Gempa di Sulteng
Update Gempa M 6,7 Sulteng: 466 Gempa Susulan, RS Evakuasi Pasien dan Sekolah Belajar Daring
Gempa M 6,7 guncang Sulteng, 466 susulan tercatat, warga waspada, sekolah daring, rumah sakit evakuasi pasien.
Dalam rekaman tersebut juga terlihat seorang pasien pria yang masih terpasang infus menjalani perawatan di luar gedung rumah sakit sebagai langkah antisipasi apabila gempa susulan kembali terjadi.
Evakuasi dilakukan demi menjaga keselamatan pasien, keluarga pasien, dan tenaga kesehatan yang bertugas.
RSUD Torabelo Tetap Layani Korban Gempa
Di Kabupaten Sigi, RSUD Torabelo memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan meski sejumlah fasilitas mengalami kerusakan ringan akibat gempa.
Kepala Bagian Humas RSUD Torabelo, Aminuddin, mengatakan seluruh tenaga kesehatan dalam kondisi aman. Hanya satu perawat di ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU) yang mengalami luka ringan dan telah mendapatkan penanganan medis.
"Pada dasarnya pasien yang masuk kategori luka berat mengalami luka di bagian kepala dan patah tulang. Namun berdasarkan keterangan dokter jaga di IGD, saat ini terdapat tujuh pasien yang masih masuk kategori luka berat dan sedang menjalani perawatan. Sementara korban lainnya dikategorikan mengalami luka sedang," ujar Aminuddin.
Menurutnya, sebagian pasien memilih menjalani perawatan di tenda darurat yang telah disiapkan pihak rumah sakit karena masih khawatir terhadap gempa susulan.
"Pelayanan tetap berjalan seperti biasa. Memang ada beberapa pasien yang saat ini dirawat di dalam tenda yang telah disiapkan rumah sakit karena mereka merasa lebih aman dan khawatir akan adanya gempa susulan," katanya.
Pemeriksaan pascagempa menunjukkan sebagian besar ruang pelayanan di RSUD Torabelo masih aman digunakan. Meski demikian, sejumlah kerusakan ringan ditemukan di beberapa ruangan, mulai dari tabung oksigen yang terjatuh, regulator yang rusak, hingga retakan pada dinding dan plafon bangunan.
Polda Sulteng Perkuat Sistem Pelaporan Bencana
Di tengah situasi tanggap darurat, Polda Sulawesi Tengah juga memperkuat sistem pelaporan dan penanganan bencana guna meningkatkan respons cepat terhadap berbagai potensi kejadian di lapangan.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabidhumas) Polda Sulawesi Tengah, Kombes Pol Djoko Wienartono, menegaskan pentingnya kesiapsiagaan seluruh jajaran kepolisian dalam menghadapi ancaman bencana alam.
Penegasan tersebut disampaikan saat memberikan arahan dalam apel satuan kerja (Satker) di lingkungan Polda Sulawesi Tengah, Rabu (17/6/2026).
Dalam arahannya, Djoko meminta seluruh personel, khususnya yang bertugas pada fungsi kehumasan mulai dari tingkat Polsek, Polres hingga Polda, untuk selalu siap mengumpulkan dan menyampaikan data kejadian bencana secara cepat, akurat, dan berjenjang.
"Setiap kejadian bencana yang terjadi di wilayah hukum masing-masing harus segera dilaporkan. Data awal harus sudah dapat diterima dari tingkat Polsek untuk kemudian diteruskan ke Polres dan Polda, sehingga informasi yang diterima pimpinan dapat digunakan sebagai dasar langkah penanganan yang cepat dan tepat," tegas Kabidhumas.
Menurut Djoko, laporan harus memuat informasi lengkap mulai dari lokasi kejadian, waktu kejadian, jumlah korban, kerusakan fasilitas umum maupun rumah warga, hingga langkah penanganan yang telah dilakukan personel di lapangan.
Ia juga mengingatkan agar dokumentasi berupa foto dan video menjadi bagian penting dalam pelaporan untuk mempercepat proses verifikasi dan pengambilan keputusan.