Senin, 25 Mei 2026

Pemilu 2019

Kisruh Pemilu Luar Negeri, Sandiaga Uno dan Ketua MPR Minta KPU Sikapi dengan Serius

Calon presiden nomor urut 02 Sandiaga Uno dan Ketua MPR Zulkifli Hasanmeminta KPU menyikapi permasalahan kisruh pemilu luar negeri dengan serius.

Tayang:
Penulis: Fitriana Andriyani
Editor: Natalia Bulan Retno Palupi
KOMPAS.com/JESSI CARINA
Ketua Majelis Permusyarawatan Rakyat (MPR) Zulkifli Hasan menerima calon wakil presiden nomor urut 02 Sandiaga Uno di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (16/4/2019). 

TRIBUNNEWS.COM - Calon presiden nomor urut 02 Sandiaga Uno dan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Zulkifli Hasan tanggapi kekisruhan yang terjadi dalam Pemilu Luar Negeri.

Keduanya meminta Komisi Pemilihan Umum (KPU) menyikapi permasalahan kisruh pemilu ini dengan serius.

Sandiaga Uno mengatakan, gelombang kekecewaan atas pelaksanaan Pemilu 2019 di luar negeri harus diperhatikan oleh penyelenggara pemilu.

Sandiaga mengatakan masyarakat menginginkan pemilu yang adil dan jujur.

"Ini esensi daripada demokrasi bahwa rakyat itu menginginkan pemilu yang jurdil, pemilu yang betul-betul bisa menghadirkan kepercayaan yang besar," ujar Sandiaga di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (16/4/2019) dilansir Kompas.com.

Baca: Pemilu 2019 di Luar Negeri: dari Kisruh hingga Bangga

Baca: Sandiaga Berharap Kisruh Pemilu di Luar Negeri Ditindaklanjuti

Baca: Tanggapi Kisruh Pemilu Luar Negeri, Zulhas: Harus Mendapat Perhatian Serius KPU

Sandiaga mengaku belum mengetahui secara detil duduk permasalahan polemik pencoblosan di luar negeri ini.

Hal ini karena sejak memasuki masa tenang, dia langsung melaksanakan ibadah umroh.

Namun, apapun masalahnya, kata dia, Komisi Pemilihan Umum (KPU) harus mengatasinya dengan tuntas.

Sebab ini juga akan memengaruhi kepercayaan publik atas pelaksanaan pemilu di dalam negeri.

"Karena besok penting sekali, itu kan 17 April. Kalau refleksi di luar negeri seperti itu, jangan sampai di dalam negeri kita mengalami hal yang sama," kata dia.

Sementara itu, Zulkifli Hasan meminta Komisi Pemiluhan Umum (KPU) menyelesaikan masalah ini sampai tuntas.

"Tentu ini perlu mendapat perhatian serius dari penyelenggara pemilu khususnya KPU.

Saya lihat di Australia, Hongkong, Singapura, Malaysia, orang kok sampai begitunya," ujar Zulkifli di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (16/4/2019) dilansir Kompas.com.

Baca: MPR: Kisruh DPT Akibat Mismanajemen Sistem Kependudukan

Baca: Kisruh Pemilu di Luar Negeri: Ribuan WNI di Sydney Golput dan Kericuhan saat BTP Nyoblos di Jepang

Zulkifli juga meminta KPU untuk mengevaluasi pemilu di luar negeri agar menjadi pembelajaran.

Ia menilai kekisruhan yang terjadi dalam pemilu luar negeri dapat menjadi bahan evaluasi untuk penyelenggaraan pemilu di Indonesia.

Zulkifli pun berharap agar pelaksanaan Pemilu 2019 di dalam negeri, Rabu (17/4/2019) besok dapat berjalan dengan lebih baik dari pemilu di luar negeri.

"Ini tentu jadi evaluasi nantinya. Oleh karena itu mumpung besok akan ada hajatan besar setanah air, harus bersiap lebih baik," kata dia.

Berbagai kendala terjadi di beberapa negara dalam penyelenggaraan pemilu luar negeri.

Berikut permasalahan yang terjadi dalam pemilu luar negeri di beberapa negara.

Baca: Ekskusif dengan dua Komisioner KPU Tentang Pencoblosan di Luar Negeri: Meriah, Antusiasme Pemilih

Baca: 74 Ribu WNI di Luar Negeri Kembali ke Indonesia Jelang Pencoblosan Pemilu 2019

1. Ratusan WNI di Syndey, Australia terpaksa golput

Ratusan WNI di Sydney batal memilih alias golput dan massa membeludak.

Heranudin, Ketua Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) Sydney mengatakan pihaknya telah melaporkan hal itu ke KPU.

"Kami sudah melaporkan soal ratusan WNI yang tidak bisa mencoblos ke KPU," ujar Heranudin.

Lebih dari 3.000 WNI pun telah menandatangai petisi mendesak dilakukannya pemilu ulang.

Mengenai pengadaan petisi ulang, Heranudin mengaku pihaknya menunggu keputusan dari KPU pusat.

"Kami sudah melaporkan soal ratusan WNI yang tidak bisa mencoblos ke KPU."

Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Ilham Saputra mengatakan pemungutan suara yang bertempat di Town Hall, Sydney, Australia, terkendala waktu penyewaan gedung.

Ilham menjelaskan, pemungutan suara dan penyewaan gedung berakhir pukul 18.00 waktu setempat, sehingga tak dapat dilanjutkan.

"Sydney itu kan jam 6 sore ternyata masa menyewa Town Hall itu sampai jam 6 sore."

"Sehingga tidak bisa dilanjutkan."

Baca: Ratusan WNI di Sydney Australia Terpaksa Golput, KPU Pertimbangkan Pemilu Susulan

Baca: KIPP Sebut Pemilih tak Dapat Menggunakan Haknya di TPS Sydney Akibat tidak Akuratnya Data Pemilih

2. Kericuhan saat Ahok/BTP mencoblos di Osaka Jepang

Minggu (14/4/2019) mantan Gubernur DKI Jakarta yakni Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok atau BTP telah menggunakan hak pilihnya di Osaka, Jepang.

Kesalahpahaman terjadi antara Ahok/BTP dan petugas TP di Osaka.

Ahok/BTP merasa kesal kepada seorang saksi pasangan calon nomor urut 02 dan menyebutnya sebagai oknum.

Saksi pasangan calon nomor urut 01, Vera Kurniawati menjelaskan bahwa peristiwa tersebut dipicu kesalahpahaman.

“Jadi pak Ahok awalnya sudah mengantri, kemudian karena banyak yang minta foto akhirnya pak Ahok keluar, tempat mengantrinya di gantikan sementara sama temennya,” kata Vera bercerita kepada tribunnnews.com, Minggu (14/3/2019).

Sebelumnya para petugas dalam hal ini saksi sudah bersepakat untuk memberikan sisa surat suara kepada orang yang sudah mengantri.

“Tapi karena saksi dari paslon 02 tidak tahu kalau Pak Ahok sudah mengantri, sedikit ada kesalahpahaman,” ujarnya.

Ahok pun menjelaskan bila dirinya sudah mendaftar sejak Februari 2019 dan sudah melepas hak pilihnya di Indonesia.

Baca: Viral Video Ahok/BTP Marah-marah ke Petugas TPS di Jepang: Saya Terdaftar Pak, Beda!

Baca: Potret 5 Artis dan Publik Figur Ikut Pemilu Luar Negeri, Ahok di Jepang, El Rumi di Inggris

3. Surat Suara Tercoblos di Malaysia

Beredar video amatir yang menunjukan temuan surat suara sudah tercoblos di Selangor, Malaysia.

Surat suara itu disebut dimuat dalam puluhan kantong.

Dalam video tersebut juga nampak surat suara yang tercoblos tersebut dimasukkan ke dalam kantong-kantong Plastik berwarna hitam.

Anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Rahmat Bagja menegaskan, video surat suara tercoblos di Selangor, Malaysia, bukan berita bohong.

Kejadian ini ditemukan oleh petugas Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kuala Lumpur.

"Dari perbincangan yang ada ini bukan hoaks," kata Bagja saat dihubungi, Kamis (11/4/2019).

Baca: Update Kasus Surat Suara Tercoblos di Malaysia, Ini Pernyataan Polisi Diraja Malaysia

Baca: Tanggapi Suara Tercoblos di Malaysia, Fahri Hamzah Tulis Surat Terbuka untuk Mahathir Mohamad

(Tribunnews.com/Fitriana Andriyani)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved