Jumat, 12 Juni 2026

Spanduk Rakyat Menjerit Nilai Tukar Melejit dan Aksi Jahit Mulut Warnai Kehadiran Prabowo ke Lampung

Spanduk "Rakyat Menjerit Nilai Tukar Melejit", aksi bakar ban hingga 3 pemuda jahit mulut warnai kehadiran Prabowo ke Lampung.

Tayang:
Tribun Lampung/BAYU SAPUTRA
AKSI JAHIT MULUT - Aksi jahit mulut di Tugu Adipura, Bandar Lampung, saat Presiden Prabowo Subianto datang ke Lampung, Rabu (10/6/2026). 
Ringkasan Berita:
  • Tiga pemuda melakukan aksi jahit mulut saat Presiden Prabowo Subianto berkunjung ke Provinsi Lampung, Rabu (10/6/2026). 
  • Ketiga pemuda tersebut yakni Dzaki Oktarian, Bondol dan Akbar Sumantri. 
  • Aksi jahit mulut tersebut menggambarkan situasi hari ini di Indonesia, situasi realitas Indonesia betapa otoriter rezim Prabowo.

 

TRIBUNNEWS.COM, LAMPUNG - Kehadiran orang nomor satu, Prabowo Subianto di Provinsi Lampung, Rabu (10/6/2026) kemarin diwarnai sejumlah aksi.

Di antaranya aksi jahit mulut oleh tiga pemuda yakni  Dzaki Oktarian, Bondol dan Akbar Sumantri. 

Ada juga aksi damai di Tugu Adipura.  Di tengah teriknya matahari sekitar belasan pemuda membentangkan spanduk bertuliskan sindiran kepada pemerintahan. 

Seperti "Wujudkan Pendidikan Kritis Ilmiah Dan Demokratis".

"Rakyat Menjerit Nilai Tukar Melejit" hingga "Rakyat Menjerit Waktunya Pajakin Orang Kaya".

Baca juga: Prabowo Resmikan RSUD di Krui Lampung: 20 RSUD Telah Naik Kelas Dari Tipe D ke Tipe C

Massa aksi juga membakar ban untuk membakar semangat para demonstran. 

Ketiga pemuda yang dijahit mulutnya tidak menunjukkan rasa sakit, tapi justru bersemangat dalam orasi. 

Koordinator Lapangan (Korlap) Joshua Sitorus menjelaskan bahwa pihaknya melakukan aksi jahit mulut sebagai bentuk simbolis. 

"Kita lihat betapa kuatnya militer membungkam suara-suara sipil. Sementara sipil enggak punya senjata, sipil cuman punya suara dan pikiran kritis," kata Joshua.

"Mereka dibungkam dengan laras senjata dan budaya militer yang coba sama-sama masuk ke ruang sipil," terusnya.

Baca juga: Prabowo akan Resmikan RS KH. Muhammad Thohir, Pertama Program PHTC di Lampung

Pihaknya menjelaskan menjahit mulut menggambarkan situasi hari ini di Indonesia, situasi realitas Indonesia betapa otoriter rezim Prabowo.

"Enggak terbatas pada simbolis ini saja, tetapi kita harus mengkritisi hari ini rakyat sedang susah, tapi di sisi lain Prabowo sukacita pastikan di ruangan berAC," paparnya.

Sementara di sisi lain ada rakyat yang harus mengamen di jalan, dan ada anak muda yang tidak dapat kepastian pekerjaan. 

"Ini situasi riil hari ini semuanya dan kita enggak bisa dibungkam saat melihat situasi rakyat hari ini," kata Joshua. 

Termasuk poin kenaikan harga Pertamax hari ini yang menyentuh angka Rp 16.650 per liter. 

"Mungkin hari ini memang tahap baru, tapi kita enggak tahu gitu kan ke depannya dengan situasi misalnya melemahnya kurs rupiah terhadap dolar," paparnya.

Hingga ketergantungan minyak impor dan mungkin APBN Indonesia tidak bisa lagi menampung subsidi-subsidi untuk BBM.

"Mungkin bisa saja besok Pertalite juga naik dan harapan kami kalau Prabowo tidak bisa menghadapi ini ya semoga saja terjadi," ucanya.

Baca juga: Harga BBM Pertamax Naik, Kelas Menengah Dinilai Paling Terdampak, Pengeluaran Rumah Tangga Terasa

Adapun tuntutan utama dari aksi yang digelar di antaranya urgensi untuk menerapkan pajak kekayaan. 

"Kenapa pajak kekayaan?, karena kita tadi sudah jelasin dalam beberapa orasi, kita lihat bahwa ketimpangan Indonesia ini semakin riil," bebernya.

Ada data yang mengatakan bahwa 10 persen sekelompok orang oligarki, menguasai 70 persen kekayaan nasional. 

"Tapi kita tahu bersama prinsip negara itu adalah urgensi untuk menerapkan pajak kekayaan alam ini untuk semuanya bukan hanya segelintir orang saja," kata Joshua. 

"Itu urgensi dipajaki orang kaya, kemudian pada tujuan LMND berdiri untuk mendukung pendidikan gratis dan demokratis," lanjutnya. 

Kondisi real ada kebutuhan ekonomi, angka partisipasi kasar (APK) orang kaya mendapatkan pendidikan lebih tinggi dibandingkan rakyat miskin. 

"Hentikan militerisasi ruang sipil, bagaimana keterlibatan militer semua dengan militer dibungkam. Rakyat marah dengan kondisi rupiah melemah, program presiden harus dievaluasi," ujarnya.

Baca juga: Pidato Lengkap Prabowo di Munas XVII HIPMI: Ungkit soal Kunker ke Luar Negeri hingga Mobil Dinas

Sementara itu, Dzaki Oktarian, peserta aksi jahit mulut melalui speaker yang lebih dulu direkamnya mengatakan, dirinya hadir sebagai mahasiswa dalam aksi ini karena kecintaan dan kepeduliannya terhadap rakyat negeri ini. 

"Kami merasa suara-suara dan kritik-kritik yang disampaikan selama ini tidak benar-benar ditanggapi dan didengarkan. Yang ada justru pembungkaman, kekerasan, tekanan, bahkan berbagai bentuk penindasan," kata Dzaki. 

Dirinya merasa negeri ini bukan lagi berjalan sebagaimana semangat demokrasi yang seharusnya. 

"Karena itu pada aksi hari ini saya memilih untuk diam, menutup mulut, dan menjahit mulut saya sebagai bentuk simbolik. Saya melakukan ini karena sudah merasa sesak dengan kondisi yang terjadi dan dengan demokrasi yang selama ini selalu digaungkan," ujarnya.

Pihaknya berharap pemerintah menyadari bahwa kritik memang diperlukan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. 

"Kami juga masih memiliki harapan bahwa melalui aksi kolektif dan gerakan progresif, perubahan yang diharapkan masyarakat dapat terwujud," kata Dzaki. 

"Hidup mahasiswa, hidup rakyat, dan teruslah melawan. Salam pembebasan," tukasnya.

(Tribunlampung.co.id/Bayu Saputra)  

Artikel ini telah tayang di TribunLampung.co.id dengan judul 3 Pemuda Jahit Mulut Saat Prabowo ke Lampung, Soroti Kondisi Rakyat dan Demokrasi

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribun Lampung
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 02:00 WIB
Mexico
Meksiko
VS
South Africa
Afrika Selatan
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 09:00 WIB
South Korea
Korea Selatan
VS
Czechia
Ceko
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved