Selasa, 5 Mei 2026

Komet 3I/Atlas Ukurannya Setengah Matahari, Bahayakan Bumi? Ini Kata Astronom BRIN

Komet 3I/Atlas sempat viral disebut kapal alien. Benarkah berbahaya? Ini penjelasan ilmuwan BRIN dan NASA.

Tayang:
Penulis: willy Widianto
NASA, ESA, David Jewitt (UCLA); Pemrosesan gambar: Joseph DePasquale (STScI)
KOMET 3I/ATLAS - Teleskop Hubble menangkap gambar komet antarbintang 3I/ATLAS ini pada 21 Juli 2025, ketika komet tersebut berada pada jarak 277 juta mil dari Bumi. Gambar dari Hubble menunjukkan bahwa komet tersebut memiliki selubung debu berbentuk tetesan air mata yang berasal dari inti padat dan bekunya. 
Ringkasan Berita:
  • Komet 3I/Atlas sempat viral disebut kapal alien, ilmuwan beri klarifikasi.
  • Ukurannya setengah diameter matahari, kecepatannya 215.000 km/jam.
  • BRIN dan NASA tegaskan: tidak membahayakan bumi, bukan wahana luar angkasa.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTAKomet raksasa 3I/Atlas tengah melintas dekat matahari dengan kecepatan tinggi.

Fenomena langit ini sempat memicu spekulasi publik, bahkan viral di media sosial karena disebut-sebut sebagai kapal induk alien. 

Bentuknya yang masif dan berasal dari luar tata surya membuat banyak orang bertanya-tanya: apakah komet ini berbahaya bagi bumi?

Sebelum menjawab pertanyaan itu, mari kenali dulu apa itu komet dan karakter unik dari 3I/Atlas.

Komet adalah objek langit yang terdiri dari es, gas, dan debu, biasanya berasal dari wilayah luar tata surya. Saat mendekati matahari, komet memanas dan melepaskan gas serta partikel, membentuk kepala bercahaya (disebut koma) dan ekor yang menjauh dari matahari. Fenomena ini membuat komet tampak terang dan mudah dikenali saat melintas.

Salah satu komet yang menarik perhatian ilmuwan dan publik belakangan ini adalah 3I/Atlas, sebuah objek antarbintang yang tengah melintas dekat matahari.

Komet ini pertama kali terdeteksi oleh teleskop ATLAS (Asteroid Terrestrial-impact Last Alert System) pada 1 Juli 2025.

Kode “3I” menunjukkan bahwa ini adalah objek interstellar ketiga yang pernah terdeteksi memasuki tata surya, setelah 1I/ʻOumuamua (2017) dan 2I/Borisov (2019).

Huruf “I” merujuk pada “interstellar” atau antarbintang, sedangkan “ATLAS” adalah nama teleskop penemunya.

Komet 3I/Atlas memiliki orbit hiperbola, berbeda dari kebanyakan komet yang mengorbit secara elips.

Artinya, komet ini hanya melintas satu kali dan tidak akan kembali ke tata surya.

Baca juga: Para Astronom Mengonfirmasi Kalau Planet Bumi Saat Ini Punya Dua Bulan

Menurut Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika BRIN, Thomas Djamaluddin, komet ini berasal dari sistem planet di bintang lain yang berada di galaksi Bima Sakti.

Usianya diperkirakan sekitar 7 miliar tahun, lebih tua dari tata surya yang berumur 4,5 miliar tahun.

Secara fisik, komet ini memiliki koma (kepala komet) berisi gas dan debu dengan diameter sekitar 25.000 kilometer, dua kali ukuran bumi.

Estimasi terbaru bahkan menyebutkan bahwa diameter gas karbon dioksida (CO₂) di kepala komet mencapai 700.000 kilometer, atau setengah diameter matahari dan lima kali diameter planet Jupiter.

Kecepatan komet ini mencapai 215.000 kilometer per jam. Namun, selama Oktober hingga November 2025, posisinya berada di arah matahari sehingga tidak bisa diamati dari bumi.

“Desember baru bisa diamati lagi sebelum makin redup karena menjauh,” ujar Thomas saat dikonfirmasi Tribunnews, Sabtu (1/11/2025).

Saat mencapai perihelion—titik terdekat dengan matahari—komet mengalami pemanasan maksimum. Para astronom berharap akan muncul karakteristik fisik baru pasca-perihelion yang bisa memperkaya kajian ilmiah tentang objek antarbintang.

Spekulasi publik soal dugaan wahana alien sempat ramai di media sosial dan bahkan diberitakan oleh sejumlah media luar negeri. Namun, para ilmuwan menegaskan bahwa klaim tersebut tidak berdasar secara ilmiah.

“Astronom tidak akan berspekulasi tentang objek langit di luar interpretasi fisis hasil observasi: objek 3I/Atlas adalah komet raksasa dari luar tata surya, bukan wahana alien,” tegas Thomas.

KOMET 3I/ATLAS - Diagram lintasan komet antarbintang 3I/ATLAS saat melintasi tata surya. Komet ini akan mencapai jarak terdekatnya dengan Matahari pada bulan Oktober. (NASA)
KOMET 3I/ATLAS - Diagram lintasan komet antarbintang 3I/ATLAS saat melintasi tata surya. Komet ini akan mencapai jarak terdekatnya dengan Matahari pada bulan Oktober. (NASA) (NASA)

Penjelasan serupa disampaikan oleh NASA (National Aeronautics and Space Administration), badan antariksa milik pemerintah Amerika Serikat (AS).

Gambar dari Teleskop Hubble menunjukkan bahwa komet memiliki selubung debu berbentuk tetesan air mata yang berasal dari inti padat dan beku.

Tidak ditemukan indikasi teknologis atau pola buatan yang mengarah pada dugaan wahana luar angkasa.

“Tidak berbahaya kepada bumi atau planet-planet lainnya di tata surya,” jelas Thomas.

Komet 3I/Atlas bukan ancaman bagi bumi. Ia menjadi pengingat bahwa semesta menyimpan banyak misteri yang bisa dijelaskan jika kita mau mengamati, bukan berspekulasi.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved