Jumat, 10 April 2026

Novel 'Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati' Angkat Isu Kesehatan Mental

Brian mengungkapkan bahwa kisah dalam novel ini terinspirasi dari pengalaman seorang teman semasa sekolah yang depresi dan ingin mengakhiri hidup.

Tribunnews.com/ Alivio
PELUNCURAN NOVEL - Penulis Brian Khrisna saat peluncuran novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati di Gramedia Matraman, Jakarta Pusat. Novel ini mengangkat isu kesehatan mental dan pentingnya menemukan harapan dalam hidup, Jumat (14/2/2025). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, M Alivio Mubarak Junior

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Karya terbaru penulis asal Bandung, Brian Khrisna, berjudul Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati, kini telah tersedia di toko buku Gramedia. 

Novel ini mengangkat isu kesehatan mental, sebuah topik yang semakin mendapat perhatian dalam beberapa tahun terakhir.

Brian mengungkapkan bahwa kisah dalam novel ini terinspirasi dari pengalaman seorang teman semasa sekolah yang mengalami depresi dan berkeinginan mengakhiri hidupnya. 

Dari pengalaman itu, ia juga mewawancarai sejumlah individu yang menghadapi depresi untuk kemudian menuangkannya dalam karya sastra.

Baca juga: Lewat Penerbit Kompas, Eks-Dubes RI di Jepang Rilis Novel Berlatar Misteri Tewasnya John F Kennedy

"Kisah-kisah yang saya temui sangat ironis, dan menurut saya penting untuk diangkat agar menjadi bahan diskusi banyak orang," kata Brian dalam sesi peluncuran novel di Gramedia Matraman, Jakarta, Jumat (14/2/2025).

Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati mengisahkan seorang pemuda bernama Ale yang mengalami kesulitan mental dan emosional. 

Ia merasa tidak berarti, kesepian, dan menjalani rutinitas kerja yang melelahkan tanpa tujuan yang jelas.

Setelah didiagnosis mengalami depresi akut, Ale berniat mengakhiri hidupnya. Namun, sebelum itu, ia memutuskan menikmati seporsi mie ayam, makanan favoritnya untuk terakhir kalinya. 

Perjalanan mencari mie ayam terbaik ini membawanya bertemu dengan berbagai orang yang memiliki kisah serupa. 

Dari interaksi tersebut, ia perlahan menyadari betapa berharganya kehidupan.

Brian menegaskan bahwa meski novel ini membahas kesedihan dan depresi, ia ingin menyampaikan pesan bahwa kesedihan adalah sesuatu yang valid dan tidak seharusnya diabaikan.

"Buku ini bisa dibaca oleh siapa saja, terutama mereka yang merasa kesepian, tak memiliki pencapaian, atau tengah mengalami depresi," ujarnya. 

"Saya ingin menunjukkan bahwa meskipun kesedihan itu nyata dan berat, selalu ada alasan untuk tetap hidup, meski hanya untuk satu hari lagi," lanjut Brian.

Ia juga menepis anggapan bahwa judul novelnya menormalisasi tindakan bunuh diri. 

Sebaliknya, novel ini menawarkan perspektif tentang daya hidup dan bagaimana seseorang dapat berjuang menghadapi depresi.

"Dengan membaca buku ini, saya berharap orang-orang yang tengah berjuang bisa menemukan secercah harapan dan berkomitmen untuk terus menjalani hidup," pungkasnya.

 

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved