Minggu, 31 Agustus 2025

Kisah Nadia Tilem: Tak Perlu Jadi Ahli untuk Memulai

Nadia meyakini langkah pertama untuk sukses adalah berani bertindak tanpa terlalu banyak berpikir atau berbicara.

Instagram @nadiatilem
Ida Ayu Anjani Tilem atau Nadia Tilem. 

TRIBUNNEWS.COM - Ida Ayu Anjani Tilem atau akrab disapa Nadia Tilem sukses di usia muda dengan pendapatan signifikan sebagai seorang konten kreator.

Nadia meyakini langkah pertama untuk sukses adalah berani bertindak tanpa terlalu banyak berpikir atau berbicara.

“Lakukan saja. Kalian tidak perlu menjadi ahli untuk memulai. Dengan memulai, kalian akan belajar dan merasakan hasilnya sendiri. Jangan biarkan omongan orang menghambat kalian,” kata Nadia.

Ia menambahkan, keberhasilan harus diraih dengan kombinasi kerja keras, ketekunan, dan pengembangan kemampuan.

Baca juga: Alasan Band Radja Gaet Vadel Badjideh Jadi Model Video Klip Lagu Apa Sih

Nadia Tilem kini menjadi inspirasi bagi banyak anak muda yang ingin sukses di dunia digital dan entrepreneurship.

Namun, sebelum sampai di fase tersebut, perjalanan Nadia tak semulus yang dibayangkan.

Ia pernah menempuh pendidikan di Singapore Nanyang Academy of Fine Arts selama satu setengah tahun, sebelum memutuskan untuk berhenti karena merasa jurusan seni yang dipilihnya tidak memberikan prospek karier yang jelas.

Awalnya, Nadia memilih jurusan seni atas keinginan sang ayah yang ingin dirinya menjadi seniman.

Namun, setelah menjalani studi, ia menyadari bahwa kualitas pendidikan seni di Singapura lebih unggul dalam fasilitas, tetapi kurang sebanding dengan kualitas pendidikan seni di Indonesia, seperti di Yogyakarta dan Bali.

“Edukasi seni di Singapura ternyata tidak sesuai ekspektasi saya. Meski fasilitasnya bagus, saya merasa kualitasnya masih lebih baik di Indonesia,” ungkap Nadia.

Walaupun tidak menyelesaikan pendidikannya, pengalaman tinggal di Singapura tetap memberikan banyak pelajaran berharga bagi Nadia.

Lingkungan yang kompetitif mengajarkan dirinya untuk menjadi tegas, sigap, cermat, dan memiliki semangat kompetisi yang sehat.

“Di Singapura, saya belajar tentang pentingnya ketepatan waktu dan efisiensi. Kalau kita janjian pukul 13.00, kita sudah harus tiba pukul 12.30. Itu sangat berbeda dengan budaya di Indonesia yang lebih santai,” ujar Nadia.

Sayangnya, Nadia tidak memiliki banyak kesempatan untuk mengikuti kompetisi seni karena kebanyakan hanya terbuka untuk warga lokal.

Namun, dari kompetisi entrepreneurship antar perguruan tinggi, Nadia menemukan passion baru dalam dunia marketing.

Halaman
12
Berita Terkait

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan