Refleksi 20 Tahun Gempa Jogja-Jateng, Momen Tingkatkan Kewaspadaan terhadap Dampak El Nino
Peristiwa tersebut semestinya dijadikan sarana refleksi bersama untuk memperkuat memori kolektif bangsa
Ringkasan Berita:
- Gempa di Yogyakarta dan Jawa Tengah dua dekade lalu merenggut lebih dari 5.700 korban jiwa dan melumpuhkan infrastruktur daerah dengan kerugian mencapai Rp 29 triliun
- Peristiwa tersebut harus dijadikan sarana refleksi, bahwa kesiapsiagaan merupakan investasi krusial dalam menekan risiko bencana di masa depan
- Pemerintah mengingatkan bahwa perubahan iklim dan El Nino membawa risiko nyata berupa kekeringan panjang, krisis pasokan air bersih, serta potensi karhutla
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Peringatan dua dekade gempa bumi dahsyat yang mengguncang Yogyakarta dan Jawa Tengah pada 2006 tidak boleh berhenti sebatas seremoni untuk mengenang masa lalu.
Peristiwa tersebut semestinya dijadikan sarana refleksi bersama untuk memperkuat memori kolektif bangsa, bahwa kesiapsiagaan merupakan investasi krusial dalam menekan risiko bencana di masa depan.
Pesan mendalam inilah yang menjadi inti dari amanat Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno, yang dibacakan oleh Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Bencana dan Konflik Sosial Kemenko PMK, Lilik Kurniawan, dalam Apel Kesiapsiagaan dan Gelar Peralatan di Lapangan Garuda, kawasan Candi Prambanan, Sabtu (23/5/2026).
"Peringatan ini harus menjadi sarana refleksi bersama untuk memperkuat memori kolektif bangsa bahwa kesiapsiagaan merupakan investasi yang sangat penting dalam upaya mengurangi risiko bencana," tegas Menko PMK Pratikno dalam amanat tertulisnya.
Baca juga: Update Dampak Gempa Jogja Magnitudo 6,4: 1 Warga Bantul Meninggal, Bangunan Rusak 263 Unit
Apel siaga yang diikuti oleh sekitar 1.000 peserta dari berbagai unsur pentahelix, yakni pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat, dan media, ini tidak hanya berfokus pada mitigasi gempa bumi.
Momentum ini juga dimanfaatkan untuk meningkatkan kewaspadaan nasional terhadap ancaman lingkungan yang sedang mengintai, termasuk dampak dari fenomena El Niño.
Pemerintah mengingatkan bahwa perubahan iklim dan El Nino membawa risiko nyata berupa kekeringan panjang, krisis pasokan air bersih, serta potensi kebakaran hutan dan lahan, yang dapat mengganggu stabilitas nasional.
Oleh karena itu, kesiapan sistem informasi yang terintegrasi dan teknologi pemantauan yang cepat sangat dibutuhkan oleh para pengambil kebijakan.
Uji Kapasitas dan Aliansi Teknologi
Selain upacara, puncak peringatan ini juga memamerkan beragam kesiapan sarana penyelamatan milik kementerian, lembaga negara seperti BNPB, Basarnas, Kemensos, Kemenkes, dan mitra swasta.
Emergency Disaster Reduction and Rescue (EDRR) Indonesia, yang bertindak sebagai salah satu mitra penyelenggara, menekankan bahwa respons cepat di lapangan harus ditopang oleh teknologi yang mumpuni.
“Apel Kesiapsiagaan hari ini bukan sekadar seremoni. Ini adalah pernyataan kolektif bahwa kita memilih untuk siap, bukan menunggu. Gempa Yogyakarta dua puluh tahun lalu mengajarkan bahwa kecepatan dan ketepatan penanganan menentukan banyak nyawa,” ujar Country Director for Government Relations EDRR Indonesia, Rakyan Adibrata.
Sebagai langkah lanjutan, komitmen mitigasi berbasis teknologi ini akan dibawa ke skala yang lebih luas dalam pameran teknologi mitigasi bencana terbesar di Asia Tenggara (EDRR Indonesia 2026) yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus mendatang di Jakarta.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/GEMPAJOGJA12211.jpg)