Rabu, 20 Mei 2026

Beda Parenting Tegas dan Galak, Apa Dampaknya untuk Kesehatan Mental Anak?

Banyak orangtua masa kini mengaku kebingungan saat menjalani peran pengasuhan. Mau tegas tapi takut galak dan melukai mental.

Tayang: | Diperbarui:
TRIBUN JATENG/TRIBUN JATENG/HERMAWAN HANDAKA
Seiring bertambahnya usia anak, ada saja tingkah laku yang bisa menguji kesabaran, terkadang wajar bila satu atau dua tingkah bisa membuat emosi orang tua jadi terpancing, apalagi jika sang buah hati tidak bisa dinasihati dengan baik. Akan tetapi, perlu diingat bahwa memarahi, meneriaki, atau mungkin mengumpat anak bukanlah solusi yang tepat. Alih-alih ingin memahami maksud nasihat ibunya, anak malah bisa mengalami trauma psikis yang dapat mengganggu perkembangan mental dan kecerdasannya seperti, perkembangan otak anak terganggu, anak menjadi penakut dan tidak percaya diri, Menjadi sosok pemarah di kemudian hari dan anak mengalami depresi dan gangguan mental. Banyak orangtua masa kini mengaku kebingungan saat menjalani peran pengasuhan. Mau tegas tapi takut galak dan melukai mental. (Tribun Jateng/Hermawan Handaka) 

Ia mencontohkan situasi sederhana, seperti membangunkan anak untuk sekolah.

Orang tua boleh bersikap tegas, bahkan mengangkat anak dari tempat tidur jika sudah diingatkan berkali-kali, selama tidak disertai bentakan, ancaman, atau kekerasan fisik.

“Kalau menurut saya sih tegas ya. Jadi, kita sebagai orangtua tuh harus menerapkan disiplin anak. Jadwal jam berapa kamu harus bangun, sholat, kemudian berangkat sekolah, itu harus disampaikan ke anak,” jelasnya.

Ketegasan, lanjut Wiwik, justru membantu anak memahami struktur, tanggung jawab, dan konsekuensi secara sehat.

Anak belajar bahwa aturan yang disampaikan orang tua memang perlu dijalankan.

Parenting Galak dan Risiko pada Anak

Berbeda dengan tegas, parenting galak dinilai berisiko terhadap kondisi psikologis anak.

Wiwik menjelaskan bahwa galak biasanya muncul dalam bentuk kekerasan verbal maupun fisik, seperti membentak, berkata kasar, atau memukul.

Pola asuh seperti ini, menurutnya, tidak lagi relevan dan berpotensi menimbulkan luka psikologis jangka panjang.

“Kalau yang parenting galak itu dalam artian galak secara verbal ataupun secara fisik. Verbal ngomongnya bisa sambil misuh, atau fisik dengan memberikan kekerasan, itu yang tidak boleh sama anak,” tegas Wiwik.

Ia mengingatkan bahwa anak yang tumbuh dalam pola asuh keras cenderung patuh karena takut, bukan karena memahami alasan di balik aturan.

Dalam jangka panjang, hal ini dapat memengaruhi kepercayaan diri, regulasi emosi, hingga hubungan anak dengan orang tua saat remaja.


Anak Sulit Diatur, Benarkah?

Wiwik juga menanggapi anggapan yang sering muncul di masyarakat bahwa anak zaman sekarang lebih sulit diatur.

Dari sudut pandang psikologi, ia menilai label tersebut terlalu menyederhanakan masalah.

Menurutnya, perilaku anak sangat dipengaruhi oleh pola asuh di rumah.
Orang tua merupakan model utama yang ditiru anak sebelum lingkungan luar mengambil peran.

Anak belajar cara berkomunikasi, mengelola emosi, dan menyelesaikan masalah dari interaksi sehari-hari dengan orang tua.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved