Pelabuhan di Daerah Bersiap Hadapi Peningkatan Arus Kapal dan Ancaman Kenaikan Biaya Operasional
Lonjakan arus kapal dan perdagangan tekan layanan pelabuhan, biaya logistik terancam naik akibat pelemahan rupiah.
"Pelabuhan Teluk Bayur adalah pintu gerbang Sumatera Barat. Karena itu kami ingin menghadirkan fasilitas yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan pelaku usaha," katanya.
Rachmad Wijaya menambahkan seluruh transaksi di area parkir dilakukan secara digital dan non-tunai.
"Dengan adanya area parkir ini, kita membantu Pemko Padang meningkatkan PAD. Ada kontribusi pajak parkir sebesar 10 persen. Yang juga penting, seluruh transaksi dilakukan secara cashless dan digital, sehingga tidak ada ruang untuk pungli," ujarnya.
Baca juga: Purbaya Temukan 3.100 Kontainer Barang Impor Menumpuk di Pelabuhan Tanjung Priok
Pelemahan Rupiah Jadi Perhatian Pelaku Logistik
Selain tantangan operasional, pelaku usaha pelayaran juga mencermati dampak pelemahan rupiah terhadap biaya operasional.
Dalam beberapa waktu terakhir, nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp18.000 per dolar AS menimbulkan kekhawatiran karena sejumlah kebutuhan operasional sektor maritim masih bergantung pada komponen impor, seperti bahan bakar, mesin, dan suku cadang.
General Manager Pelindo Regional 4 Makassar, Iwan Sjarifuddin, mengatakan dampak pelemahan rupiah belum terlalu terasa bagi operator yang masih menggunakan BBM bersubsidi.
“Kalau setahu saya untuk pelayaran seperti kapal Pelni dan lain-lain itu menggunakan BBM bersubsidi. Jadi sepanjang BBM bersubsidi, menurut saya tidak akan terjadi kenaikan,” kata Iwan.
Meski demikian, ia menilai operator yang menggunakan BBM non-subsidi berpotensi menghadapi peningkatan biaya.
“Kalau yang tidak bersubsidi, saya kira akan naik. Karena kita tidak bisa membendung harga BBM. Harga minyak di pasar internasional sekarang meningkat,” ujarnya.
Menurut Iwan, ketergantungan Indonesia terhadap impor energi membuat dampak pelemahan nilai tukar sulit dihindari.
“Biar bagaimana pun pasti kita mendapatkan imbasnya, karena kita adalah net importer. BBM itu kita impor dari luar. Nah, itu jelas akan mempengaruhi harga yang ada di dalam negeri,” jelasnya.
“Kenaikan nilai dolar ini berarti melemahnya mata uang kita. Sehingga nanti memperbesar biaya yang harus kita keluarkan, khususnya untuk barang-barang impor. Dalam hal ini kita masih banyak membutuhkan BBM impor dan permesinan yang lain-lain juga masih banyak impor,” katanya.
Hingga kini, Pelindo masih menunggu arahan lebih lanjut terkait langkah yang akan diambil untuk merespons tekanan nilai tukar tersebut.
“Untuk sementara di Pelindo kami menunggu petunjuk dari kantor pusat. Nanti kantor pusat tentu akan menyesuaikan dengan regulasi atau aturan yang ditetapkan pemerintah,” ujar Iwan.
“Kami masih menunggu kabar, apakah nanti ada perubahan atau tidak terhadap kegiatan yang ada,” tambahnya.