawan, Sabtu (23/5/2026).

Paulus menjelaskan, komunikasi dengan masyarakat Papua tidak cukup hanya melalui bahasa formal pembangunan atau angka-angka investasi. 

Masyarakat perlu dijelaskan secara baik mengenai manfaat yang akan diperoleh, peluang ekonomi yang terbuka, serta bagaimana masa depan orang asli Papua dapat menjadi lebih baik melalui pembangunan

Dengan demikian, masyarakat tidak merasa menjadi objek pembangunan, melainkan menjadi bagian penting dari proses pembangunan itu sendiri.

Lebih lanjut, Paulus menekankan, akar persoalan yang selama ini membayangi Papua adalah kemiskinan yang ekstrem. 

Kondisi itu menjadi pemicu lahirnya berbagai persoalan sosial, mulai dari keterbelakangan pendidikan, rendahnya akses kesehatan, pengangguran, hingga potensi gangguan keamanan. 

Oleh karena itu, pembangunan harus diarahkan untuk menyentuh akar persoalan secara nyata dan berkelanjutan.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved