Virus Corona

Wanita dengan HIV Terpapar Covid-19 selama 216 Hari, Virus di Tubuhnya Bermutasi Setidaknya 30 Kali

Seorang wanita dengan HIV terinfeksi virus corona selama 216 hari, di mana virus tersebut bermutasi setidaknya 30 kali dalam tubuhnya

Penulis: Tiara Shelavie
Editor: Gigih
Guillem Sartorio / AFP
Dua perawat terlihat di sebelah mesin yang memeriksa kadar oksigen seorang pasien yang terinfeksi COVID-19 di bangsal nomor 20 Rumah Sakit Tembisa di Tembisa, Afrika Selatan pada 2 Maret 2021. Seorang wanita dengan HIV terinfeksi virus corona selama 216 hari, di mana virus tersebut bermutasi setidaknya 30 kali dalam tubuhnya 

TRIBUNNEWS.COM - Seorang wanita dengan HIV terinfeksi virus corona selama 216 hari, di mana virus tersebut bermutasi setidaknya 30 kali dalam tubuhnya, menurut sebuah studi terbaru.

Laporan studi tersebut, yang belum ditinjau oleh rekan sejawat, diterbitkan dalam bentuk pracetak di medRxiv pada hari Kamis (3/6/2021) .

Wanita yang tidak disebutkan namanya itu diidentifikasi sebagai wanita berusia 36 tahun yang tinggal di Afrika Selatan.

Virus-virus corona dalam tubuhnya mengumpulkan 13 mutasi pada protein lonjakan, yang diketahui membantu virus lolos dari respons imun, dan 19 mutasi lain yang dapat mengubah perilaku virus.

Tidak jelas apakah mutasi yang dibawanya diturunkan ke orang lain, Los Angeles Times melaporkan.

Baca juga: Mutasi Baru Covid-19 Terdeteksi di Vietnam, Diyakini Kombinasi dari Varian India-Inggris

Baca juga: Pasien Covid-19 di India Pulang ke Rumah setelah Dinyatakan Meninggal, Keluarga Kaget

Dua perawat terlihat di sebelah mesin yang memeriksa kadar oksigen seorang pasien yang terinfeksi COVID-19 di bangsal nomor 20 Rumah Sakit Tembisa di Tembisa, Afrika Selatan pada 2 Maret 2021.
Dua perawat terlihat di sebelah mesin yang memeriksa kadar oksigen seorang pasien yang terinfeksi COVID-19 di bangsal nomor 20 Rumah Sakit Tembisa di Tembisa, Afrika Selatan pada 2 Maret 2021. (Guillem Sartorio / AFP)

Beberapa mutasi terlihat dalam varian yang menjadi perhatian, seperti:

- Mutasi E484K, yang merupakan bagian dari varian Alpha (B.1.1.7, yang pertama kali ditemukan di Inggris).

- Mutasi N510Y, yang merupakan bagian dari varian Beta (B.1.351, yang pertama kali ditemukan di Afrika Selatan).

"Jika lebih banyak kasus seperti itu ditemukan, ada kemungkinan bahwa infeksi HIV dapat menjadi sumber varian baru hanya karena pasien dapat membawa virus lebih lama," ungkap penulis studi Tulio de Oliveira, seorang ahli genetika di University of KwaZulu-Natal di Durban kepada LA Times.

"Tapi itu mungkin pengecualian, karena infeksi yang berkepanjangan membutuhkan immunocompromise yang parah," ujar Dr. Juan Ambrosini, seorang profesor penyakit menular di University of Barcelona, kepada Insider.

Memang, wanita dalam studi kasus itu mengalami imunosupresi.

"Temuan ini penting untuk pengendalian COVID-19 karena pasien ini dapat menjadi sumber penularan dan evolusi virus yang berkelanjutan," kata Ambrosini.

Halaman
12
Sumber: TribunSolo.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved