Motif Pria di Lampung Tembak Pedagang Ayam Geprek hingga Tewas: Dipicu Soal Utang Piutang
Polda Lampung ungkap motif penembakan ASN Dedi Christian Agung, pelaku nekat karena utang Rp1 juta.
Ringkasan Berita:
- Polda Lampung mengungkap motif penembakan ASN Lampung Tengah Dedi Christian Agung di Kota Metro.
- Pelaku FJP nekat menembak korban usai cekcok soal utang Rp1 juta di usaha ayam geprek korban.
- Peristiwa berdarah itu disaksikan istri dan anak korban. Polisi menegaskan kasus ditangani serius hingga tuntas
TRIBUNNEWS.COM - Polda Lampung mengungkap motif di balik kasus penembakan yang menewaskan pedagang ayam geprek sekaligus Aparatur Sipil Negara (ASN) Lampung Tengah, Dedi Christian Agung (DCA), di Kota Metro.
Kasus tersebut diekspos dalam konferensi pers di Mapolda Lampung pada Senin (25/5/2026).
Baca juga: Alasan Pelaku Pembunuhan ASN di Lampung Menyerahkan Diri ke Polisi: Takut Ditembak
Motif Penembakan
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Lampung, Kombes Pol Indra Hermawan, mengatakan pelaku berinisial Fajar Jaya Putra (FJP) nekat menghabisi nyawa korban karena persoalan utang sebesar Rp1 juta.
“Jadi untuk modus operandinya tersangka datang ke tempat usaha korban, kemudian melakukan penagihan terhadap utang korban sebesar Rp1 juta,” kata Kombes Pol Indra Hermawan saat konferensi pers di Mapolda Lampung.
“Pelaku menagih utang kepada korban karena tidak dibayar kepada tersangka,” lanjutnya.
Kronologi Kejadian
Peristiwa berdarah itu terjadi di Kelurahan Ganjar Asri, Kecamatan Metro Barat, Kota Metro.
Saat itu, pelaku mendatangi lokasi usaha ayam geprek milik korban hingga keduanya terlibat cekcok mulut.
Situasi kemudian memanas hingga pelaku mengeluarkan senjata api dan menembak korban.
“Korban terjatuh setelah ditembak oleh tersangka dan korban meninggal dunia,” ujar Indra.
Korban diketahui merupakan ASN Pemerintah Kabupaten Lampung Tengah yang juga bekerja sampingan sebagai penjual ayam geprek.
Kesaksian Istri
Peristiwa tersebut meninggalkan trauma mendalam bagi keluarga korban, terutama sang istri, Vita Lestari, yang menyaksikan langsung penembakan di depan kedua anak mereka yang masih kecil.
Vita menuturkan, awalnya korban mengira pelaku hanya datang untuk berbincang biasa.
“Awalnya suami saya mengira hanya mengobrol biasa. Mungkin dia juga sungkan karena di depan bos pemilik tempat cucian itu. Tapi saya tidak tahu kenapa pelaku kemudian emosi,” ujar Vita dengan suara bergetar.
Menurut Vita, pertengkaran berujung perkelahian setelah pelaku sempat melayangkan pukulan kepada korban.
Namun situasi berubah mencekam ketika pelaku mengambil pistol dari tas selempang kecil yang dibawanya.